INTEGRASI FILOSOFIS ILMU DENGAN WAHYU

                               INTEGRASI FILOSOFIS ILMU DENGAN WAHYU

1. Pendahuluan

Satu sasaran yang ingin kami capai dari tulisan ini, yaitu tampilnya sosok pribadi integratif ilmuwan Muslim. Integratif dalam makna bahwa tidak ada dualisme pribadi antara ilmuan yang selalu menuntut bukti empiric dengan pribadi muslim yang mempercyai yang ghaib.

Harapan kami impl;ikasi dan tampilnya sosok pribadi integrative tersebut menjadi mampu berkomunikasi dan tumbuh dalam kancah berilmu pengetahuan dalam tampiln sosok pribadi yang teguh dan yakin diri dalam berkeagamaan. Tugas dosen agma islam dalam telaah ini adalh menjabarkan yang wahyu dalam ilmu yang menjadi lebih komunikatif bagi para calon ilmuwan,yang banyak dididik dengan cara rsional empirik

 

  1. Subtansi Ilmu dan Wahyu

Subtnsi dasar yng sering menimbulkan jarak antara berilmu pengetahuan dengan berkeimanan perlu dicermaati. Selanjutnya didekatkan, dan akhirnya dapat tampil integratif dalam sosok pribdi muslim.

Subtansi ilmu secara ontologis berupa kebenaran rasional empirik. Kebenaran rasional empirik tersebut secr epistemologis perlu dapat dibuktikan oleh siapapun dan kapanpuna kebenaran rasional empirik yang dimasa-masa lalu dituntut objektif, dituntut netral (yang gemanya juga masih tersisa dimasa kini),kini secara aksiologis telah mulai bergeser pad perluny kebenran rasional empiric yang berorientasi pada Waltanschauung, pada moralitas ,seperti kemanusiaan dan keadilan.

Subtansi wahyu yang dapat dimaknai merentang dari yang ayat(bukti), yang isyarat, yang hikmah (atau hudan), yang rahmat sampai yang ghaib, dapat kami katakn bahwa empat yang pertma dapat dijngkau oleh kemampuan rasionalitas kit , sedangkan yang ghaib sesuai dengan firman Allh Swt. (seluruh yang ghaib adalah urusan-Ku ) berada diluar objek telaah ilmu pengetahuan. Dari sisi lain nash (Al qur’an dan sunnah shahih) adalah kebenaran ilmu yang diangkat dari wahyu dan bisa kit sebut sebagai ilmu qauliyah, dan alam semesta serta segala makhluk-Nya serta kebenrn keteraturannya bisa kit sebut ilmu-ilmu kauniyyah dari afala tanzhurun, afala ta’qilun, afla tatafakkrun,dn lin sebagainya kita perlu menjadi sadar bahwa kita diperintahkan untuk menghayai secvara empiric apa yang ada dilingkungan kita.

Dalam ilmu kallam kita dikenalkan tiga kebenaran yaitu kebenaran Allah, kebenran manusia, dan kebenaran lam. Dlam telah ontologois, kami pilahkan dua kebenran saja. Pertama, kebenaran Allah dn yang ghaib yang berada diluar jangkauan ilmu pengethuan. Kedua kebenran manusiwi, temsuk pemahamn manusiaterhadp alm semest (yang bukan ghaib) . yang pertama berada dilur jangkauan ilmu pengetahuan, sedangkan yang kedua (seperti ruang angkas dengan beribu galxi merupakan objek ilmu pengethuan.

Kebenaran manusiawi adalah kebenaran sebagaimana tertangkap atau terpahami oleh manusia tentng dirinya, tentang alam semesta , dan tentagn wahyu. Kebenran sebagian ditangkap dan dipahami oleh manusia dari indranya, sebagian oleh logika sebagian oleh budi etiknya dan sebagian oleh fu’ad imannya. Sehingga kebenaran kebenaran tersebut kami sebut sebagai kebenara empiric sensual,kebenran empiric logic, kebenaran empiric etik dan kebenaran empiric transcendental. Yang pertama terhayati oleh indra kita yang kedua terhayati oleh rasio logika yang ketiga terhayati oleh super-rasio kita (menggunakan logika dan budi nurani kita ), dan yang kempat terhayati lewat trans-rasio kita( menggunakan logika yang dilandasi keimanan kita ). Empat kebenaran tersebut bukan kebenaran gannda, melainkan kebenaran tunggal multifaset. Pada satu kasus lebih menonjol tampil sensualnya yang lain etiknya dan seterusnya.

Kebenaran transendental yang tertuang dalam ilmu qauliyah berupa nash, dapat tampil pula dalam empat dataran, yaitu dataran sensual (berupa ayah,jamak : ayat ) dalam datarn logic (berupa isyarat ), dalam dataran etik (berupa hikmah dan hudan), dan dalam dataran transcendental (berupa rahmat).

Agar menyatu dan lebih jauh lagi mempribadi dalam pribadi ilmuan Muslim, dan agar siapapun penyaji agama dapat lebih mudah berkomunikasi dengan ilmuan yang berfikirnya masih dualistis atau malahan yang secra subtansial melihat agama sebagai tidak ilmiah, perlu disusun paradigma wahyu yang akhirnya mengintegrasikan ilmu dengan wahyu. Telaah kami diatas tentang kebenaran manusiawi kebenaran tunggal multifase, dan empat datran kebenaran wahyu tersebut merupakan sebagian dariupaya kami untuk membangun paradigma yang mengintegrasikan ilmu dengan wahyu. Kesemuanya itu ditinjau dari filsafat ilmu dan dieksistensikan ke metodelogi berfikir ilmiah.

  1. Ilmu Trandisipliner

Aristoteles kita kenal dengan teori-teori yang menjdi klasik dalam logika,biologi, psikologi, politik, fisika, atau ilmu pada waktu itu masih satu, belum terlalu terspesifikasi seperti sekarang. Juga, Ibnu Sina ahli kedokteran,ahli filsafat, hli matemtika, dan yng lainya. Sekarang kita mengenal sejumlah ahli yang spesialis,yang sangat intens keahliannya dibidang tertentu, disamping sejumlah ahli yang lebih generalis, yang sangat akstensif keahliannya merambah banyak bidang. Sejunlah bidang memang lebih berwatak multidisiplin, memerlukan bantuan disiplin ilmu lain untuk mengembangkannya. Juga, sejumlah potensi memerlukan ramuan interdisiplin, memerlukan kompilasi materi dri beragam disiplin ilmu untuk menampilkan keahlian professional tertentu.

Sekarang ini muncul tuntutan baru, yaitu keahlian transdisipliner. Keahlian seseorang dipandang lebih ideal apabilka mampu melihat secara transparan disiplin ilmu lain. Artinya mengenal subtansi ilmu lain sampai batas tertentu bukan mesti menjadi multidisiplin, bukan menjadi interdisipliner, melainkan mengenal beragam hal mengenai subtansi bnyak disiplin ilmu lain,sehingga dalam mengembangkan disiplin ilmunya sendiri tahu kawasan disiplin ilmunya dan tahu komplementasi atau kontradiksi yang dapat terjadi dengn disiplinilmu lain.

Ilmu agama islam kami pilahkan menjadi tiga, yaitu ilmu tentang akidah, ilmu tentang muamala, dan ilmu tentang akhlak. Yang pertama menjadi focus tugas ushulludin;yang kedua menjadi focus tugas syari’ah;dan yang ketiga menjadi tugas focus tarbiyah.

Dlam pradigma trandisipliner yaitu perlunya ilmu ilmu homaniora berkonsultasi pada akidah (terutama), perlonya ilmu sosial berkonsultasi pad akhlak,dn sciense serta teknologi berkonsultsi (terutama) pada syari’ah. Dilihat dari sisi para dosen yang ilmu dasar agama islam, itu mengundang makna bahwa mereka perlu mengembangkan kemampuan transdisipliner ilmu-ilmu vertical dibawahnya,agar dpat menjadi feedingsresources moralitas islam dalam berilmu pengetahuan. Sedangkan dosen yang dikembangkan di PTU, dan memiliki ghirah besar untuk mengembangkan ilmu menjadi islami (yaitu punya dasar moral islam ) maka acuan vertikalnya kesana ; yang science-teknologiberkonsultasi apakh biotek tertentu menyalahi syari’at atu tidak;apakah interprestasi kita tentang perkembangan keyakinan sejalan dengan akidah atau tidak; ilmu politik ekonomi atau seni bila hendak dikembngkan menjadi islami perlu mengcu pada moralitas menumbuhkan akhlak mulia. Ketika kita mengadakan eksperimentasi biotek,tolong konsultasi ken ash. Mana yang boleh, dan mana yang tidak. Seni perlu indah dan mensucikan hati. Ekonomi perlu keadilan dan berprikemanusiaan.

 

 

Ket ; diambnil dari buku kumpulan Dinamik Pemikiran Islam Di Perguruan Tinggi wacana tentang pendidikan agama islam. (Prof.Dr.H. Noeng Muhadjir)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s