Antara IdeaLisme dan Materialisme Dalam Jebakan IPK SKS

Dunia nyata  yang tampak dengan mata merupakan fenomena realita yang dinamis tidak stagnan dan selalu berubah ubah. Perubahan yang tidak didasarkan pada esensi yang menjadikan suatu perubahan yang hanya didasarkan pada kealaman atau terjadi dengan sendirinya yang lebih condong kematerialisme ini akan berdampak pada hilangnya roh/jiwa yang menjadikan suatu perubahan. Seperti halnya problematika pendidikan dengan nilai yang berkutat pada kausalitas manusia yang cenderung kematerialisme ini akan berdampak hilangnya esensi atau roh,jiwa dari sebuah pendidikan. Pendidikan itu hanya dijadikan sebagai mesin belaka dengan nilai sebagai acuannya,survei membuktikan dengan adanya anggapan bahwa “kuliah itu hanya sebagai alat untuk mendapatkan gelar agar memudahkan mencari kerja atau untuk kenaikan pangkat dsb”, bukan kepada esnsi pendidikannya yaitu pencarian ilmu “ilmu itu NO I broww di dunia pendidikan”.Sehingga esensi sebuah pendidikan akan hilang mereka terjebak dalam nilai IPK SKS Akhirnya  terjadilah perubahan paradigma strategi pembelajaran pendidikan beralih pada strategi pencarian nilai “yang penting ane dapet nilai bagus masalah ilmu itu belakangan broww”. Pencarian nilai yang didasarkan atau berorientasi pada nilai manusia yang subjektif akan menghasilkan kebenaran yang relatif sehinnga pengorbanan dan penharapan kepada relatifitas kebenaran manusia akan mengalami kekecewaan /stres andaikata ketidaksesuaiannya dengan pengorbanan dan pengharapan nya. Pengorbanan dan pengharapan harus ditujukan pada pencarian ilmu yang akan dida[atkan bukan kepada nilai karena nilai adalah manifestasi dari ilmu itu sendiri.Kesadaran akan adanya proses bukan hasil akan memberikan stimulus dalam pencarian ilmu bukan pencarian nilai. Inilah yang harus kita tanamkan tumbuhkan dalam jiwa atau ruh pendidikan pentingnya sebuah proses bukan hasil dalam pencarian ilmu……..

Akhirnya saya bertanya dalam hati :

mau dibawa kemanakah pendidikan kita ?

Ideologi seperti apakah yang mewarnai pendidikan kita?

“Tunggu tulisan selanjutnya, Mahasiswasebagai agent of change mahasiswa sebagai agent of control berubah menjadi mahasiswa sebagai agent of oil”tukang minyak” dalam intervensi parpol

3 thoughts on “Antara IdeaLisme dan Materialisme Dalam Jebakan IPK SKS

  1. Saya bersyukur kalau Anda telah punya konsep diri yang bagus dalam memandang perkuliahan. Tujuan kuliah memang tidak semata-mata karena ingin mendapatkan nilai, namun jauh lebih penting adalah adalah bagaimana dari perkuliahan tersebut dapat menjadikan perilaku Anda berubah ke arah lebih baik dan memiliki kompetensi yang memadai.

    Fenomena nilai “ghaib”, saya yakin setiap guru atau dosen dalam memberikan nilai berangkat dari berbagai pertimbangan tertentu.

    Dalam pemikiran saya, ada beberapa bentuk penilaian :

    1. Penilaian diagnostik, untuk kepentingan perbaikan belajar peserta didik itu sendiri. Barangkali itu yang Anda maksudkan dengan berharap adanya umpan balik dari UTS atau UAS.

    2. Penilaian prestatif, yakni menilai sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh peserta didik secara obyektif.

    3. Penilaian edukatif, yakni menilai mungkin dasarnya subyektif tetapi lebih mempertimbangkan kepentingan kebaikan dan aspek-aspek kemanusiaan dari para peserta didik itu sendiri.

    Saya teringat pengalaman waktu ujian sidang S1, ada rekan perempuan saya yang sedang hamil tua ikut ujian. Penguji bertanya, mengapa dalam skripsinya mencantumkan persembahan untuk sang jabang bayi dalam kandungan. Dia menjawab hanya cukup dengan menangis tanpa memberikan argumentasi rasional. Ternyata hasilnya dia dinyatakan lulus. Mungkin penguji berfikiran bahwa jawaban menangis adalah jawaban yang menggambarkan sisi kemanusiaan dari peserta ujian tersebut. Begitu juga pemberian nilai dari penguji sungguh merupakan sisi kemanusiaan dari si penguji.

    Kadang-kadang dosen atau guru dihadapkan pada situasi yang dilemmatis. Memberikan nilai yang obyektif, pasti banyak memakan korban. Dalam arti akan banyak yang tidak lulus. Memberikan nilai subyektif pun masih ada-ada pihak yang dirugikan.

    Tentu saja, putusan pemberian nilai diusahakan mana yang paling memungkinkan. Kalau pun terjadi human error, saya kira dosen atau guru juga manusia.

    Begitulah, mudah-mudahan Anda bisa memakluminya dan terima kasih atas komentar Anda.

    Selamat belajar dan berkarya, terus ekspresikan diri dan sukses untuk Anda !

  2. Politik Praktis Masuk Kampus
    Memprihatinkan! Mahasiswa yang mestinya menjadi centre of excellence dan oposan, ternyata main mata dengan partai. Kepentingan politis golongan masuk kampus. Otoritas ilmiah dan wibawa kampus digerogoti. Inikah akhir independensi kaum intelektual? Atau, setidaknya, inikah akhir keberpihakan kaum intelektual terhadap minoritas dan ketertindasan?

    SEKARANG prosesi pergantian pucuk pimpinan organisasi intra-kampus rentan diwarnai politik praktis. Sebenarnya bukan tidak boleh berpolitik praktis. Mahasiswa, selaku individu, tentu boleh saja karena memang memiliki hak politik. Tetapi tidak boleh dilakukan jika mengatasnamakan mahasiswa, terlebih organisasi kemahasiswaan.

    Pada level mahasiswa, sebenar-nya hal utama yang dapat dilakukan adalah membentuk paradigma berpikir sebagai dasar pijakan bersikap yang jelas atas sesuatu. Mahasiswa belum memiliki modal untuk mem-bangun masyarakat yang dicita-citakan. Mahasiswa juga belum memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan yang memihak rakyat.

    Ironisnya, keduanya dimiliki partai politik. Mereka terus berupaya menggoda mahasiswa untuk memperkuat barisan partainya. Celakanya, sebagian aktivis mahasiswa ikut terbujuk masuk dalam pusaran politik praktis itu. Tentu dengan arguman agar cita-cita mahasiswa untuk perbaikan bangsa dapat tersalur melalui partai, atau mungkin sekadar jalan meretas karir politik bagi mahasiswa bersangkutan.

    Mahasiswa seharusnya memosisikan dirinya sebagai oposisi permanen pemerintah, kontrol sosial masyarakat, dan selalu membela kepentingan rakyat banyak. Dengan politik praktis, peran ideal mahasiswa akan tersingkirkan. Apalagi ketika partai yang didukungnya berkuasa, praktis mahasiswa dengan politik praktisnya tidak dapat kritis terhadap pemerintah.

    Tentu mereka akan menyanggah, ”Tidak masalah berpolitik praktis, toh tujuannya sama, yaitu untuk kemaslahatan bersama. Lagi pula, mahasiswa jika tidak berpolitik sama halnya tidak berperan!”

    Menjadi Lelucon

    Tetapi bukankah ada jalan yang lebih baik ketimbang mengekor pada partai? Yaitu dengan menjadi oposisi yang selalu kritis dan tak terbentur oleh ”ketentuan mengingat” dari partai induk. Kalau pun sudah ngebet berpolitik, seyogianya tidak membawa-bawa nama mahasiswa. Mahasiswa adalah intelektual yang tidak boleh tercekoki kepentingan politis.

    Bagi saya, untuk perbaikan bangsa, mahasiswa tidak perlu berpolitik praktis. Sebab upaya-upaya untuk memperjuangkan kaum marjinal, atau menggugat ketidakadilan sistem, dapat dilakukan melalui demonstrasi di jalanan. Atau jika ingin lebih ”ilmiah”, dapat berwacana di media massa atau dalam forum lainnya.

    Mahasiswa terlalu berharga untuk dibawa ke panggung politik, yang akhirnya malah akan ditertawakan atau dijadikan lelucon bagi para politisi yang berhasil memanfaatkannya. Ya, lucu, karena tidak konsisten dalam bersikap dan mudah dibohongi.

    Baru setelah diwisuda, dan siap dengan paradigma serta idealisme hasil tempaan kritisme yang diwujudkan lewat demo atau perang wacana, ia dapat melakukan positioning pada level dan ranah gerak masing-masing. Salah satunya adalah masuk dalam sistem dan berupaya mengubahnya.

    Tetapi pada fase dan level sekarang (berstatus mahasiswa-Red), mereka tak boleh lebur dalam sistem itu. Mahasiswa hanya bagian dari sistem yang diupayakan oleh suprastruktur untuk memperkuat sistem yang sudah ada. Di sinilah mahasiswa harus sadar posisinya dan selalu berusaha kritis.

    Dalam hal ini, mahasiswa hanya dapat mengubah sistem jika ada dua syarat. Pertama, ada momen yang tepat untuk menggalang kesadaran rakyat atas ketidakadilan. Ini terjadi ketika mahasiswa berada dalam garda terdepan saat melengser Soekarno (1966) dan Soeharto (1998) dari tahta kepresidenan.

    Kedua, mahasiswa lulus atau diwisuda, melakukan positioning yang tepat, masuk ke dalam sistem dan mengubahnya dari dalam. Dengan kata lain, bukan melalui politik praktis.

    Modus Penguasaan

    Kian lama eksistensi organisasi kemahasiswaan yang telah menjadi onderbouw partai politik tertentu akan dapat mengubah warna kampus sesuai dengan warna partai, dalam arti orientasi dan kebijakannya. Hal ini sangat berbahaya, karena otoritas keilmuan civitas akademika digadaikan dan kalah dari kepentingan politik.

    Kampus yang seharusnya menjadi pencerahan peradaban bangsa akan tereduksi oleh ”alat legitimasi” politis partai tertentu. Ya, ini memang kejelian partai itu dalam membidik mahasiswa sebagai cendekiawan muda bangsa yang nantinya diharapkan menjadi pionir dalam ranah gerak masing-masing.

    Geliat masuknya politik praktis di kampus dapat kita lihat mulai dari keberadaan salah satu organisasi ekstrakampus yang sering sejalan dalam mengampanyekan isu yang sama dengan partai afiliasinya. Bahkan jargon, simbol, atribut dan ideologinya nyaris sama. Pada acara seminar, pembicara yang dihadirkan acapkali seideologi, bahkan menjadi pengurus partai tersebut.

    Mereka pun antusias merebut kursi kepresidenan di level mahasiswa melalui organisasi intrakampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Melalui BEM inilah, mereka berupaya merapatkan diri dengan jajaran kampus, mengampanyekan jargon dan ideologi partainya, dan melakukan kaderisasi terhadap sejumlah mahasiswa.

    Kekalahan Intelektual

    Korban utama gerakan ini adalah mahasiswa yang buta politik, yaitu silent majority mahasiswa. Mereka merasa bahwa BEM dan organisasi intrakampus mahasiswa lainnya tidak berpengaruh. Dengan memanfaatkan fanatisme buta mahasiwa awam tersebut pada fakultas atau jurusan masing-masing, kader partai yang telah ditanam di organisasi ekstra akan mencalonkan diri sebagai ketua BEM atau organisasi lainnya.

    Terkecohlah mahasiswa awam. Maksud hati ingin mendukung calon yang diharapkan bisa memajukan fakultas atau jursannya, tetapi malah keliru memilih calon yang akan membawa kampusnya dalam pusaran politik praktis yang berbahaya.

    Sementara mahasiswa yang masih setia dalam barisan oposisi permanen, para intelektual yang belum terkooptasi syahwat politis, dan siapa pun yang antipolitik praktis di kampus, tak berniat mengisi kursi pucuk organisasi mahasiswa intrakampus. Inilah kekalahan kalangan intelektual sejati.

    Jika pun ada yang mencalonkan diri, mereka tidak memiliki strategi yang matang. Berbeda dengan mahasiswa yang sudah ngebet berpolitik praktis, yang telah menyiapkan strategisnya dengan baik. Termasuk masalah pendanaan, yang telah disediakan partai. Ini bisa dilihat dari mewahnya poster dan baliho kampanye mereka.

    Konon di sekretariat partai politik tertentu telah dipetakan mana kampus yang telah dikuasai dan mana yang belum. Dengan naluri politik -bukan ilmiah- mereka menyusun strategi kampus mana lagi yang harus dikuasai, baik para mahasiswa maupun birokrasinya. Tanpa disadar, mereka telah membantu keruntuhan otoritas keilmuan di jantung ilmu itu sendiri, yaitu kampus. (32)

  3. KAMPUS TETAPLAH KAMPUS

    Kampus tetaplah kampus. kampus seharusnya berada di posisi netral dan secara objektif mengamati dan memberi alternatif solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat pada semua aspek kehidupan. Jika kampus ditarik masuk area politik praktis secara institusi maka kampus telah meruntuhkan semangat netralitas dan objektivitas dunia kampus dan akademik dengan demikian dunia demokratis di daerah ini akan berlangsung kurang baik.
    Terlepas dari ajang Pilkada yang masuk di kampus, jauh sebelum itu saya memang sudah resah dengan politik praktis di kampus. Pada ajang pemilu ketua lembaga misalnya, politik praktis banyak dilakukan oleh para kandidat. Mereka menggunakan strategi ini itu untuk sekedar untuk mendapatkan kekuasaan. Nah, sekarang apa yang membedakan lembaga kemahasiswaan dengan partai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s