Khilaf (perdedaan pendapat) mengenai tetapnya hukum dengan akal atau dengan syara

Khilaf (perdedaan pendapat) mengenai tetapnya hukum dengan akal atau dengan syara

Di dalam kata-kata “WAJIB” itu tidak ada kaitan dengan menurut syara sebagaimana Sanusi mengaitknnya dalam kitab syar`hus sughra dengan ibarat “Dan wajib atas setiap mukalaf menurut syara’’….

Hal ini disebabkan karena syara tidak hnya khusus kewajiban seperti itu (yakni hukum mengetahui akidah yang 50 ) karena hokum hokum itu semuanya ditetapkan dengan syara sebagaimana madzhabnya asya’iroh. Karena itulah sanusi sanusi tidak lagi mengaitkannya seperti itu dalam kitab “syar’hul kubro

Dalam hal ini mu’tazilah bahwa hukum-hukum itu menjadi tetap dengan akal berdsarkan atas at-tahsin (sikap mengnggap baik) dan at-taqbih (sikap menganggp jelek) yang keduanya bersifat aqli(dapat dilakukan dengan akal) sedangkan syara hanyalah datang sebagai penguat bagi akal tersebut.

Yang demikian itu adalah karena perbuatan dengan tidak memandang kepda apa-apa yang didatangkan syara adakalanya bersifat BAIK dan adakalanya bersifat JELEK.

Perbutan yang bersifat baik mempunyai 4 tingkatan ;

1. Bahwa perbuatan itu adalah yang mana pelakunya berhak untuk memperoleh pujian dan orang yang meninggalkannya berhak untuk memperoleh celaan. Maka pada ketika itu akl dapat menyimpulkan bahwa perbuatan itu WAJIB.

  1. Bahwa perbuatan itu adlah perbuatan dimana pelakunya berhah untuk memperoleh pujian sedangkan orang yang meningalkannya tidak berhak untuk mempe5roleh celaan. Maka ketika itu akal dapat menyimpulkan pebuatan itu SUNAT.
  2. Bahwa perbuatan itu adalah perbuatan itu dimana pelakunya berhak untuk memperoleh celaan dan orang yang meninggalkannya tidak berhak memperoleh pujian. Maka ketika itu akal dapat menyimpulkan bahwa perbuatan itu MAKRUH.
  3. Bahwa perbuatan itu adalah perbuatan dimana masing-masing pelaku dn orang orang yang meninggalkannya tidak berhak untuk memperoleh pujian dan tidak pula celaan. Maka ketika itu akal dapat menyimpulkan bahwa perbuatan itu mubah.

Adapun perbuatan yang bersifat jelek maka dia hanya punya satu tingkatan yaitu : ;Bahwa perbuatan itu adalah perbuatan dimana pelakunya berhak untuk memperoleh celaan dan orang yang meninggalkannya berhak untuk memperoleh celaan ;. Maka ketika itu akal dapat menyimpulkan bahwa perbuatan itu HARAM.

Inilah kesimpulan dari apa yang telah dikutif oleh syeikh Ibnul Qossim dari Sa’di perihal mazdhab mu’tazila. Dan zohir dari apa yang telah ditetapkan yang dimaksud dengan BAIK adalah apa-apa yang selain JELEK sehingga tercakuplah tiap-tiap dri yang makruh dan mubah.

Adapun golongan Maturidiyah maka pendapatnya adalah bahwa hukum-hukum itu menjadi tetap dengan syara’kecuali hukum “KEWAJIBAN MENGETAHUI (MAKRIFAT) KEPADA ALLAH TA’ALA”

Karena hukum ini menjadi tetap dengan akal. Akan tetapi ketetapan itu bukan littahsinnilaqli (karena akal menganggapnya sesuatu baik ) sebagaimana dikatakan mu’tazilah melainkan liwudhuuhihi (karena sudah terang dan jelasnya). Maka akallah yang menjelaskan hukum seperti tiu sebagaimana halny seorng rasul. Seperti inilah yang dikatakan oleh an-Nasafi

KESIMPULAN :

Disepakti bahwa yang menerbitkan hukum-hukum itu adalah Allah swt.,bukan yang selainNYA sebagai mana yang dikatakan oleh Ibnu Qosim. Hanya saja perbedaan antara tiga pendapat adalah sebagai berikut :

1. Menurut Asya’iroh: semua itu menjadi tetp dengan syara ‘ seandainya tidak diutus oleh para rasul maka tidaklah tetap hukum-hukum itu karena akal kita tidak dapat menyimpulkannyasendiri. Hanyalah akal baru dapat menyimpulkan apabila mengikuti syara ‘.

2. Menurut Mu’tazilah; semua hukum menjadi tetap dengan akal karena akal punya kekuatn untuk tahsin dan taqbih sedangkan para rasul hanyalah datang sebagai penguat saja bagi hukum–hukum yang telah ditetapkan oleh akal tersebut.

3. Menurut maturidiyah : Hukum-hukum itu menjadi tetap dengan syara’ kecuali hukum “ KEWAJIBAN MAKRIFAT KEPADA ALLAH TA’ALA”. Adapun hukum itu , maka dia menjadi tetap dengan akal karena telah jelas dan terangnya . bukjan karena akal menganggap baik kepadanya.#

Dari tiga pendapat tersebut maka yang benar adalh pendapat asya’iroh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s