Hukum Mukallid dalam aqidah

HUKUM MUKALLID DALAM MASALAH AKIDAH

Adapun taklid yakni mengetahui akidah-akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalilnya yang ijmali atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini “.

Sebagian ulama berkata : “tidaklah mencukupi taklid itu dan orang yang bertaklid adalah kafir “. Ibnul arobi dan Sanusi mengikuti pendapat ini. Dan didalam kitab Syarhul Kubra, Sanusi memperpanjang pembicaraannya dalam hal penolakannya atas orang yang berkata dengan kecukupan taklid. Akan tetapi kami tidak pernah melihat dalam kitab-kitabnya kecuali perkataan dengan ketiadaan cukupnya takllid itu.

Perselisihan ulama dalam hal taklid bermula dari perselisihan mereka perihal “Hukum Nadzor (berfikir) dalam masalah aqidah-aqidah tersebut” yang kesimpulannya adalah sbb:

1. Wajib sebagiman wajib furu’. Artinya durhaka si mukallaf dengan sebab meninggalkannya meskipun di tidak punya kemampuan untuk berfikir dalam hal ini.

2. Wajib sebagaimana wajib furu’ juga akan tetapi jika si mukallaf punya kemampuan untuk berfikir.

3. Wajib sebagaimana wajib ushul. Artinya kalau si mukalaf meninggalkannya maka dia menjadi kafir.

4. Tidak wajib sama sekali melainkan syarat bagi kesempurnaan saja.

Pendapat pertama menunjukn cukupnya taklid dalam masalah iman. Akan tetapi beserta durhaka secra mutlak (baik dia punya kemampuan berfikir atau tidak)

Pendapat kedua juga menunjukan cukupnya taklid dalam masalah iman. Akan tetapi beserta durhaka jika dia punya kemampuan untuk berfikir. Sedngkan jika dia tidk punya kemampuan untuk berfikir maka tidaak durhaka. Pendapat inilah yang paling benar.

Pendapat ketiga menunjukan tidak cukupnya taklid dalam masalah iman dan orang yang bersifat dengan taklid itu adalah kafir.

Pendapat keempat menunjukan cukupnya taklidsecara mutlak.

Sebagian orang ada yang mencela Ilmu Kalam dan menyatakan haram berfikir dalam masalah tersebut. Pendapat ini sangat dhoif dan bagi orang yang berakal dia tidak ragu-ragu perihal rusaknya.

Berkata al-yusi :”dan Sanusi telah menasabkan pendapat ini ini didalam syarhulwustho kepada sebagian golongan mubtadi’ah dimana beliau (sanusi) berkata: dan apa-apa yang telah dihikayahkan dari sebagian golongan Mubtadiah seperti Haswiyyah dan yang lainnya perihal haramnya berfikir dlam masalah tauhid maka bagi siapa saja yang berakal tidaklah samar-samar perihal rusk dan sesatnya orang yang mengitikadkannya. Karena pendapat tersebut bertentangan dengan Al-Quran,Sunah dan ijma kaum muslimin. Dan mengenai apa yang mereka campur baurkan denganya dimana pra sahabat Rodhiallohu anhum tidak pernah membicarakannya adalah merupakan satu kebohongan dan perbuatan yang mengada-ada.

Dan sungguh telah dikatakan orang kepada Qodhi Abu Toyyib bahwa ada satu kaum mencela ilmu kallam, maka beliau membuat syair:

“Orang-orang yang tidak mempunyai bagian itu telah mencela ilmu kalam dan tidaklah berbahaya atas ilmu kalam jika mereka mencela. Matahari pagi yang sedang terbit di ufuk timur tidk rusak lantaran orang yang tidak mempunyai mata tidak dapat melihat cahaya.”

Tempat tidak benarnya ucpan orang yang mencela ilmu kalam itu adalah jika Ilmu Kalam tersebut masih tetap pada zohirnya (apa adanya). Tetapi jika yang dimaksud oleh mereka itu Ilmu Kalam yang sudah bercampur dengan filsafat maka pencelaan mereka itu adalah benar . Dan mungkin ilmu kalam yang seperti inilah yang dimaksud oleh Imam Syafii dalam ucapanya:

“sungguh seorang hamba yang menemui tuhannya dengan segala macam dosa selain syirik adalah lebuh baik dri pada dia menemuiNya dengan Ilmu Kalam”.

Perkataan sebagian ulama dengan laayakfittaqlidu yakni yang tidak cukup taklid itu dalam hal iman tentunya didasarkan pada hukum berfikir yang wajib sebagaimana wajib ushul seperti yang sudah diterangkan perkataan sebagian ulama yang seperti itu mengandung stu kemusykilan karena melazimkan adanya pengkafiran sebagian besr orang mu’min yang awam. Dan yang demikian itu termasuk aib karena Nabi Muhammad SAW.adalah yang paling banyak pengikutnya berdasrkan riwayat yang menerangkan bahwa ummat Muhammad Yang Mulia itu adalah 2/3 penduduk syurga.

Dalam hal ini sanusi menjawab didlam kitab syarhushugraa. Bahwa yang dimaksud dengan dalil yang wajib atas sekalian mukallaf untuk mengetahuinya adalah dalil ijmaly dan tidak diragukan bahwa dalil tersebut tidak begitu sulit mencapainya bagi sebagian besar ummat . maka tidaklh disyaratkan cara berfikir sebagaimana orang-orang Mutakallimin berupa penguraian dlil dn sistematika (pengetahuan)ny serta menolak segala keraguan yang timbul atasnya bahkan tidak disyaratkan adanya kemampuan untuk mengungkapkan dalil-dalil ijmali yang sudah bermuara didlam HATI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s