AGAMA, NEGARA DAN TRANSFORMASI SOSIAL

AGAMA, NEGARA DAN TRANSFORMASI SOSIAL

Oleh : Dedi Hendriana

Agama merupakan suatu pengharapan manusia untuk menuju berkehidupan yang sempurna. Jeritan dari hati – hati manusia yang mendambakan ketenangan jiwa. Secara fitrah/natural manusia menginginkan agama. Dengan tingakat pola pikir atau pengetahuan manusia yang terus berkembang tak heran jika manusia mencoba untuk menciptakan agama dengan terobsesi untuk kehidupan yang lebih sempurna. Oleh karean itu manusia akan menempatkan dirinya lebih tingi atas pemikirannya. “Memeluk agama ataukah Dipeluk agama ?”. Dengan literature pemikiran manusia yang berbeda – beda sehingga akan menghasilkan bentuk yang plural. Keanekaragman / pluralitas fikiran manusia akan memunculkan kepercayaan – kepecayaan yang berbeda pula sebagai dasar persepsi agama. Mampukah kita berada dalam suasana perbedaan yang begitu kompleks ?.

Fenomena yang terjadi sekarang ini banyak yang bermunculan agama – agama yang menjanjikan sebuah harapan yang mengklaim agamanya yang lebih unggul, lebih hebat dari yang lain yang menjadi pemicu konflik pada masa sekarang ini. Kondisi sekarang ini yang berkecenderungan religiusitas menonjolkan sebuah kekerasan anarkis dan pelanggaran kemanusiaan dengan dalih agama dan inilah tema klasik konflik dalam kehidupan manusia. Konflik yang muncul dengan dalih agama yang sekarang ini terjadi dapat mengancam kepadakeutuhan kesatuan dan persatuan Negara republic Indonesia. Agama memposisikan dirinya sebagai hakim semua kehidupan Negara.

Agama mendikte kekuasaan Negara, meligitimasi hukum Negara dan menciptakan suatu komunitas teologis, padahal Negara kita bukan dominasi milik salah agama melainkan didalamnya ada beberapa agama dan Negara kita bukan Negara agama. Negara tidak dikurung oleh salah satu agama. Dan disinilah Negara dituntut untuk memposisikan diri. Agama tidak mesti berkoalisi dengan struktur – struktur kekuasaan duniawi yang ada, akan tetapi dari sudut lain agama juga harus mampu menatap memandang keterlibatan ikut sertanya dalam kehidupan kesejahteraan sosial diegala zaman. Agama harus masuk dalam tatanan praxis tidak hanya dalam kontemplasi filosofis. Agama harus diwujudkan dalam relitas kehidupan sosial bukan dalam teoritis semata. Agama masuk dalam temporalitas sejarah manusia menyatu dalam peradaban dan membumisasi.

Mari kita coba untuk memandang sebuah perspektif tentang ”habblum minannaas” mengankat harkat martabat manusia dengan sebuah tindakan hikmah/kebijaksanaan. Ceramah, khotbah agama dengan diiming-imimgi sebuah pahala dimasa yang akan datang dengan tema jihad yang diaktualisasikan dalam sudut pandang yang sempit akan menambah suatu permasalahan konflik kemanusiaan dan tidak akan menyelesaikan penderitaan kemanusiaan. Dan jika semua agama itu memandang adalah merupakan tindakan jihad dengan sudut pandang yang sempit akan dalam agamanya masing – masing, mengklaim agamanya yang paling benar maka yang akan terjadi adalah pertumpahan darah, kemusnahan manusia secara masal, lantas siapakah yang akan menjadi kholipah di muka bumi ini kalau bukan manusia ?.

Melalui refleksi gambaran tersebut agama ”ditangtang” untuk mampu membuktikan sebagai penyelamat umat ”Rahmatanlila’lamin” dan bukan sebagai institusi atau lembaga yang melegitimasi suatu bentuk kekerasan yang pada akhirnya dapat menimbulkan kejahatan kegelapan dunia. Agam harus mampu berinteraksi dalam berbagai aspek kehidupan manusia sehingga tidak akan terjadi penyekatan terhadap agama khususnya dalam sebuah negara.

Walaupun dalam suatu negara mau tidak mau akan diwarnai oleh agama akan tetapi negara tak harus terhegemoni oleh salah satu agama. Negara menempatkan posisinya sebagai yang otonom dan menghindari kolaborasi dengan pihak luar yang pada akhirnya menjadi subordinat agama sehingga terkooptasi pada kepentingan agama.

Jika negara berada pada dominasi kepentingan agama, menjadi terkurung kekuatannya dan kekuasaan negara menjadi lemah. Negara merupakan institusi ”kontrak sosial” yang berhak menambil keputusan – keputusan mengenai bidang – bidang pengaturan kehidupan bermasyarakat sosial, akan tetapi negara juga tidak bersifat absolut (mutlak), tidak memandang, melihat yang lain dalam pengambilan keputusannya karena agama bagaimanapun juga tetap berada dibawah kedaulatan yamg maha tinggi.

Hakikat adanya agama, visi bangkitnya adalah memberikan konstitusi pada kehidupan sosial-kultur dilingkungan sekitarnya serta unsur unsur lokal yang ada didalamnya, sehingga agama tidak tersekat ”ngambang” melainkan membumisasikan dalam sebuah histori, tumbuh dan berkembang dalam konteks sosial – kultur dan bergerak dalam temporalitas membawa kepada pencerahan atau perbaikan.

Dari sosial – kultur, memang dapat mempengaruhi masuk dalam sistem agama sehingga tak mengherankan banyak yang mengkhawatirkan terhadap kemurniaan suatu agama akan ternodai, terkotori sehingga sebagai akibatnya banyak yang bermunculan kelompok kelompok yamg bersikap keras menentang terhadap unsur-unsur sosial-kultur yang membahayakan kemurnian suatu agamanya untuk memproteksi kesucian agama, oleh karena itu marilah kita berpikir sejauh manakah agama kita dapat diterima dalam hati mereka pada soial kultur tertentu ?….

Mungkin inilah tantangan setiap agama untuk dapat diterima dalam hati mereka yang dapat menjawab sebuah harapan dan cita – cita dalam lingkungan sosial kultur tertentu.

Wallahu a’lam bissawabbilmurrodih

Penulis : kabid PAO HMI Cab Kuningan

Mahasiswa FKIP UNIKU jurusan pendidikan ekonomi

http//dedihendriana.wordpress.com

e-mail : dedi_hendriana15@yahoo.com

One thought on “AGAMA, NEGARA DAN TRANSFORMASI SOSIAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s