Tesis HERI PURNAMA

BAB II

LANDASAN TEORI

A.        Memaknai Spiritualitas Agama

Secara etimologi spiritual atau spirit berarti semangat atau sebuah motivasi tinggi yang muncul dalam diri sesorang untuk melakukan sesuatu. ( Ananda Santoso, 1995 : 332 ). Dalam kamus besar bahasa Indonesia spiritual berarti Ruhani, roh atau jiwa. Yaitu sebuah kekuatan yang ada dalam diri manusia dalam bentuk tidak kasat mata yang diorientasikan pada sesuatu yang bersifat keinginan tertinggi. ( Heotomo, 2005 : 341 ).

Spiritualitas atau semangat beragama memiliki dimensi-dimensi tertentu yang menjadi dasar semangat beragamannya, yaitu kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat  ritual, perangkat kepercayaan dan praktek ritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri serta idiologi yang bersifat supranatural. ( Soerjono Soekanto, 1993 : 377 ). Oleh karena itu spiritualitas seseorang, dalam mengejawantahkan keyakinannya dalam beragama dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas spiritualitas seseorang bukan hanya terjadi ketika melakukan ibadah ritual saja ( ibadah vertikal ) tapi juga terjadi ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural dan interaksi sosial. Oleh karena itu spiritualitas dipandang mencakup berbagai dimensi kehidupan, termasuk kegiatan sosial dan politik.

Menurut Gerald O’collins, SJ dan Edward Ferrugia, SJ bahwa spiritualitas dalam agama meliputi system kepercayaan kepada Tuhan dan tanggapan manusia kepada Nya, termasuk kitab-kitab yang suci, pelaksanaan ritual suci dan praktek etis para penganutnya. ( Gerald O’Collins dan Edwrad Ferrugia SJ, 1996 : 17 ). Dalam Lexicon Universal Enyclopedia dijelaskan bahwa Spiritualitas dalam agama memiliki beberapa karakteristik yang menjadi dasar kehidupan dan prilaku keagamaan para pemeluknya. Karakteristik itu diantaranya adalah : (1) The Holy, yaitu suatu bentuk spiritualitas agama atau pengalaman keagamaan yang diekspresikan dalam bentuk yang suci. (2) response, yaitu respons the holy may take the form participation to the costums or relegius community, response terhadap sesuatu yang dianggap suci dengan ikut berpartisipasi pada komunitas yang relegius. (3) Beliefs, yaitu tradisi spiritualitas agama yang membangun sebuah sistem kepercayaan baik yang berkaitan dengan kepercayaan atau doktrin. (4) ritual, bahwa aspek spiritualitas dalam beragama didalamnya terdapat praktek-praktek ritual, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok, (5) Ethical code, yaitu spiritualitas yang berisi tentang etika-etika beragama dalam kehidupan sehari-hari, (6) Sosial aspect, yaitu spiritualitas yang memiliki aspek-aspek sosial. ( Lexicon Universal Enyclopedia, 1986 : 138 ).

  1. Dalam bukunya, American Piety the nature of Relegion commitment, C.Y Glok dan R. Stark, menyebutkan lima dimensi spiritualitas agama. Pertama, dimensi keyakinan. Dimensi ini berisikan pengharapan sambil berpegang teguh pada teologis tertentu. Kedua, dimensi praktek agama yang meliputi prilaku simbolik dari makna-makna spiritualitas agama yang terkandung di dalamnya. Ketiga, dimensi pengalaman keagamaan yang merujuk kepada seluruh keterlibatan subyektif dan individual dengan hal-hal yang suci dari satu keyakinan. Keempat dimensi pengetahuan agama, yaitu tingkat spiritualitas seseorang yang didukung oleh pengetahuannya tentang agama, ritus, kitab suci dan tradisi. Kelima dimensi konsekwensi yang mengacu kepada identifikasi akibat-akibat keyakinan, praktek, pengalaman dan pengetahuan dari hari kehari.    ( 1986 : 53-54 ).

Djamaludin Ancok kemudian menjelaskan secara rinci kelima aspek spiritualitas agama tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Ritual involvement, yaitu tingkatan sejauh mana mengerjakan kewajiban ritual didalam beragama. Seperti sholat, puasa, zakat.
  2. Idiological Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana seseorang dalam menerima hal-hal yang bersifat dogmatik dalam agama, seperti adanya malaikat, hari kebangkitan, Tuhan dan lain sebagainya.
  3. Intelelktual Involvement, yaitu sejauh mana pemahaman seseorang dalam mengetahui ajaran agamannya dan seberapa jauh akvititas dalam memenuhi pengetahuan agamanya.
  4. Experiental Involvement, yaitu dimensi yang menerangkan tentang pengalaman-pengalaman unik dan fenomenal yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya apakah seseorang pernah merasa bahwa doanya dikabul oleh Tuhan dan lain sebaginya.
  5. Consequensial Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana prilaku seseorang dimotifikasikan ajaran agamanya. Misalnya apakah seseorang telah menerapkan ajaranya agamanya dalam kehidupannya sehari-hari, apakah dia pergi menmengok tetangganya yaang sakit, menolong kaum fakir dan miskin dan lain-lain. ( Djamaluddin Ancok, 2001 : 77-81 )
  1. Dalam penelitian-penelitian sosiologi, spiritualitas keagamaan seseorang terbentuk karena beberapa faktor, diantaranya adalah ; Pertama, latar belakang pendidikan. Latar belakang pendidikan sejatinya ikut menentukan pembentukan spiritualitas keagamaan seseorang, lembaga pendidikan sebagai suatu sistem pendidikan ikut menentukan pembentukan spiritualitas seseorang dikarenakan ia ikut meletakkan dasar pengertian dan konsep moral. Apabila terdapat satu hal yang bersifat kontroversial pada umumnya seseorang akan mencari informasi lain untuk memperkuat sikap spiritualitasnya. Kedua, suasana kelompok, selanjutnya suasana kelompok juga ikut mempengaruhi terbentuknya sikap spiritualitas seseorang, seperti remaja mesjid, haraqah, madrasah atau pondok pesantren akan lebih banyak menerima doktrin atau ajaran-ajaran keagamaan, maka potensi spiritualitas tersebut akan lebih mudah berkembang. Ketiga, iklim ruhani. Keempat, iklim budaya. Kelima, pengaruh lingkungan, lingkungan juga memiliki peran penting dalam membentuk spiritualitas seseorang, lingkungan masyarajat yang memiliki aktifitas relegius akan lebih banyak memungkinkan terjadinya pembentukan spiritualitas yang lebih baik. Keenam, tekanan sosial. Dalam sejarah Islam misalnya jatuhnya kota Mekkah ditangan Nabi Muhammad, menyebabkan terjadinya pembentukan spiritualitas keagamaan yang sangat signifikan. ( Nico Syukur Dister, 1989 : 102-103 ).

Sedangkan spiritualitas sendiri untuk definisi yang bersifat umum sangat bersifat subyektif tergantung pada pemahaman dan persepsi penulisnya. Akan tetapi istilah spiritualitas dalam penulisan kali adalah lebih pada pemahaman tentang pusat terdalam manusia, dimana manusia memiliki keterbukaan terhadap sesuatu yang bersifat transenden, hal inilah yang coba penulis eksplorasi untuk menemukan seni  spiritualltas Islam dalam perspektif Muhammad Zuhri.

Spiritualitas Islam, esensinya adalah seperti yang sering diungkapkan dalam al Qur’an yaitu realisasi dari prinsip hidup yang bertauhid ( Meng Esakan Allah ) yakni mengenal dan memahami Allah Yang Satu. Akan tetapi pada kenyataannya Allah Yang Satu ini menciptakan ummat manusia dalam berbagai kecenderungan yang begitu majemuk, sehingga pengenalan terhadap Allah Yang Satu itu pun tumbuh dalam berbagai persepsi dan ekspresi, walaupun kesemuanya mengarah pada pendekatan menuju Allah.

Salah satu persepsi dan ekspresi spiritualitas Islam yang muncul dan kemudian melegenda dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam adalah tasawuf. Sebagai wujud spiritualitas Islam, tasawuf memanifestasikan diri dalam beragam bentuk kesenian, pemikiran serta kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya kaum muslim. Luasnya peredaran tasawuf ini, diakui atau tidak telah menciptakan proses dialog yang panjang antara inti ajaran tauhid dan berbagai kecederungan budaya lokal yang ada, kemudian pada gilirannya kelak mempengaruhi bentuk-bentuk tasawuf yang berkembang di pelbagai kawasan dunia Islam.

Keragaman bentuk itu, bukanlah sebuah perbedaan yang mengarah pada perpecahan melainkan dinamika berpikir ummat Islam yang luas dan lugas. Akan tetapi harus diakui keragaman itupun tak lepas dari pengaruh para figur-figur sufi terkemuka, seperti Ibn ’Araby, Al-Sadjali, ’Abd Qodir Djailani, Jalaludin Rumi, An Nafiri, Al Hallaj dan Imam Al Ghazali. Keberadaan para tokoh tersebut telah dikenal dan akui oleh banyak kalangan, yang telah berhasil membentuk corak tasawuf yang beragam, bahkan corak keberagamaan ummat Islam pada masanya. Dengan demikian spiritualitas Islam adalah satu sosok dengan beragam wajah.

Spiritualitas Islam senantiasa indentik dengan upaya menyaksikan Yang Satu, memahami Yang Satu, Tuhan dalam kemutlakan realitas Nya yang melampaui segala manifestasi dan determinasi, Sang Tunggal yang ditegaskan dalam Al Qur’an dengan nama Allah. Segala aspek Islam didasari oleh tauhid, sebagai prinsip sentral unitas atau keesaan. Puncak dari spiritualitas ini adalah menjalani hidup dan melakukan perbuatan yang senantiasa sejalan dengan kehendak Ilahi, mencintai Nya dengan segenap wujud, dan akhirnya mengenal Nya melalui pengatahuan integratif dan iluminatif.

Kedahsyatan spiritualitas Islam ini sempat digambarkan oleh Karen Amstrong, dalam bukunya yang fenomenal Sejarah Tuhan ( 2004 : 190 ), dengan mengatakan bahwa, Muhammad telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi bangsa Arab dan membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang sangat besar sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah berhasil mendirikan imperium sendiri. Padahal sebelumnya ketika Muhammad duduk berkhalwat di sebuah gua kecil hira semasa ibadah ramadhannya tahun 610, dia sangat tidak membayangkan kesuksesan paling fenomenal seperti itu.

Dalam perspektif dan pemikiran Muhammad Zuhri tentang spiritualitas Islam adalah buah pemikiran dan manifestasi tasawuf dalam memahami doktrin Islam yang universal dan komprehensip, orientasi kehidupan beragama dalam meraih derajat manusia untuk menjadi teman dialog Tuhan. Baginya spiritualitas Islam adalah moment pertemuan penting antara seorang hamba dengan Tuhannya dalam bentuk amal sholeh, yaitu sebuah pengabdian sepanjang masa dengan melayani setiap makhluk Tuhan tanpa jenuh, dan perintah untuk itu ada dalam setiap aktivitas keseharian manusia. Maka sudah menjadi keharusan manusia untuk selalu peka dalam menangkap setiap amr Tuhan yang datang kepadanya. Dalam kesempatan lain Muhammad Zuhri menjelaskan, yang dimaksud dengan spiritualitas adalah sisi esensial manusia yang hanya bisa tumbuh menjadi dewasa lewat prilaku yang bersifat eksistensial. Hal ini berbeda dengan prilaku pikiran, imajinasi atau khayalan manusia yang bisa saja mengembara kemana saja tanpa arah yang jelas. ( 2007 : 107 ).

Sayyed Husein Nasr dalam Eksiklopedi tematis Spirituaitas Islam, ( 2003 : xxxi ). mengatakan bahwa sumber utama bagi spiritualitas Islam adalah tasawuf. Dalam proses perjalanan sejarah spiritualitas Islam yang mengejawantah dalam praktek tasawuf terus terpelihara sampai sekarang, dengan munculnya beberapa aliran-aliran atau kelompok dalam tasawuf, disamping itu tasawuf merupakan proses penerapan spirit Islam yang paling efektif.

B. Makna Al Akhlak Al Karimah Dalam Islam

Seperti telah dimafhum, bahwa manusia adalah satu-satunya makkhluk Allah yang sangat baik dan sempurna bentuknya juga mulia posisinya dihadapan Tuhan, hal ini disebabkan karena manusia memiliki satu potensi besar yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah lainnya. Jika saja manusia tidak memiliki potensi itu maka dia akan sama saja dengan hewan atau tumbuh-tumbuhan. Sebagai makhluk mulia maka manusia memiliki kewajiban untuk memanifestasikan kemuliaan itu dalam kehidupannya sehari-hari, yaitu dengan akhlak yang mulia.

Dalam terminologi Islam, akhlak menjadi icon yang sangat penting dan vital. Bahkan diturunkannya Nabi Muhammad Saw sebagai rasul Allah adalah dalam rangka penyempurnaan akhlak manusia, seperti dalam salah satu sabdanya “ Sesungguuhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia “ ( HR. Bukhori Muslim ). Dalam salah satu firman Nya dalam al Qur’an surat al Qolam ayat 4, “ Sesungguhnya Muhammad engkau memiliki budi pekerti yang agung dan mulia “. Begitu juga dalam surat Al Ahzab ayat 21, Allah berfirman “ Sesungguhnya dalam diri Muhammad itu terdapat suri tauladan yang baik bagimu yaitu orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah pada kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah “. Dan masihn banyak lagi keterangan dalam Al Qur’an dan hadist yang menerangkan tentang betapa akhlak merupakan inti dari ajaran Islam. Dengan akhlak yang mulia manusia bisa survive di tengah-tengah kehidupan ummat manusia dan semesta, dan sebaliknya akhlak yang buruk akan membawa manusia pada kehinaan dan kehancuran.

Lapangan ilmu akhlak, secara khusus mendapat perhatian yang sangat besar dari seorang tokoh spiritual dan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali, dalam pandangan beliau hal ini disebabkan oleh karena prilaku manusia didalam mengeksplorasi dirinya sebagai makhluk mulia untuk kembali menjadi manusia mulia pula, sangat identik dengan prilaku dan tingkah lakunya selama memerankan diri sebagai manusia, jika saja dia memiliki prilaku dan akhlak yang buruk maka akan membuat dirinya hina dan jauh dari kemuliaan, lebih parah lagi jauh dari kemuliaan Allah Swt. Sehingga dalam beberapa tulisan di kitab-kitabnya yang meliputi berbagai bidang pengetahuan selalu ada saja hubungannya dengan pelajaran akhlak dan pembentukan budi pekerti manusia yang mulia.

Harus diakui, diantara perkara paling penting yang menjadi perbincangan ummat Islam secara umum serta menjadi pusat perhatian, pemikiran dan analisis tentang maksud suatu penciptaan dan kerasulan adalah masalah akhlak. Setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, yaitu yang telah menyatakan kesaksian secara benar, wajib memiliki akhlak yang mulia. Akhlak tersebut adalah akhlak Islam yang telah diajarkan Rasulullah Saw, beliau sendiri mendapatkannya dari petunjuk wahyu suci Allah Swt, yaitu sifat-sifat baik dan terpuji yang telah diajarkan Islam dan ditekankan kepada setiap muslim untuk memiliki dan menyandangnya.

Pengertian akhlak secara umum dapat dideskripsikan bahwa akhlak adalah sebuah sifat dan watak yang menggambarkan keadaan batin dan ruhani seseorang. Dengan kata lain yang berhadapan dengan kata akhlak, tunggalnya adalah khuluk adalah penampilan ( Khalk ). Pengertian paling umum kata penampilan adalah Khalk yaitu bentuk fisik. Apabila tampilan fisik seseorang terlihat rapih dan baik, maka ia dikatakan berpenampilan baik, dalam arti penampilan lahirnya. Seperti itu pula tampilan batin seseorang. Apabila ia tertata oleh berbagai sifat dan watak yang baik, maka ia akan berpenampilan batin yang baik, dalam kata lain ia memiliki akhlak yang baik. Tampilan batin inilah yang akan selalu dilihat oleh Allah Swt dan dalam tampilan batin ini pula seseorang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti. ( Syekh Umar bin Hafidz, 2008 : 22 ).

Gambaran diatas dalam perspektif kajian keislaman Imam Al Ghazali di realisasikan dengan sangat menekankan usahanya pada pembinaan akhlak dan ajaran tasawuf secara umum. Hal ini disebabkan persoalan etika dan moral adalah pokok pangkal segala krisis dan persoalan kemanusiaan yang terjadi dalam pergaulan keseharian, sekaligus juga menjadi pokok pangkal munculnya persoalan sosial, seperti keamanan, ketertiban dan kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat. Dalam usahanya menghidupkan kembali jiwa ajaran Islam dan tasawuf atau pada aspek akherat, tidak lain adalah sebagai imbangan dari keadaan dan kehidupan ummat yang sudah sangat jauh terlanjur mencintai kehidupan dunia dan melupakan kehidupan akherat. Kurang diperhatikannya aspek kehidupan dunia hal ini dikarenakan al Ghazali melihat masyarakatnya sudah hidup dalam kemewahan dan faham kebendaan. Sebaliknya dalam kehidupan intelektual, spiritual dan moral mereka mengalami krisis yang menngkhawatirkan. ( Hasan langgulung, 1986 : 190-191 ). Al Ghazali memilih jalan tasawuf dalam sejarah hidupnya sama sekali bukan karena memusuhi kehidupan duniawi dan hanya mencintai kehidupan akherat, akan tetapi untuk menciptakan keseimbangan antara keduanya.

Pemikiran Imam Al Ghazali tentang al Akhlak al Karimah, berdasarkan hasil kajian terhadap buku-buku yang dikarangnya dapat dideskripsikan tentang arti dan makna dari pemikiran beliau tentang akhlak yang mulia, diantaranya adalah sebagai berikut :

Al Ghazali memberikan pengertian tentang akhlak yaitu “ Al Khuluq “ Jamaknya adalah Al Akhlak , yang berarti ibarat ( sifat atau keadaan ) dari prilaku yang konstan ( tetap ) dan meresap dalam jiwa, daripadanya tumbuh perbuatan-perbuatan yang wajar mudah untuk dilakukan, tanpa harus menggunakan pemikiran atau pertimbangan.

Menurut pengertian diatas, arti dan makna akhlak menurut Imam Al Ghazali adalah harus mencakup dua syarat, yaitu : a) Perbuatan itu harus konstan, yaitu satu perbuatan yang dilakukan secara berulang dalam bentuk yang sama, sehingga menjadikan perbuatan itu sebagai kebiasaan sehari-hari (Habit Forming )

b) Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud dan refleksi dari jiwanya tanpa lagi pertimbangan dan pemikiran yang mendalam, yakni bukan karena adanya tekanan-tekanan dan paksaan dari fihak lain, atau juga bujukan-bujukan dan pengaruh lainnya yang bisa mempengaruhi sikap dan prilaku kehidupannya sehari-hari. ( Al Ghazali, 1994 : 163 ).

Norma-norma kebaikan dan keburukan akhlak jika ditinjau dari pandangan akal dan pikiran serta syariat ajaran Islam, maka akhlak yang sesuai dengan akal pikiran dan syareat ajaran Islam adalah akhlak yang mulia dan baik, sebaliknya akhlak yang tidak sesuai dengan akal pikiran dan syareat ajaran agama maka akan dinamakan akhlak yang sesat dan tidak baik serta menyesatkan ummat manusia di muka bumi.

Akhlak mulia dalam perspektif Imam Al Ghazali dan selalu beliau ajarkan kepada manusia adalah yang selalu berkenaan dengan upaya manusia untuk membahagiakan dirinya. Oleh karena itu untuk menentukan seseorang itu berakhlak mulia atau tidak, Imam Al Ghazali membuat kriteria khusus tentang akhlak mulia, dalam salah satu kitabnya Mihrab Kaum Arifin, yaitu :

Pertama, hati yang bersih dan suci dari yang selain Allah swt, hal ini tentu saja berdasarkan firman Allah Swt, yaitu : ” Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang suci ”. ( QS. Asy Syura : 89 ).

Kedua, Hati yang terpenuhi dengan makrifat Allah swt, yang menjadi tujuan utama diciptakannya alam dan diutusnya para rasul. Budi pekerti yang baik meliputi dua hal tersebut. Berkata baik adalah tauhid dan makrifah dan berbuat baik adalah merupakan kesucian hati yang tinggi sesuai kadar tauhid dan makrifahnya. Al Rif’ah ( Ketinggian ) dalam pandangan al Ghazali adalah hadirnya hati dan keterpengaruhannya oleh tauhid dan makrifahnya yang dimiliki, sehingga dapat menumbuhkan rasa tunduk, tenang dan haibah ( kehebatan yang terpadu dengan rasa takut dalam kondisi kesaksian ), ketika itulah seorang hamba berada dekat dengan Allah Swt. ( Al Ghazalli, 1994 : 164 ).

Ketiga, tawadhu ialah sikap mengendalikan prilaku ikhtiyari,                         ( berdasarkan kehendak ) sehingga tidak timbul sikap tafrith, disamping agar seseorang tidak bersikap takabbur atau pongah dan arogan. Pada hakekatnya tawaddhu adalah perasaan rendah hati, tunduk dan patuh menuju kepada Al Haq, yakni mendekat kepada Allah Swt dan menaati segala perintahnya.

Secara umum al mutawaddhi ( Orang yang tawaddhu ) adalah orang yang berakhlak dengan akhlak mulia. Dengan sikap tawaddhu ini, cukup bagi seseorang untuk mendapatkan tiket kemuliaan di akhirat nanti. Ini yang merupakan makna dari hadist Nabi Muhammad Saw, “ Barang siapa bertawaddhu karena Allah, maka Allah akan meninggikan dan memuliakannya ” ( HR. Bukhori Muslim )

Persoalan akhlak adalah juga merupakan persoalan yang paling urgens dalam ajaran Islam, hal-hal yang berkenaan dengan budi pekerti dan budi baik menjadi icon utama dalam setiap isi ajaran agama, bahkan para nabi sendiri diutus oleh Tuhan kemuka bumi dalam rangka membawa misi langit, yaitu membersihkan dan meluruskan batin ummat manusia dalam bersikap dan berprilaku yang mulia, baik antar sesama atau penghuni semesta. Hal ini menjadi penting karena kedamaian dan ketentraman kehidupan alam dan manusia sangat bergantung pada prilaku dan akhlak manusia itu sendiri.

Dalam perspektif Imam Al Ghazali, baik akhlak yang baik ataupun akhlak yang buruk, keduanya disebabkan oleh tiga sifat dasar manusia yang kemudian mempengaruhi seseorang dalam berprilaku, yaitu :

Pertama, akal dengan kekuatan dan kelurusannya yang dipengaruhi oleh ilmu dan hikmah. Hikmah adalah megetahui ( Aqidah ) dari haq dan yang bathil, mengetahui kata yang benar dari yang dusta dan memahami perbuatan yang baik dari yang buruk. Dengan kelurusan akhlak akan melahirkan kemampuan untuk mengatur dengan mendayagunakan pikiran dan pemahaman yang jernih terhadap pekerjaan atau perbuatan, serta mampu memahami rahasia godaan jiwa. Jika saja kekuatan akal dan ilmu ini telah dimiliki individu secara bagus maka dari padanya akan terproyeksikan buah hikmah dan hikmah inilah yang menjadi puncak segala perbuatan yang baik dan terpuji.

  1. ( Zaenudin, 1991 : 102 }

Kedua, kekuatan marah yang cenderung menolak bahaya, begitulah dia diciptakan. Marah akan menjadi lurus dan sempurna manakala dia di arahkan oleh hikmah, yaitu dengan cara mengetahui kapan dia harus marah dan kapan dia harus menahan untuk tidak marah, marah sebenarnya adalah seperti anjing yang terdidik dengan baik. Marah yang lurus dinamakan al syaja’ah ( Keberanian ), sifat berani kemudian akan melahirkan sikap murah hati, suka menolong, kuat menahan marah dan setia terhadap janji.

Ketiga, kekuatan syahwat yang dapat menghadirkan dan menarik manfaat, karena syahwat juga sebenarnya adalah ciptaan Tuhan, keberadaannya bisa taat kepada akal manusia, maka kebaikan dan kelurusan syahwat adalah jika syahwat dapat tunduk dan patuh kepada hikmah, akan tetapi jika saja syahwat keberadaannya liar dan tak dapat dikendalikan oleh hikmah maka yang akan muncul dalam diri manusia adalah prilaku dan perbuatan yang sama dengan binatang. ( Al Ghazali, 1994 : 165 ).

Berkenaan dengan akhlak mulia ini, bahwa sebenarnya yang dituntut dalam prilaku dan akhlak bagi manusia adalah sikap lurus dan moderat, seperti yang diungkap dalam salah satu firman Allah Swt, dalam surat al Isra’ ayat 29 :

Ÿwur ö@yèøgrB x8y‰tƒ »’s!qè=øótB 4’n<Î) y7É)ãZã㠟wur $ygôÜÝ¡ö6s? ¨@ä. ÅÝó¡t6ø9$# y‰ãèø)tFsù $YBqè=tB #·‘qÝ¡øt¤C ÇËÒÈ

Artinya : ” Dan janganlah kamu jadikan tanganmu itu terbelenggu kelehermu dan juga janganlah kamu lepaskan selepas-lepasnya. ( Departemen Agama RI, 1995 : 227 ).

Imam Al Ghazali memaknai atau mengibaratkan al Akhlak al Karimah dengan keindahan bentuk lahir manusia, yaitu kesempurnaan dengan realitas fisik manusia, yang bukan hanya keindahan dari kedua bola matanya, tapi juga adanya hidung, mulut, pipi leher dan seluruh anggota tubuh yang sempurna sehingga menjadi baik dan indah bentuk fisik manusia itu secara mutlak.

Al Ghazali menyatakan, seperti yang dikutip oleh Zaenudin dalam salah satu bukunya, ” Maka demikian pula keindahan batin itu meliputi empat unsur yang harus selalu baik seluruhnya. Jika keempat bagian itu telah tegak, seimbang dan serasi paduannya maka akan terwujudlah budi pelerti yang baik. Adapun keempat unsur itu adalah kekuatan ilmu, kekuatan godlob, kekuatan syahwat dan kekuatan adil yang berada diantara ketiga kekuatan tersebut. ( Zaenudin, 1991 : 102 ).

C.        KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

1.         Pengertian Pendidikan

Kalau mencermati agenda permasalahan universal yang dihadapi manusia dewasa ini, baik penindasan hak azasi, kemiskinan dan lebih-lebih keterbelakangan, maka diskursus yang paling menarik untuk dibahas adalah pendidikan. Pendidikanlah yang selama ini dan juga senantiasa paling bertanggung jawab untuk mengembannya. Kalau kemudian  menatap lingkup yang lebih  sempit, dalam skala Nasional, lebih kurang 27 juta penduduk Indonesia masih berkubang dalam kemiskinan, hak-hak buruh (utamanya yang memiliki pendidikan rendah) yang belum sepenuhnya dipenuhi, serta sumber daya manusia yang banyak memerlukan uluran ‘kebijakan dan saran’. Semua ini merupakan ‘pekerjaan rumah’ pendidikan yang tak kunjung usai.

Hal-hal yang telah disebutkan di atas memiliki kaitan dengan tema pokok tulisan ini. Barangkali perlu merefleksikan lagi bahwa Indonesia merupakan pusat konsentrasi umat Islam yang terbesar di dunia. Dengan demikian masalah-maslah yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah umat Islam juga. Masalah pendidikan di Indonesia sebenarnya juga masalah yang dihadapi oleh Pendidikan Islam. Paparan di atas, diharapkan menjadi pengantar mencermati persoalan klasik yang tetap tajam; sebagai sub sistem dari pendidikan Nasional, bagaimana eksistensi Pendidikan Islam di Indonesia; baik pada dataran yuridis formal maupun dalam realitas aktual. Atau, kalau ditelusuri lebih jauh, bagaimana Pendidikan Islam di Indonesia bergumul menghadapi problematikanya dan sudahkah ia mampu memenuhi kebutuhan (dan idealnya, selera) masyarakat kekinian Indonesia. Karena pendidikan Islam ’hanya’ sebagai sub-sistem, maka dalam kajian ini akan dipertimbangan dalam bingkai Pendidikan Nasional.

Sebelum penulis menguraikan bagaimana konsep pendidikan Islam di Indonesia, penulis perlu mengungkapkan pengertian pendidikan secara umum. Diantaranya adalah pengertian dari beberapa tokoh yang kompeten terhadap dunia pendidikan, Zuhairani misalnya, mendefinisikan pendidikan sebagai bentuk penanaman tabiat yang baik agar anak memiliki sifat yang baik dan berbudi utama. Dalam pendidikan yang lebih penting adalah segi pembentukan pribadi anak yang mulia. ( Zuhairani, 1983 : 27 ).

Ahmad. D. Marimba juga memberikan pengertian pendidikan sebagai bentuk bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani menusia menuju terbentuknya kepribadian yang utama. ( Ahmad. D. Marimba, 1987 : 19 ).

Menurut Hasan Hafizh dan Husein Al Qubbahi serta Najib Yusuf Badawi, dalam bukunya Ushulut Tarbiyah Wa Ilmun Nafsi mengatakan, bahwa Pendidikan adalah usaha menumbuhkan atau merubah tingkah laku anak dari segala aspeknya.  ( Hasan Hafizh, 1956 : 8 ).

Menurut Jhon Dewey, Education is thuse a fostering a nusturing, a cultivating process, all of these words mean that is implies attention to the  condition of growt. ( Jhon Dewey, 1964 : 10 ). Maksudnya, pendidikan adalah suatu proses pemelliharaan, pemberian asuhan dan pembinaan yang diarahkan pada perhatian terhadap pertumbuhan anak.

Sedangkan Endang Saefudin Anshori, memberikan pengertian  pendidikan yaitu :

  1. ( Endang Saefudin Anshori, 1986 : 184 ).

Sayyed M. Al Naquib Al Attas, memberikan pengertian pendidikan seperti yang terungkap dalam tulisannya ” Education is proses of instilling something in to human being ” ( Al Attas, 1980 : 13 ). Maksudnya adalah pendidikan sebagai sebuah proses untuk mengajarkan atau menanamkan sesuatu kedalam diri seorang anak manusia..

Tokoh pendidikan Indonesia yang cukup fenomenal dan menjadi symbol pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut :

” Pendidikan diartikan sebagai daya dan upaya untuk memberikan tuntunan-tuntunan kepada segala sesuatu kekuatan qudrat yang ada pada diri anak-anak, agar mereka menjadi baik sebagai manusia ataupun sebagai anggota masyarakat yang kemudian mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, lahir dan bathin yang setinggi-tingginya ” ( Muri Yusuf, 1982 : 24 ).

Roger A. Kaufman, memberikan juga definisi pendidikan dengan istilah yang sampai hari masih melekat dalam khazanah dunia pendidikan, yaitu ” Education is subyek to change, and it is sensitive to change ”. ( Roger A Kaufman, 1972 : 5 ). Maksudnya pendidikan adalah satu alat ( materi ) untuk merubah diri seseorang yang merupakan bagian paling sensitive dalam diri manusia.

Menurut  Imam Al Ghazali, seperti yang dikutip oleh Hasan Langgulung, pendidikan memiliki arti dan pengertian yang sangat luas dan dalam. Pengertian itu dimulai dari hal-hal yang bersifat individual seperti bimbingan dan penyuluhan dan sampai pada pengertian pendidikan secara masal dimana tidak pernah terjadi tatap muka, namun hanya sekedar loncatan ide-ide melalui berbagai sarana misalnya buku dan pembacaan syair. ( Hasan Lannggulung, 1986 : x ). Dengan kata lain pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal tetapi juga meliputi pendidikan informal atau non formal.

Konsep Imam Al Ghazali tentang pendidikan sangat berhubungan erat dengan konsepnya tentang manusia, hal ini disebabkan masalah manusia pada hakekatnya adalah masalah pendidikan juga dan begitu sebaliknya. Menurut Ismail Yaqub ( 1983 ) ” Sesungguhnya bentuk pemerintahan dan pendidikan sangat bergantung pada pandangan tentang manusia karena manusia itulah yang menjadi unsur yang sangat pokok dan penting dari pendidikan ”. Bahkan jika bisa disimpulkan bahwa semua jawaban tentang persoalan individu dan masyarakat ada dalam satu kata, maka kata itu adalah pendidikan. Disini menurut Al Ghazali sangat jelas bahwa antara masalah manusia dan pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan.

Luasnya pengertian pendidikan menurut Al Ghazali tersebut, dapat dilihat dari segi individu, masyarakat dan kejiwaan. Dari segi individu pendidikan baginya merupakan pengembangan dari sifat-sifat ketuhanan yang terdapat dalam diri manusia sesuai dengan janji Nya dan tuntutan fitrahnya. Manusia esensinya rindu pada ma’rifat Allah dan perjuangan pokok dalam kehidupannya adalah pengembangan sifat-sifat ketuhanan yang ada dalam dirinya dan sesuai dengan kemampuannya.

Mengenai isi dan materi pendidikan, konsep pendidikan bagi Al Ghazali adalah pada ilmu dan nilai. Kalau dalam konsep pendidikan modern menurut Hasan Langgulung ( 1986 : xi )  terdiri dari tiga unsur yaitu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai, misalnya keterampilan bahasa hanya merupakan alat untuk mempelajari ilmu dan mendapatkan nilai.

Bagi Al Ghazali semua strata pendidikan bertujuan bukan hanya untuk kebahagiaan dunia tapi juga kebahagiaan akherat yang terpenting ( Al Ghazali : 1994 : 1-24 ). Apakah ilmu yang bersifat keduniaan ataupun ilmu yang datang melalui wahyu ( Agama ) semuanya mengacu kepada pendekatan diri kepada Allah. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi Al Ghazali untuk tidak mengkategorikan keterampilan sebagai unsur terpisah dari unsur pendidikan. Dengan demikian materi pendidikan menurut Al Ghazali hanya dua yang dimasukkan dalam kurikulum yakni soal ilmu dan nilai.

Dari beberapa pendapat tokoh-tokoh pendidikan diatas yang berkaitan dengan definisi dan pengertian pendidikan maka menurut penulis dapat ditarik satu benang merah tentang arti dan makna pendidikan, bahwa pendidikan adalah sebuah proses penanaman nilai-nilai yang disengaja dan disadari, untuk menolong manusia agar berkembang baik jasmaninya, ruhaninya, akalnya dan akhlaknya, sehingga dapat mencapai tujuan sebagai manusia berkualitas utama, hidup bahagian baik dia sebagai individu atau sebagai makhluk sosial yang hidup ditengah-tengah masyarakat

2.         Pengertian Pendidikan Islam

Penjabaran dan uraian secara sederhana tentang pengertian dan makna pendidikan di atas nampaknya dapat memberikan kesan dan warna bahwa pengerian pendidikan ternyata begitu sangat luas dan global. Oleh karena itu nampaknya perlu dalam tulisan ini memberikan batasan dan kemudian menampakan spesialisasi konsep yaitu pendidikan Islam.

Memahami pendidikan Islam yang menjadi satu tuntutan bagi sebagian besar komunitas pendidikan di Indonesia bukanlah sesuatu yang aneh atau asing, walaupun untuk memahaminya membutuhkan analisis secara pedagogis yang merupakan satu aspek yang paling utama dari misi agama yang diturunkan Tuhan kepada manusia. Oleh sebab itu Islam sebagai pentunjuk suci Ilahi, mengandung implikasi pendidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia sebagai seorang muslim, mukmin dan muslimin melalui tahap demi tahap.

Islam sebagai agama wahyu mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal dan eternal serta mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan ajaran-ajaran tersebut Islam menuntun manusia untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat. Dengan demikian ajaran Islam sarat dengan nilai-nilai, bahkan konsep pendidikan. Akan tetapi itu semua masih bersifat subjektif dan transendental. Agar menjadi sebuah konsep yang objektif dan membumi perlu didekati dengan pendekatan keilmuan. Atau sebaliknya perlu disusun konsep, teori atau ilmu pendidikan dengan menggunakan paradigma Islam yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan.

Pendidikan Islam merupakan suatu aktivitas pengembangan dan pembentukan seluruh aspek kepribadian manusia yang berlangsung seumur hidup. Sebagai sebuah aktivitas tentunya pendidikan Islam memerlukan suatu landasan kerja untuk memberikan arah pada tercapainya tujuan yang telah direncanakan. Pendidikan Islam yang dilaksanakan dalam sebuah sistem memberikan kemungkinan berprosesnya bagian-bagian yang ditetapkan oleh ajaran Islam. Proses itu adalah bersifat konstan dan konsisten apabila dilandasi dengan dasar pendidikan yang menjamin terwujudnya tujuan pendidikan Islam.

Dalam perspektif Imam Al Ghazali pendidikan Islam adalah berintikan pada pewarisan nilai-nilai budaya suatu masyarakat kepada setiap individu yang ada agar kehidupan budaya dapat berkesinambungan ( Hasan Langgulung, 1986 : 131 ). Bagi Al Ghazali nilai-nilai itu adalah adalah keislaman yang berdasarkan atas Al Qur’an dan Al Hadist, asas dan kehidupan orang-orang salaf. Makna lain adalah nilai-nilai tersebut dapat dikatakan sebagai ilmu dan akhlak yang terdapat dalam Islam yang berintikan pula pada ketaqwaan. Taqwa dalam pengertian yang luas, menurut Muh. ’Abdullah Darraz, nilai ketaqwaan yang terdapat dalam al Qur’an dapat disimpulkan dalam lima kategori  besar, yaitu nila-nilai perseorangan, kekeluargaan, kemasyarakatan, kenegaraan, dan nilai-nilai keagamaan. Karena itu tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk masyarakat muslim yang berilmu dan bertaqwa kepada Allah Swt.

Menurut Al Ghazali, pengertian pendidikan dari segi kejiwaan antara lain dapat berarti sebagai Takhliya al nafs dan tahliyat an nafs. Keduannya dapat dipandang sebagai bentuk usaha penyesuaian diri dalam ilmu kesehatan mental. Takhliya al nafs adalah usaha penyesuaian diri melalui pengosongan diri dengan sifat-sifat tercela sedangkan tahliyat al nafs merupakan perhiasan diri dengan akhlak dan sifat terpuji.

Berdasarkan hasil rumusan kongres se dunia ke II tentang pendidikan Islam melalui seminar tentang konsepsi dan kurikulum pendidikan Islam, menyatakan bahwa :

” Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan ( naluri ), panca indra dan intusi manusia, oleh karena itu pendidikan Islam harus mampu mengembangkan seluruh aspek dari kehidupan manusia itu, baik kehidupan mental spiritual, intelektual, imajinasi, jasmani dan ruhaninya, keimanannya, tutur bahasanya, baik sebagai individu atau sebagai kelompok, serta pendidikan Islam harus pula mampu mendorong aspek-aspek yang ada dalam diri manusia  itu kearah kebaikan dan kearah pencapaian kehidupan manusia yang sempurna dan mulia ”. ( H.M. Aripin, 1991 : 16 ).

Hasil rumusan tentang pengertian pendidikan Islam yang duputuskan dalam sebuah kongres se dunia diatas nampak menegaskan tentang pendidikan Islam sebagai sebuah wadah atau sarana untuk membimbing dan menumbuhkan potensi jasmani dan ruhani manusia sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam dengan cara hikmah, juga termasuk mengarahkan, menuntun, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran dan syareat Islam yang didatngkan dengan wahyu suci. ( Aripin, 1991 : 14-15 )

Ahmad D. Marimba ( 1986 : 23 ), memberikan pengertian pendidikan Islam dengan mengatakan ” Bahwa pendidikan Islam adalah sebuah bimbingan baik jasmani atau ruhani manusia berdasarkan hukum-hukum ajaran Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ajaran Islam.

Zuhairini menambahkan pengertiannya tentang pendidikan Islam dengan mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah sebuah usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran dan syareat Islam. ( Zuhairini, 1983 : 27 ). Dalam kesempatan lain, pendidikan juga berarti sebuah usaha mengembangkan fitrah manusia sesuai dengan ajaran Islam, agar terwujud atau tercapai kehidupan manusia yang makmur dan bahagian sesuai dengan ajaran Islam. ( Saminan Zaini, 1986 : 4 ).

Sayyid Sabiq, menambahkan pengertian pendidikan Islam dengan mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah yang berasal dari wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw yang di dalamnya berisikan tentang ilmu, iman dan amal. Sedangkan Abdurahman Sholeh ( 1969 : 33 ) mengemukakan juga tentang pengertian pendidikan Islam yaitu suatu usaha yang diarahkan pada pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam.

Dari beberapa pengertian pendidikan Islam dari berbagai tokoh kontemporer tentang pendidikan diatas nampaknya dapat ditarik satu kesimpulan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses bimbingan jasmani dan ruhani yang berdasarkan ajaran Islam untuk menuju kearah terwujudnya suatu kepribadian utama yang komprehensip, sehingga dengan pendidikan tersebut dapat membuat anak didik mampu menjalankan tugas kemanusiaannya dengan baik, sebagai hamba Allah, sebagai warga masyarakat dan sebagai makhluk yang selalu berhubungan dengan alam disekitarnya.

Dasar-dasar pendidikan Islam di atas tidak terlepas dari tujuan dan orientasi bagi pendidikan Islam itu sendiri, yaitu sebagai sarana pembentukan manusia utama dengan pribadi mulia. Dengan demikian proses pendidikan Islam harus meletakkan dasar-dasar ajaran Islam sebagai pondasi utama dari keharusan berlangsungnya pendidikan Islam. Karena Islam bersifat universal yang mengandung seluruh aspek kehidupan manusia, maka pendidikan Islam akan beridiri kokoh dan kuat dengan landasan tersebut.

Syaminan Zaini, menegaskan, bahwa agama Islam meletakkan bagi para pemeluknya suatu pandangan hidup dengan hukum-hukum dasar yang harus mereka anut dan pegang teguh didalam melaksanakan aktivitas mereka di dalam semua aspek kehidupannya, yakni Al Qur’an dan Al Hadist. ( Syaminan Zaini, 1986 : 17 ).

Manusia, mau tidak mau harus melalui proses pendidikan, hal ini disebabkan manusia ketika lahir adalah makhluk yang lemah dan tidak mengetahui apapun, oleh sebab itulah pendidikan yang dapat membuat manusia memperoleh ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang ada di dunia. Hal ini seperti yang diterangkan Allah dalam Al Qur’an surat an nahl ayat 78 :

ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«ø‹x© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ

Artinya : ”  Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ” ( Depag, 1984 : 413 ).

Menurut At Tibawi, ” The essence of muslim education is stated in divine revelation in the qoran, and is restated in greater detail in the tradition of the prophet Muhammad. “ ( Al Tibawi, 1972 : 35 ). Maksudnya adalah, intisari atau yang menjadi dasar pendidikan bagi Islam adalah wahyu Ilahi, yakni Al Qur’an yang dijelaskan secara rinci dalam kehidupan nabi Muhammad Saw ( As Sunnah Rasul ).

Dari beberapa penjelasan diatas nampaklah secara jelas bahwa dasar dan pondasi bagi pendidikan Islam, seluruh aktivitas orang yang beriman termasuk aktivitas pendidikan adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Dengan berlandaskan pada dua warisan penting ini maka maka pendidikan Islam akan semakin kokoh, berdaya guna dan berhasil guna.

Pendidikan dalam Islam memiliki makna sentral dan berarti proses pencerdasan secara utuh, as a whole, dalam rangka mencapai sa’adatuddarain, kebahagiaan dunia akherat atau keseimbangan  materi dan religious-spiritual. Salah satu ajaran dasar Nabi adalah intelektualisasi total, yakni proses penyadaran kepada umat dalam pelbagai dimensi dengan mau’idhah hasanah, wisdom atau hikmah dan excellent argumentation (wa jadilhum billati hia ahsan : QS. 16:125).

Dari segi pendidikan Nabi mendidik para Sahabat dari belenggu jahiliyah, kegelapan spiritual dan intelektual yang mencakup culture of silence dan structural poverty. Dari segi politik Nabi mengajarkan kemerdekaan bagi umat yang tertindas. Nabi mengingatkan hak-hak dan tanggung jawab mereka menjadi umat yang melek politik, hingga mereka menjadi umat yang senantiasa berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, agar mereka menjadi umat yang kuat, tidak dirampas hak-haknya. Hal ini terlihat dalam doa Nabi : “ Ya Allah aku berlindung diri padamu dari sedih dan duka, dari sifat apes dan malas, dari penakut dan kikir dan dari hutang yang berlipat ganda serta dari segala bentuk penindasan”.

Dari dimensi kultural, Nabi mengajarkan umat agar bebas dari tradisi taqlid buta, yakni meniru adat nenek moyang tanpa menggunakan akal kritisnya. Di sini Rasul mengajarkan tradisi baru, mengenalkan akal sebagai inti keberagamaan seseorang. Selain tunduk kepada aturan Al Qur’an dan Hadits, seorang muslim harus mempertimbangkan akal atau reason. Dalam Islam mempertahankan akal, harta benda, keluarga, martabat kehormatan, nyawa dan agama adalah satu keharusan bagi setiap individu. Ajaran Nabi “La dina liman la aqla lah” Tidaklah beragama orang yang tidak menggunakan akal pikiran. Dengan kata lain, reason and revelation mempunyai kesejajaran dalam Islam.

Ajakan agar manusia bersyukur karena memiliki akal sehat oleh penyair Muslim Spanyol abad pertengahan, Ibn Hazm, menarik dikutip :

Pencari akhirat mirip dengan malaikat. Pencari keburukan sama dengan syaitahn. Pencari keindahan suara dan kemenangan sama dengan predatory (binatang buas pemangsa musuhnya). Pencari lezat (keenakan, kepuasan materi dengan segala bentuknya) sama dengan binatang buas dan ternak. Pencari harta benda hanya untuk pemilikan benda itu sendiri bukan untuk dinafkahkan dalam amal sosial dan ibadah Ilahiah yang terpuji lebih rendah dan buruk dari binatang. Tepatnya dia sama dengan ”Ghudran”, yakni sepotong tumbuhan langkah yang berada dalam kedalaman gua yang tak satu bunatang pun memanfaatkannya. ”Al Aqil”, intelektual yang menggunakan akal sehatnya tidak pernah bangga melihat kelebihannya dibanding animal, binatang buas, maupun benda. Tetapi Al Aqil hanya bahagia karena kelebihan yang dianugerahkan Allah padanya dibandimng tiga hal tersebut dari segi ”defferensiasi” yang menyerupakan dia dengan malaikay. Maka barangsiapa bangga dengan keberanian dalam konteks selain untuk agama Allah, ketahuilah bahwa semut lebih berani dari dia. Sesungguhnya pula singa, harimau, gajah, lebih bernyali dari dia. Barangsiapa yang bangga dengan kekuatan fisiknya, ketahuilah bahwa gajah, sapi, anak binatang lebih kuat darinya. Barangsiapa yang bangga dengan angkat beratnya, ingatlah bahwa keledai lebih kuat darinya. Barangsiapa yang bangga dengan kecepatan larinya, ketahuilah bahwa anjing, kelinci lebih kencang larinya. Barangsiapa yang bangga dengan keindahan suaranya, ketahuilah bahwa kebanyakan burung lebih undah suaranya. Sesungguhnya pula seruling lebih meresap dan mengasyikan dari suaranya. Maka apa yang bisa dibanggakan seseorang dibanding binatang-binatang itu ? Hanya orang-orang yang kuat differensiasinya dan luas ilmunya serta cantik tindak tanduknyalah yang mampu mengalahkan sifat binatang. Sesungguhnya dari segi ini, hanya manusia-manusia unggul dan Malaikatlah yang menang. Allah berfirman (QS. An Nazi’at : 40) ”Adapun orang-orang yang taqwa pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat yang layak baginya.” (Ibn Hazm, Mudawat al Nufus).

Di Masjid para sahabat mengelilingi Nabi mendapatkan pendidikan dasar. Nabi menerangkan subjek baru pada mereka dengan diulangi tiga kali. Nabi berbicara dengan bahasa yang mudajh dicerna pendengarnya (wa khatibinnas ’ala qadri ’uqulihim). Nabi meminta murid-muridnya untuk mensosialisasikan apa yang mereka dengar pada orang-orang yang tidak hadir meskipun  satu ayat.

Betapa tinggi pendidikan di masa Nabi, hingga Ali mengatakan : ”Ana ’abdu man ’allamani harfan” ’ saya adalah hamba sahaya seseorang yang mengajarkanku satu huruf. Nabi menyebut dirinya sebagai City of Knowledge dan Ali sebagai gate of knowledge. Wahyu pertama kali ditandai dengan inti kegiatan intelektual : baca !

  1. Muhammad saw adalah manusia paripurna, insan kamil dan guru terbaik. Beliau. Kehidupannya demikian memikat dan memberikan inspirasi hingga manusia tidak mendapatkan ilmu dan kesadaran darinya tetapi lebih jauh manusia mentransfer nilai-nilai luhur darinya sehingga manusia-manusia baru. Sejarah kehiduapannya yang ditulis oleh para sejarahwan sejak abad ke-8 seperti Ibn Ishaq sangat mempesona, menggema dan aktual hingga kini. Karena itu setiap muslim selama ini senantiasa mengakrabinya dan menjadikannya sebagai                           a beloved role model.

Pemikiran semacam ini kiranya saat ini memiliki momentum yang tepat karena dunia pendidikan sedang menghadapi krisis konseptual. Di samping karena begitu cepatnya terjadi perubahan sosial yang sulit diprediksi, juga karena intervensi pemikiran non-kependidikan seperti ekonomi dan politik ke dalam pendidikan yang tidak dapat dihindari. Akibatnya banyak orang yang tidak puas terhadap sistem pendidikan konvensional dan formal akhirnya mencari solusi lain. Misalnya munculnya gagasan ‘masyarakat tanpa sekolah’, ‘pendidikan tanpa batas’, ‘pendidikan yang membebaskan’, dan ‘pendidikan untuk kaum tertindas’.

3.         Sistem Pendidikan Islam Di Indonesia

Untuk konteks ke Indonesiaan, tampaknya bahasan lengkap tentang Pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Muhammad Naquib al Attas ( 1983 : 15 ) masih cukup relevan dan kopmprehensif, dalam pengertian berusaha untuk memadukan unsur profan dan immanen. Al Attas menyebutkan segenap proses yang dilakukan oleh Pendidikan Islam sebagai konsep, yang meliputi konsep agama (dien), manusia (insan),  ilmu (‘ilm dan ma’rifat), kebijakan (hikmah), keadilan (‘adl),  amal dan perguruan tinggi (kulliyatul jami’ah). Dengan kata lain pendidikan Islam terdapat multiparadigma yang kompleks yang meliputi dimensi intelektual, kultural, nilai-nilai transedenta, keterampilan fisik / jasmani dan dimensi pembinaan kepribadian. Konsep dan dimensi tersebut diterapkan secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.

Sejak bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Pancasila telah disepakati dan diterima, baik sebagai pedoman hidup bernegara dan berbangsa, maupun sebagai dasar negara. Sebagai salah satu konsekuensinya, Pancasila juga menjadi sumber hukum kenegaraan. Padahal “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan sila pertama Pancasila. Pumbuka dalam Undang-undang Dasar 1945, juga disebutkan “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan demikian, pendidikan agama merupakan aspek integral; tak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Dalam kaitan ini, tampaknya tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Pancasila merupakan jaminan eksistensi Pendidikan Agama Islam di Indonesia.

Tesis di atas, secara logika adalah tangible, tetapi realitas bisa saja menunjukkan lain. Kemapanan Pendidikan Agama diakui eksistensinya sebagaimana sekarang ini, ternyata usianya tidak ‘setua’ diakui dan diterimanya Pancasila (baca: secara formal). Pada zaman kemerdekaan sampai dengan tahun 1965, pendidikan agama di sekolah umum menjadi kegiatan intrakurikuler tetapi tidak wajib. Sejak tahun 1966 pendidikan agama di sekolah umum bersifat intrakulikuler dan wajib. Anehnya sejak zaman kemerdekaan, dasar negara belum pernah berubah dan Undang-undang tentang pendidikan juga masih sama yakni UU No. 12/1954. Walhasil, dengan dasar negara dan undang-undang yang sama dapat menghasilkan produk policy yang berbeda. Sejak tahun 1989, sejak ditetapkannya Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional sampai dengan saat ini ketika ada Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada keserasian logis antara dasar negara, undang-undang dan kebijaksanaan konkret dalam hal pendidikan agama. Indikator utamanya adalah ‘pengaturan’ mengenai pendidikan agama dalam Undang-undang yang relatif lengkap, paling tidak jika dibandingkan dengan undang-undang pendidikan yang diberlakukan sebelumnya.

Memang diakui, pembahasan di atas difokuskan pada pendidikan agama di sekolah umum (dengan tanpa maksud membuat dikhotomi). Sedang pendidikan agama untuk sekolah agama atau lembaga pendidikan yang dikelolah oleh Departemen Agama, dapat dipahami dalam konteksnya. Dalam arti, bahwa selama Agama atau Departemen Agama masih survive, maka demikian pula Pendidikan Agama Islam.  Disamping Undang-undang, telah ditetapkan pula Peraturan Pemerintah ( PP ) sebagai mekanisme pelaksanaan undang-undang tersebut. Peraturan-peraturan tersebut adalah :

-          PP No. 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah

-          PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar

-          PP No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah

-          PP No. 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi yang disempurnakan dalam PP. No. 20 tahun 1999

Dalam peraturan-peraturan itu, agama merupakan isi program dan bagian yang tak terpisahkan. Dengan ditetapkannya pendidikan agama sebagai bagian yang integral dari semua jalur dan jenjang pendidikan, berarti menjamin eksistensi Pendidikan Islam dalam sistem Pendidikan Nasional.

Sebagaimana dimaklumi dan perlu nampaknya bagi penulis untuk juga mengungkapkan, sejak kemerdekaan bangsa Indonesia telah pernah memiliki tujuh undang-undang yang berkaitan dengan pendidikan, yakni :

-                UU No. 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan Nasional dan Pengajaran di sekolah

-                UU No. 12 tahun 1954 tentang Pernyataan berlakunya UU. No. 4 tahun 1950

-                UU No. 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi

-                UU No. 14 PRPS tahun 1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional

-                UU No. 19 PNPS tahun 1965 tentang Pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila

-                UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

-                UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Mengamati peraturan dan Undang-Undang yang pernah ada tersebut, tampak bahwa pendidikan Islam, kendatipun dalam konteks ke-Indonesiaan merupakan sub-sistem, misi dan perannya tidak jauh berbeda dengan peran pendidikan Nasional tersebut. Untuk menjalankan fungsinya secara efektif dan efisien, sistem pendidikan harus sehat dan terus bergerak sesuai dengan gerak perubahan masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Masih banyak anggapan nampaknya yang pengatakan bahwa di Indonesia masih  mengalami krisis sistem pendidikan, utamanya jika dikaitkan dengan konteks masyarakat modern. Dalam hal ini ada 10 kecenderungan besar sistem pendidikan nasional dalam negara maju Indonesia mendatang. Ke-10 kecenderungan itu meliputi : pendidikan dasar, kurikulum, proses belajar mengajar, tenaga kependidikan, pendidikan keterampilan, pendidikan tinggi, pembiayaan pendidikan, desentralisasi pendidikan dan partisipasi masyarakat serta manajemen pendidikan. ( www.Depdiknas.go.id )

Mengingat pendidikan Islam adalah merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional di Indonesia, serta memiliki peran yang Sangat significan dalam pembentukan moral dan mental spiritual anak didik, maka diperlukan sebuah formula yang akurat atau masukan yang qualivide dari berbagai pemikiran dan tokoh-tokoh pendidikan Islam untuk sebuah idealisme pendidikan yang diharapkan bagi  masyarkat di Indonesia. Untuk itulah penulis mencoba untuk melihat secara khusus dua pemikiran tokoh spiritual dan juga tokoh pendidikan yang pernah ada, yaitu Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali.