Teodisi Ke Antropodisi

Oleh Dr Singkop Boas Boangmanalu

Dari Teodisi Menuju Antropodisi:

Abstrak
Problem teodisi yang berkutat pada kausalitas dan penyelenggaraan Tuhan sejak zaman Junani Tuhan terhadirkan sebagai terdakwa. Kejahatan dan penderitaan sebagai suatu privasi senantiasa hadir dalam realitas dan kehidupan.. Semenjak zaman renaisan teodisi mengalami pembalikan Kopernikan. Manusia sepenuhnya bertanggungjawab problem teodisi. Tuhan digusur otonomi sementara manusia sebagai subyek, pusat orientasi terafirmasikan. Sejak itu pulalah suatu teodisi sekuler muncul, yaitu antropodisi. Dalam antropodisi otonomi dengan kebebasan menjadi sentral. Tuhan tidak lagi menjadi kambing hitam,. Sebaliknya manusia bertanggung-jawab atas problem teodisi. Dengan antropodisi berbagai perspektif baru terkuakkan. Dalam pembalikan tersebut suatu pemikiran tentang humanisme baru menjadi suatu keniscayaan, sebagaimana misalnya pada humanisme eksistensial Sarterian.

Pengantar
Teodisi dalam ranah dan kajian filsafat boleh dikatakan kurang mendapat perhatian para filsuf dibandingkan dengan metafisika misalnya. Bahkan cenderung terlupakan. Pada hal harus diakui materi yang dikandungnya sangat mendasar dan penting dalam upaya pemahaman manusia. Spesifikasi teodisi terletak pada penekanan atas kausalitas dan penyelenggaraan atau proviodensi Tuhan yang merupakan bagian substansial apabila mempercakapkan manusia.Problem tentang teodisi seumur dengan manusia itu sendiri. Konstatsi ini sejalan dengan paham kreasionisme lebih-lebih setelah buah pengetahuan baik dan buruk dimakan oleh Adam. Pelanggaran perintah Tuhan adalah awal dari teodisi yang dimaksudkan.

Keburukan (evil) mencoreng wajah kosmikal realitas termasuk mahluk lain Di balik peristiwa teoditik tersebut kejahatan dalam tataran fisik manusia tereksplisitkan. Segalanya berantakan. Demikian juga kejahatan dalam ranah moral selamanya akrab dengan manusia. Ketidak-adilan menjadi pemandangan sehari-hari di setiap zaman. Singkatnya kejahatan tetap bersimaharajalela.

Antropodisi menjadi kepedualian para filsuf semenjak renaisans. Pada masa pencerahan, antropodisi sebagai teodisi pembebasan dewasa ini semakin terjebak dalam alienasi. Hegemoni dan primordialisme filsafat dalam berbagai pencagbangannya, agama yang terkunkung dalam insolennya selama akan semakin berorientasi pada emansipasi dan paretsipasi yang menjadi hakikat antropodisi yaitu suatu pembalikan Kopernikan dalam teodisi yang berorientasi pada tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, sekaligus realisasi otonomi manusia sebagai pusat jagat raya.

Dalam konteks inilah alienasi sebagai suatu varian kejahatan (evil) vis a vis penderitaan (suffering) dalam tataran seminal diangkat ke permukaan sekaligus digeserkan ke tataran antropodisi, suatu risalah tentang kasualitas dan providensi Tuhan serta kaitannya dengan tanggun jawab manusia sebagai suatu stimulant dan langkah menuju pemahaman manusia secara lebif substansial terutama dalam filsafat manusia. .

Alienasi Sebagai Bildung
Alienasi sebagai suatu varian dari teodisi terutama kaitannya dengan kausalitas Tuhan penting untuk meletakkannya ke dalam status ontologisnya sebagai bildung, yaitu alienasi dalam tataran makna yang disandangnya sebagai sesuatu yang bersifat esoteris.

Alienasi berakar pada pemahaman manusia dalam kreasionisme. Alienasi dalam perspektif religius berakar pada kredo kejatuhan Adam pada dosa menjadi sentral pada pemikiran abad pertengahan sebagaimana tertorehkan pada ajaran Agustinus yang menjadi acuan bagi kristenitas. Alienasi itu dengan demikian boleh dikatakan seumur dengan manusia itu sendiri. Akan tetapi adalah Fichte, idealis Jerman abad kedelapanbelas pertama kali menggunakan istilah istilah alienasi. Hegel dalam Fenomenologi Roh menampilkan alienasi sebagai yang mengasingkan diri ke alam dalam proses pengenalan diri melalui tahapan dialektika menuju roh absolute. Pengenalan diri tersebut dicapai melalui lompatan lompatan dialektis melalui kesadaran manusia. Realisasi roh obyektif menuju roh absolut dalam kesadaran manusia seperti inilah dimaksudkan sebagai bildung. Dalam konteks ini alienasi sebagai suatu varian dari kejahatan teoditik yang dimaksudkan menjadi fokus dalam tulisan ini dipahamkan.

Alineasi sebagai suatu konsep bildung serta kaitannya antropodisi hampir dapat dipastikan jarang diangkat ke permukaan. Antropodisi sebagai suatu cabang filsafat terabaikan. Padahal kehadirannya sangat penting terutama dalam persentuhannya dengan manusia dan kehidupan dalam dunia realitas secara tak terelakkan dihadapkan pada alienasi. Alienasi selamanya berada dalam suatu keadaan yang konstan dalam dirinya sarat dengan kutub-kutub yang bertentangan, dalam monade yang memilki kepekaan dan aktivitas di luar logika dan huikukm eksoteris dan otonom dalam dirinya.

Alienasi sebagai bildung serta kaitannya dengan antropodisi relevan diketengahkan terutama pada era penolakan terhadap narasi agung pemikir postmodernisme. Konsep konsep, dogma lama memperoleh interpretasi baru dalam antropodisi dalam suatu rangkuman berbagai pemikiran dan aliran. Suatu pemikiran eklektik untuk menyikapi permasalahan eksistensial manusia terutama alienasi masyarakat modern menjadi suatu kebutuhan, mengingat teodisi yang senantiasa terpaut dengan intervensi Tuhan, keterlibatan Tuhan tidak memperlihatkan kekuatannya dalam memerangi kejahatan dan kesengsaraan.

Bildung menjadi jiwa filsafat Jerman abad kedelapanbelas, bildung tereksplisitkan terutama pada Herder dan memuncak pada pemikiran humaniora abad kesembilanbelas, mencakup ide yang lebih awal dari sebuah bentuk alamiah yang merujuk pada penampakan eksternal dan bentuk bentuk yang diciptakan oleh alam.

Dalam arti luas bildung juga mencakup kebudayaan dimana manusia mengaktualisasika seganap bakat dan potensinya. Pada Kant, bildung menjadi perhatian khusus. Sedangkan pada Hegel terpahamkan sebagai “mendidik” dan “memelihara” dalam kontek pemahaman Kantian. Humbolt membedakan bildung dari kultur, oleh Gadamer dirampak sebagai sikap pikiran dan perasaan intelektual total dan usaha moral yang mengalir secara selaras ke dalam kepekaan dan karakter sarat dengan tradisi mistik kuna yang analog dengan bentuk (form). Pada bentuk (form) tidak ada makna taksa sedangkan pada bildung ketaksaan menjadi suatu keharusan.

Bildung lebih menggambarkan hasil proses menjadi daripada proses itu sendiri. Hasil dari bildung tidak dicapai dengan cara melakukan konstruksi teknis, akan tetapi tumbuh dari proses pembentukan dan pencapaian batin. Bildung analog dengan bahasa Junani “psyches”, yaitu tidak mempunyai tujuan dari luar dirinya. Alienasi sebagai bildung melampaui konsep tentang pemeliharaan terhadap bakat dan potensi tertentu.

Alienasi sebagai bildung merupakan terapheutik dalam filsafat manusia dan ilmu-ilmu humaniora yang relevan dikaitkan dengan alienasi. Alienasi sebagai suatu bildung sejak renaisans memperolah makna yang sepsifik dalam Hegel dan selanjutnya menjadi perhatian Marx. Ia menelusuri hakikat manusia dengan segenap permasalahan dan dalam kedudukannya sebagai mahluk serba butuh, manusia di dunia dan filsafat kerja yang mengisyaratkan terciptanya kebebasan. Namun penting untuk digarisbawahi bahwa alienasi sebagai bildung tetap menjadi permasalahan esoterik luput dari perhatian para filsuf.

Alienasi adalah suatu konsep ambigu mengingat watak isoterik yang dikandungnya penuh dengan makna taksa. Teodisi sebagaimana dikemukakan oleh Leibniz terkait dengan aktivitas kreatif dan dinamis monade yang tertutu, tidak berjendela serta terstimulir oleh kehendak untuk mengada lain di luar dirinya, mengatakan bahwa dunia ciptaan yang terbaik dari dunia buruk lainnya tetap melahirkan kejahatan dan penderitaan. Leibnikz telah mewngisyarat problem teodisi sebagai isyarat bagi pemahaman otentik tentang manusia. Teodisi juga menjadi kepedulian Voltaire. Melalui Candida dikatakan gempa bumi Lisbon adalahbukti dari kejahatan. Gempa tersebut memberantakkan kesempurnaan dan keteraturan dunia fisik, alam. Sesuatu yang buruk terpaparkan.

Alienasi adalah suatu konsep filosofis yang sarat dengan makna bildung. Istilah ini diperkenalkan oleh Herder dalam visi historisitas diartikulasikan oleh Hegel dalam Phenomenology of Mind dan Philosophy of History. Dalam buku ini bildung mengandung arti sebagai “membuka” dan “membiarkan diri” terbuka terhadap sesuatu yang lain, untuk yang lain menuju universalitas. Alienasi sebagai bildung terbuka kepada kritik dan refleksi filosofis adalah suatu keniscayaan ideal mengingat unsur unsur yang dikandungnya seperti historikalitas, linguistaklitas, erlibnis dan unsur arkaik lainnya menopang antropodisi. Tema alienasi sebagai sesuatu yang institusionalitas bukan orang perorangan, bukan kaum buruh tetapi seluruh peradaban dan kebudayaan menderita karena alienasi yang melembaga. Diperlukan suatu orientasi yang lebih luas dan ontologis, kesadaran akan sasaran yang bersifat ideologis yang memainkan peran yang bersifat rohani atau religiusitas, serta sakralitas mematikan potensi, kemungkinan menuju emansipatoris manusia dan optimalisasi aktualisai diri. Alienasi mutlak diletakkan sebagai bildung.

Alienasi sebagai bildung serta kaitannya dengan geistwissenschaften Dilthey, dan fenomenologi Husserl. Dalam antropodisi karya-karya filsuf semenjak Aristoteles sampai dengan pemikir abad modern termasuk praxis Marxian, eksistensialisme, proyek humanitas Neo-Marxisme yang berpuncak pada Jurgen Habermas alienasi sebagai bildung terangkat ke tataran paradigma baru. Tokoh generasi kedua dari Mazhab Ia memproklamasikan suatu terapi alienasi melalui komunikasi. Dikatakan bahwa melalui komunikasi dialog yang merupakan syarat terciptanya emansipasi manusia dalam bingkai epsitemologi baru.

Melalui peletakan alienasi dalam perspektif bildung filsafat selanjutnya memperoleh cakrawala baru dalam mensiasati kehidupan dan pemaknaan manusia secara lebih mendasar. Dalam antropodisea diskursus alienasi menjadi aktual dipercakapkan. Bukankah setiap manusia sepanjang sejarahnya senantiasa terlibat dalam proses bildung dan melampaui kealamiahannya.

Alienasi sebagai bildung adalah suatu cara mengada di dunia, in der welt sein seperti yang dikotbahkan oleh Hiedegger dan kristenitas dengan suatu formula “ada menjadi manifest” dan “tidak ada yang tersembunyi adalah suatu tantangan bagi modernitas dan posmodernitas yang semakin marak pada abad milenium ini.

Subsititusi teodisi ke dalam antropodisi adalah pembalikan Kopernikan dalam filsafat manusia. Antropodisi menggeserkan permasalahan klasik tentang teodisi yang nyaris tidak mentuntaskan tugasnya sesuai dengan visi liberasi manusia dan emansipatoris dan keharusan partisipatoris dimana setiap individu dengan kesadarannya mengaktualisasikan segenap bakat dan potensi yang dimiliki. Dengan antropodisi diharapkan pertanyaan Kant tentang apa itu manusia melengkapi pertanyaan tentang “apa yang harus saya perbuat” menjadi tuntas dalam antropodisi.

Kejahatan dan penderitaan dalam alienasi sebagai bildung dalam tataran antopodisi membuka suatu orientasi dan berbagai pespektif emansipatoris. Permasalahan modernitas dan postmodernitas dewasa ini., termasuk memberikan perspektif baru bagi kemanusiaan.

Perlu digarisbawahi bahwa bentuknya yang eksektik dan indefinitif menjadi kelemahan sekaligus kekuatan antropodisi. Tanpa bentuk yang jelas dan definitif antropodisi menjadi terapheutik dalam upaya untuk menjamah ranah sakral, makna tersembunyi yang menjadi obsesi kaum fenomenologis dan mengartikulasikan cara mengada dalam dunia realitas terproyeksikan dalam eksistensialisme.

Antropodisi
Sesuai dengan watak alienasi sebagai bildung suatu teodisi sekuler dibutuhkan. Teodisi yang dimaksudkan adalah antropdisi. Antropodisi diharapkan dapat merespon dan menyikap secara sungguh-sungguh manusia problem teodisi. Antopodisi pada gilirannya terarah sedemikian rupa dan berfungsi sebagai terapheutik bagi upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu kejahatan dan penderitaan, sekaligus mengkondusifkan manusia dalam aktivitas rekonstruksi diri, aktualisasi segenap potensi dan nilai humanitas yang menjadi komitmen dan orientasi renaisans dan pencerahan.

Dalam antropodisi Tuhan tidak lagi terhadirkan sebagai terdakwa. Sebaliknya manusia itu sendiri yang bertanggung-jawab atas alienasi. Didalamnya intervensi Tuhan ditolak. Dalam The Structure of Evils, Ernest Becker mengatakan bahwa antropodisi sebagai teodisi sekuler merupakan alternative bagi solusi keterpurukan manusia. Antropodisi terniscayakan sebagai terapheutik baggi lahirnya orientasi baru filsafat yang menekankan kemaslahatan manusia di dunia. Namun penting digarisbawahi bahwa antropodisi yang digagasnya mutlak bertolak dari manusia, serta mengekspresikan watak sui generis manusia itu sendiri. Di dalamnya segenap kompleksitas manusia yang merupakakan representasi dari “realitas ontologis” manusia tanpa terkait kausalitas dengan Tuhan. Maksudnya, bahwa antropodisi adalah suatu teodisi sekuler yang secara langsung dan definitif mengisyaratkan tanggungjawab manusia dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kejahatan dan penderitaan, yaitu suatu tanggung jawab khas dan murni manusiawi. Antropodisi yang ditawarkan adalah teodisi sekuler berbeda sama sekali dari teodisi sebelumnya. Antropodisi tersebut secara telak menohok kepada realitas manusia kongkret, yaitu manusia sebagai pusat jagat raya. (Becker : 18).

Antopodisi memberikan pemahaman baru terhadap teodisi tanpa harus menyeludupkannya dil luar manusia. Teodisi sekuler adalah sebutan lain terhadap antropodisi. Dalam antropodisi manusialah yang menjadi pusat jagat raya. Varian kejahatan dan penderitaan dalam bentuk alienasi menurut pengertian bildung harus sungguh sungguh manusiawi dan bukan pencitraan Tuhan. Dalam antropodisi tanggung-jawab terkait secara pasti dengan tanggung-jawab manusia. Kejahatan harus dijelaskan sebabagi ada dan hadir secara kongkret di dunia dengan suatu tanggung jawab manusia itu sendiri. Suatu kejahatan minus intensi atau justifikasi Tuhan. Tuhan diletakkan di luar. Sebaliknya manusia menjadi prinsip eksplnatoris lepas dari kepercayaan, kategori kategori Tuhan. Terpisah dari kehendak Tuhan dan sepeuhnya terletak pada kekuatan manusia itu sendiri. Dalam teodisi manusia mengafirmasikan otonominya secara definitif dengan suatu formula Kant yang menegaskan bahwa manusia mutlak diletakkan sebagai tujuan dan buka sebagai alat.

Dalam antropodisi eksklusifitas terhindarkan, sekat-sekat ilmu terbuka dan stagnasi pemikiran tercairkan. Agama menjadi emansipatoris. Agama untuk manusia dan bukan manusia untuk agama. Didalmnya humanitas terafirmasikan, yaitu suatu humanitas yang kongkret dengan segenap paradoks-paradoks yang dikandungnya. Singkatnya suatu revoulsi paradigmatik dalam epistemology, pembalikan Kopernikan yang menempatkan manusia sebagai yang otonom dari dan bagi dirinya, menuntut suatu pertanggunjawaban khas manusia. Dalam konteks inilah pemikiran yang tercakup dalam pelbagai disiplin ilmu semakin terfokus pada emansipasi manusia.

Alienasi, sesuai dengan watak esoterik yang dikandungnya dalam antropodisi semenjak Aristoteles sampai dengan pemikir abad modern termasuk Marxisme, eksistensialisme, proyek humanitas Neo-Marxisme yang berpuncak pada Jurgen Habermas alienasi sebagai bildung terangkat ke tataran paradigma baru. Teori kritisi, postmodernisme, strukturalisme dan post-strukturalisme, konstruksi dan dekonstruksi, fenomenologi dan hemeneutika serta ilmu manusia (science of men) menjadi landasan bagi antropodisi dalam menyikapi alienasi sebagai bildung. Antropdisi sebagai ekletik tetap bertolak dari pemikiran mendasar, ontologi, postmodernisme, multikulturalisme, feminisme, agama, budaya, sosial politik. Lebih dari diharapkan filsafat tergeserkan ke dalam praxis, multikulturalisme sehingga filsafat Barat bergandengan dengan pemikiran termasuk tradisi, historisitas, strukturasi dan berbagai pemikiran loka sebagaimana diisyaratkan dalam post modernisme. Dalam antropodisi kausalitas dan providensi Tuhan, akan tetapi sesuai dengan visi emansipatoris yang berorientasi pada pembalikan Kopernikan yang dimaksud ke dalam tataran antropodisi.

Alienasi dalam tataran antropodisi secara signifikan menjadi kepedulian idealisme Jerman dan mencapai puncaknya pada Marx. Gagasan-gagasan humanitas Marx terutama pada masa mudanya dalam Paris Manuscript meletakkan alienasi dalam konteks antropdise, yaitu suatu pemahaman tentang kejahatan dan kesengsaraan sepenuhnya menjadi tanggung jawab manusia. Marx menelusuri sejarah keterasing tersebut dengan mengkaitkannnya dengan analisis hakikat manusia sebagai mahluk serba butuh, uang sebagai substitusi komoditas, ada di dunia dan kerja sebagai mediasi. Alienasi sebagai akibat kepemilikan pribadi menyebabkan manusia kehilangan statusnya sebagai mahluk mahluk serba butuh. Kerja sebagai mediasi dalam sesuai dengan hakikatnya sebagai m mahluk yang serba butuh, alienasi tidak terhindarkan. Manusia terusir dari kerjanya. Pada masyakat kapitalis, buruh bekerja bukan untuk merealisaikan bakat dan potensinya, akan tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan perut. Buruh terasing dari produknya. Keterasingan ekonomis selanjutnya melahirkan keterasingan religius (Hardiman).

Antropodisi merupakan tema sentral dalam eksistensialisme abad XX. Titik tolak kebebasan sebagai ciri mengada manusia sebagaimana dikatakan oleh Heidegger selanjutnya tereksplisitkan pada Nietzsche dan Sartre. Sartre secara tegas menyatakan sikapnya tentang antropodisi sebagai tanda keagungan manusia. Gagasan Sartre tentang manusia terhukum oleh kebebasannya.. Tradisi pendakwaan Tuhan untuk memperoleh makna tersembunyi dari misteri manusia dan kehidupan Dostoievsky meletakkan dasar-dasar bagi antropodisi, Dostoievsky mengatakan pemahaman terhadap manusia mengisyaratkan pemahan terhadap tuhan. Itulah sebabnya ia tidak membuunuh Tuhan sebagaimana dilakukan oleh Nietzsche. Namun penting dicatat bahwa hubungan resiprokal manusia-Tuhan merupakan terapheutik lahirnya humanisme baru. Proklamasi Kirilovian tentang keharusan menjadi Tuhan, membuka era baru dalalm sejarah manusia tersebut dan sekaligus pernyataan afirmatif terhadap antropodisi selanjutnya menjadi rujukan bahkan menjadi landasan bagi Sartre dalam merndesain humanisme eksitensial.

Kejahatan dan penderitaan ditorehkan dalam Brothers Karamazov. Teodisi merupakan kepedulian Dostoievsky. Teodisi yang ditawarkan Dostoievsky adalah teodisi yang unik sebagaimana ditegaskan oleh Camus. Teodisi tersebut adalah representasi dari absurditas itu sendiri. Adanya kejahatan dan penderitaan adalah bukti kesewenang-wenangan Tuhan. Arogansi Tuhan mengakibatkan manusia menderita. Kausalitas dan providensi Tuhan sungguh tidak terpahamkan. Bahkan ironis anak-anak tak berdosa menjadi korban kepongahan Tuhan. Melalui Ivan Karamazov, Dostoievsky mengatakan : “Kalau demi harmoni selestial lalu anak-anak yang tak berdosa menjadi korban” dan “Kalau ini merupakan prasyarat bagi terciptanya harmoni selestial, maka karcis masuk sorga yang menjadi milikku wajib dikembalikan”, demikian Ivan, tokoh protagonist novel terebu. Melalui Ivan, Dostoievsky menohok kepada eksistensi manusia. Namun sama dengan Epicurus teodisi solusi terhadap teodisi tetap merupakan problem yang tak terpecahkan.

Bagi Dostoievsky teodisi mengekspresikan nuansa eksitensial. Dengan argumen nalar dan rasionalitas Ivan menolak penderitaan anak-anak tak berdosa hanya dengan alasan harmoni selestial. Pemecahan teodisi dengan menekankan pada prinsip keselaran, keadilan yang tidak masuk akal harus ditolak. Kasih Tuhan dituduh absurd dan tak terpahamkan. Algojo, ibu dan anak yang disiksa akan saling berpelukan dan menyatakan “Engkau benar Tuhan”. Ivan tidak sudi menerima pemecahan seperti itu. Menurut Ivan pemecahan tersebut immoral dan bertentangan secara diametrical dengan prinsip rasionalitas dan tatasusila. Menurut Ivan biaya yang dibayarkan kepada harmoni berlebihan itu tidak masuk akal. Dikatakan : “sebagai orang jujur, saya bahkan harus mengembalikan tiket masuk surga saya”. Ditambahkan: “Saya bukan menolak untuk mengakui Tuhan, tetapi dengan penuh hormat saya menggembalikan tiket tersebut kepadaNya. Dostoievsky mengatakan bahwa manusia adalah bebas. Karena ia bebas, maka segala sesuatunya diselesaikan secara otonom oleh manusia itu sendiri. Kalau Tuhan tidak ada, maka aku adalah Tuhan. Ditandaskan bahwa menjadi manusia berarti menjadi Tuhan. Inilah inti dari problem teodisi dan antropodisi yang sesungguhnya. Dostoievsky berkutat antara dua kutub tersebut. Sedangkan menjadi Tuhan mengisyaratkan manusia untuk melakukan tindak bunuh diri. Dengan membunuh diri manusia menjadi Tuhan. (Dostoievsky [BK] : 306-309].

Dostoievsky mengkaitkan teodisi dengan kebebasan manusia. Atas nama kebebasan absolut yang menjadi obsesi manusia sebagaimana terwakilkan dalam Inkuisitor Agung dalam Brothers Karamazov merupakan wacana yang paling mengesankan dalam mempercakapakan problem teodisi Sementara sosok dan kerahiman Tuhan dalam kaitannya dengan manusia tertuangkan dalam The Devils, merupakan landasan bagi konsep absurditas Camus dan kebebasan absolut Sartre dan kehendak berkuasa Nietzshe. Kirilov adalah sosok manusia antropodistik yang secara ketus menampilkan citra baru. Ia sekaligus memproklamasikan suatu pemikiran radikal tentang problem teodisi, dalam absurditas menggeserkan teodisi yang mengisyaratkan manusia agar mengamini absurditasnya. Suatu antropodisi yang berbeda dari eksistensialisme lain terglarkan. Kirilov menyangkal Tuhan. Tuhan mestinya ada. Akan tetapi nyatanya tidak ada. Kalau Tuhan tidak ada, maka saya adalah Tuhan. Ditandaskan bahwa takdir kebebasan manusia mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak ada. Sebab jika Tuhan ada, maka kebebasanku ditentukan olehNya. Dikatakan apabila Tuhan dan imortalitas tidak ada, maka segalanya diperbolehkan. Gagasan tersebut menuntut manusia untuk mempertanggungjawabkan kebebasannya sebagai representasi dari sosok dan hakikat serta keotentikan dirinya yang sarat dengan bipolaritas kerajaan Tuhan dan kerajaan setan, ditengah-tengahnya manusia bereksistensi. Dalam gagasan radikal teodisi, Tuhan terhadirkan dalam bahasa manusia. Tuhan terhadirkan dalam realitas hidup. Transendensi dan imanensi terleburkan dalam suatu cakrawala humanitas itu sendiri. Dostoievsky lebih memprioritaskan manusia daripada Tuhan. Tuhan diturunkan ke dunia. Orientasi tersebut didukung oleh semangat dan keyakinan bangsa Rusia yang menempatkan ke dunia imanensi. Dostoievsky mengatakan bahwa kerajaan surga tercipta di dunia, namun Tuhan tetap hadir dalam realitas, dunia kongkret. Di sini antropdosi berkohesi dengan teodisi. Diantara keduanya manusia bereksisteni.

Dalam Eksistensialisme dan Humanisme, antropodisi terpaparkan secara telak. Sartre mengatakan bahwa humanisme eksistensial membuka era baru dalam sejarah manusia. Ungkapan seminal tersebut tidak lain adalah suatu antropodis. Ditambahkan bahwa kebebasan manusia menjadi otentik bukan terletak pada ada atau tidak ada Tuhan. Tuhan tidak berurusan dengan kebebasan. Kalaupun Tuhan ada, maka Tuhan tidak berpengaruh terhadap kebebasan. Kalau Tuhan ada, maka kebebasan menjadi deterministik. Kebebasan kehilangan keotentikannya. Manusia itu sendirilah yang menentukan kebebasnnya. Dalam konteks ini eksistensialisme tidak kehilangan perspektif sebagaimana dituduhkan oleh lawan lawan eksistensialisme. Sebaliknya humanitas, demikian Sartre memperoleh nafas baru, yaitu humanitas tanpa Tuhan. Humanisme tanpa Tuhan adalah antropodisi. Dalam antropodisi inilah kebebasan terafirmasikan.

Antropodisi Sartre membukan suatu humanisme baru, yaitu humanisme eksistensial tanpa Tuhan. Dalam humanisme tersebut dikatakan bahwa dengan ketiadaan Tuhan hilang pulalah seluruh kemungkinan menemukan nilai-nilai yang Ada danb juga dapat dipahami manusia. Mengutip Dostoievsky ditandaskan bahwa “Apabila Tuhan tidak ada, tidak akan ada lagi larangan”. Ungkapan ini menjadi titik berangkat eksistensialisme, demikian Sartre. Memang segala sesuatu diperbolehkan jika Tuhan tidak ada, sebagai akibatnya manusia menjadi sendirian karena ia tidak dapat menemukan apapun, baik di dalam maupuin di luar dirinya sendiri, untuk dapat bergantung. Tidak ada lagi determinisme, manusia bebas, manusia adalah kebebasan. Apakah Tuhan tidak ada, tidak ada lagi tersedia nilai-nilai atau imperative imperative moral yang dapat melegitimasikan tingkah laku kita. (Sartre [EE: 56-57).

Pada Nietzsche, antropodisi mengambil bentuk yang ekstrem sebagai antimony terhadap kristenitas. Dalam Anti Kristus, dikatakan bahwa kini muncul suatu masalah absurd. “Bagaimana Tuhan bias membiarkan itu terjadi? . Nalar edan komunitas memberikan jawaban absurd yang benar-benar mengerikan, demikian Nitzsche. Dakatakan: Tuhan memberikan putranya sebagai pengampubnan dosa sebagai pengorbanan. Seketika itu juga habislah injil! Pewngorbanan karena dosa, dan itu dalam bentuknya yang paling menjijikkan, barbaric, pengorbanan manusia tidak bersalah demi dosa-dosa manusia yang bersalah! Sungguh paganisme yang berdarah! Sedangkan Yesus telah membuang konsep “salah” itu sendiri – Dia telah menolak adanya jurang antara Tuhan dan manusia, Dia menjalani hidup dalam kesatuan Tuhan dan manusia sebagai “kabar gembira”nya dan bukan sebagai hak istimewa. (Nietzsche [AK]: 242-243).

Kutipan di atas merupakan teodisi sekuler yang paling substansil dalam sejarah filsafat. Kalau Dostoievsky dan Camus menempatkan anak-anak kecil tak berdosa sebagai “tumbal” suatu harmoni selestial, pupuk bagi harmoni masa depan, Nietzsche memperolok-olok manusia yang mengorbankan Kristus, Tuhan sendiri. Teodisi Nietzsche adalah teodisi pengorbanan Tuhan bagi manusia. Itulah yang hendak digugat oleh Nietzsche terhadap kristenitas. Pengorbanan Kristus bagi manusia yang berdosa merupakan kebalikan dari pengorbanan anak-anak kecil yang tidak berdosa. Suatu teodisi pada tataran adikodrati dirancang olehnya sebagai terapheutik bagi terciptanya manusia Agung. Nietzsche meproklamasikan suatu antropodisi humanitas sebagai suatu peringatan bagi manusia yang mengatakan bahwa manusia itu sendirilah yang menyelesaikan masalahnya. Penderitaan, kepedihan dan segenap kesusahan bukan sebagai sesuatu yang harus disingkirkan akan tetapi sebaliknya untuk diamini. Antropodisi tersebut merupakan hakikat dari segenap kemustahilan yang ditolak oleh kristenitas dan peradaban Eropa Barat yang menampilkan kembali harmoni semangat dyaonisian dan apollonian yang telah diberantakkan semenjak Socrates. Antropodisi yang ditawarkan adalah antropodisi yang menghanat manusia ke masa depan untuk menjulangkan diri,. Manusia, demikian Nietzsche harus menjulangkan diri sebagai manusia agung tanpa menopang diri kepada suatu kekuatan lain di luar dirinya.

Antopodisi mengafirmasikan sekaligus memaknai humanisme dalam arti yang “sesungguhnya” dan bukan artifisial dan naïf mirip dengan yang dilakukan Sartre dan berbagai eksistensialis lainnya. Dalam antropodisi manusia secara otonom bertanggung-jawab terhadap permasalahan kebebasan yang menjadi beban dan takdirnya. Manusia terhukum oleh kebebasannya memperoleh maknanya yang otentik Humanitas seperti ini tidak lain adalah antropodisi. Dalam humanitas baru tersebut kausalitas dan providensi tuhan tergeserkan kepada manusia. Keputusasaan, kekosongan, kecemasan dan segenap bentuk ketidak-berdayaan termasuk faktisitas manusia bukan urusan Tuhan. Semua itu merupakan konsekwensi logis dari manusia sebagai mahluk eksistensial dalam konteks tragedi nabi Ayub.

Antropodisi bukan menafikan Tuhan lebih-lebih lagi mengkambinghitamkanNya sebagai terdakwa. Dalam antropodisi kesadaran tergeserkan ke dalam kesadaran manusia dan bukan kesadaran Tuhan. Problem teodisi klasik memperoleh pemahaman baru dimana kejahatan dan penderitaan adalah kesadaran reflektif humanitas. Humanitas antropodiktik yang dimaksud mirip dengan humanitas eksistensialis sebagaimana diintrodusir oleh Sartre. Dalam Existensiailisme dan Humanisme, ditandaskan bahwa humanisme baru tidak lagi dikecohkan oleh pertanyaan tentang ada atau tiadanya Tuhan. Humanisme baru tidak lagi terseret ke dalam pertanyaan ada atau tidak Tuhan. Bagi Sartre manusia menjadi suatu realitas dengan syarat-syarat eksistensinya juga akan menumbuhkan humanisme. Ditambahkan bahwa justru dalam dalam humanisme eksistensial rasa cinta, kebersamaan dan humanitas justru terafirmasikan.

Antopodisi mengafirmasikan sekaligus memaknai humanisme dalam arti yang “sesungguhnya” dan bukan artificial dan naïf. Dalam antropodisi manusia secara otonom bertanggung-jawab terhadap permasalahan kebebasan yang menjadi beban dan takdirnya. Manusia terhukum oleh kebebasannya memperoleh maknanya yang otentik dalam antropodisi. Kecemasan yang menjadi temna sentral eksistensialisme seperti ditandaskan oleh Kierkegaard, kebebasan menuntut tanggung jawab. Manusia terkutuk oleh kebebasan yang menjadi gagasan inti pemikiran Sartre juga mengisyaratkan tanggungjawab yang dimaksudkan. Absurditas Camus dan disorientasi Kafka, dan orientasi religius pemikir lain dalam kaitannya dengan kejahatan dan penderitaan serta permasalahan humanisme yang semakin runyam dewasa ini mengisyaratkan pentingnya antropodisi sebagai suatu alternatif. Sungguh absurd akan tetapi itulah manusia, yautu manusia yang kongkret justru dalam keabsurdannya. Absurditas inilah selanjutnya menginspirasikan Camus dalam paparannya yang tidak absurd lagi tentang manusia dalam karyanya yang sohor dan provokatif dalam Mite Sisifus.

Penutup
Permasalahan alienasi juga menjadi pergumulan para epistemolog pada era modernitas dan postmodernitas. Dekonstruksi Derrida dan strukturalisme Faulcaut dan Levis Strauss cenderung menempatkan manusia dalam kerangka struktur, namun lupa akan makna alienasi sebagaimana diperingatkan oleh Heidegger. Permasalahan peradaban sampai dengan dewasa ini ternyata tetap meprihatinkan.

Atas dasar tersebut disdkuirsus tentang alienasi terangkat ke permukaan. Teori kritisi, postmodernisme, strukturalisme dan post-strukturalisme, konstruksi dan dekonstruksi, fenomenologi dan hemeneutika berkontribusi terhadap tercitanya suatu teodis pembebasan pada masa masa dating, yaitu antropodisi sejalan dengan “proyek” geistwissenscahten Dilthey, sama seperti Husserll yang terobsesi menjadikan fenomenologi sebagai ilmu rgorus dalam ilmu humaniora..

Antropodisi membuka perspektif baru pada tataran emansipatoris dan partisipatoris dalam menghadapi permasalahan alienasi. Dalam antropodisi berbagai disiplin ilmu kemanusiaan (science of men) yang menyangkut rasionalitas, irrasionalitas, agama dan mitologi serta dimensi orientasi linguistikalis tersatukan, yang pada prinsipnya mengunggulkan manusia sebagai pusat jagat raya.

Antopodisi mendudukkan manusia sebagai yang otonom dalam segenap parkara kehidupan, terutama menyikapi problem teodisi. Teodisi adalah filsafat masa depan yang mengekspresikan humanitas dalam pengertian humanitas eksistensial. Di dalamnya Tuhan diabdikan kepada keagungan manusia dan bukan sebaliknya. Teodisi adalah filsafat manusia dalam arti yang sesungguhnya, di dalamnya prinsip dan tuntutan emansipatoris dan partisipatoris terafirmasikan.

Daftar Rujukan
Becker E. Sturcture of Evil. The Free Press. Collier MacMillan Publisher. London, 1976.
Bambang F. Filsafat Modern. Dari Machiavelli Sampai Nietzsche. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama ,Jakarta, 2000.

Camus, Mite Sisifus. PT.Gramedia, Jakarta, 2002.

Dostoievsky F.M. Brothers Karamazov.Oxford University Press, 1994.

Gadamer H.G. Kebenaran dan Metoda. Pengantar Filsafat Hermeneutik. PT. Gramedia Pustaka Pelajar, Jakarta, 2002..

Novack, G. Existenstialism Versus Marxism Conflicting Views Humanism. Delf Publishing Co., Printed in US.A..

Meszaros I. Marx’s Theory of Alienation. Harper Torch Books. New York, Evanston,
San-Fransisco, London, 1970.

Zordan Z.A. Karl Marx : Economy, Class and Social Revolution. Charles Scribner Sons. New York, 1971

Marx K and F. Engels. German ideology. International Publiher. New York, 1961.

Sartre J. P. Existentialisme dan Humanisme. Pustaka Pelajar, Jokyakarta, 2002.

MacGlynn J.V. A Metaphysics of Being and God. Parentice-Hall, Inc. Engelswood Cliffs, N. J. 1966.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s