TRADISI PENELITIAN AGAMA :

TRADISI PENELITIAN AGAMA :

DARI PARADIGMA NORMATIF KE EMPIRIS

crazy-doctor

Pada zaman modern islam berada pada ujian yang sangat berat, Kkhususnya ujian epistemologis. Doktrin ideal yang bersumber dari wahyui Tuhan (Revelation), ternyata tidak mampu berhadapan dengan yang satu ini. Pada tataran ini wahyu tuhan yang berfungsi sebagai pembimbing dan petunjuk jalan hidup manusia hanyalah alegori belaka tanpa menyentuh realitas sosial dan kultural manusia.

Wahyu memang hanya berisdi seperangkat nilai. Dan suatu nilai tampak bagaikan ”dongeng” atau ”legenda”. Ia mampu melampaui lintas waktu, tempat fungsi dan manfaat. Umpamanya,”anjuran membuang duri yang amat kecil dijalanan”. Meskipun duri itu tidak berbahaya , anjuran untuk membuangnya diyakini sebagai sebuah nilai yang sangat luhur, mengingat para pelakunya kelak diakhirat akan mendapat balasan dari Tuhan.

Nilai luhur atau pesan moral tidak akan membangun suatu peradaban. Peradaban hanya bisa dibangun oleh pemikiran-pemikiran yang dituangkan dalam teori-teori yang berdaya kontekstual, aktualdan operasional walaupun teori atau kerja ilmiah tidak terhindarkan dari mkelemahan, kontradiksi,reduksi, dan relativitas. Hal ini karena keberadaan teori tidak mampu melampaui batas waktu,tempat, dan fungsi

Dalam pada itu, setiap nil;ai luhur harus segera diikuti dengan penciptaan sistem sebagai instrumen untuk mengimplementasikan dimaksud dan sekaligus wahana untuk memecahkan pelbagai masalah kehidupan. Sebab, nilai yang tidak disertai oleh suatu sistem yang rasional akan menjadikan nilai-nilai- itu dilecehkan orang dan menjadi legenda dalam arti yang sebenarnya. Ia hanya enak dan indah didengar sebagai pengantar tidur. Namun, harus diakui, suatu sistem tanpa roh nilai luhur juga akan menyesatkan dan menghancurkan kehidupan.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa agar wahyu itu dapat difungsikan dan ”dirasakan” sebagaimana mestinya, manusia harus memahami dan mengertisubtansi nilai yang dikandung didalamnya. Untuk itu manusia harus melakukan apresiasi intelektual atas ”dokrin ideal” tersebut yang ditopang dengan kerangka metodologi yang tepat. Prasyarat awal yang harus disepakati untuk melakukan pemahaman ini adalah bahwa agama adalah sistem simbolik yang tidak cukup dipahamisebagai formula-formula abstrak tentang kepercayaan dan nilai saja.

Apresiasi atas agama harus dilakukan lewat penyebrangan (i’tibar) kesebalik ungkapan-ungkapan linguistiknya, -kemudian dilakukan penafsiran. Bagi para filosof muslim seperti ibnu sin, misalnya ajaran para nabi itu adalah alegori dan simbol-simbol, artinya yang dimaksudkan sebenarnya harus dicari dengan ”menyebrang” dibalik itu semua melalui penafsiran metaforis. Dengan kata lain ajaran formal para nabi itu hanyalah ibarat ”bungkus” . adapun kebenaran yang sesungguhnyaada dibalik kebenaran pembungkusan itu.

Melalui strategi i’tibar itu tentu akan tergambarkan bahwa Islam adalah ajaran yang sangat dinamis. Dinamisme itu berada diantara Islam ideal dan Islam sejarah. Sedapat mungkin kita harus mendekatkan jarak antara Islam ideal dan Islam sejarah. Kedinamisan itu terletak dalam ajaran yang menganjurkan agar akal dapat memahami ayat atau tanda yang terdapat dalam alam. Dari situlah Islam mengenal konsep ijtihad, yang menurut Muhammad Iqbal dipahami sebagai prinsip dasar gerakan Islam. Jadi, ijtihad adalah metode untuk merekonstruksi pemiliran islam.

Mininimnya Tradisi Ilmiah

Kendati konsep ijtihad dipahami sebagai suatu usaha penalaran ilmiah, akan tetapi tradisi ilmiah, masih kurang ”menghiasi” pemikiran Islam. Keterbatasan dan kekakuan kajian atas Islam merupakan gejala umum dikalangan umat Islam. Hal ini menurut Johan Meuleman, disebabkan olah beberqapa hal.

Pertama, setiap pemikiran manusia terikat pada bahasa ;atau , meminjam istilah Mohammad Arkoun, Logosentrisme, dengan segala peraturan dan batasanya. Namun ketertutupan logosentrisme ini amat menonjoldikalangan muslim. Karena itu menganggap teks-teks yang sebenarnya bersifat immanen dari segi bahasa-yakni berfungsi dalam suatu bahasa dan kondisi tertentu-dianggap sebagai trasenden ilahi.

Kedua, sebab pertama studi itu terupusat pada teks-teks dan mengabaikan unsur yang tak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. Ketiga, interprestasi yang terbatas dan tertutup terhadap al-Quran dan Sunnah sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan (bukan makna dan nilai). Keempat, anngapan teks-teks klasik mewakili islam dan bahkan dianggap sebagai agama itu sendiri, sehingga mengabaikan yang lainya karena naskah itu dianggap asli.

Kelima, sikap apologetis terhadap aliran lain (kalam, fiqih, dan sebagainya). Sikap ini menunjang pada ketertutupan pemikiran Islam. Keenam, sistem pendidikan yang terlalu mementingkan wibawa terlampau besar tehadap tradisi terutama pada teks tradisionaldan guru, serta lebih mementingkan hafalan daripada sikap kritis.

Minmnya tradisi ilmiah dalam penyelenggaraan studi-studi Islam, lanjut meuleman, juga menonjol dikalangan orientalis. Edward Said dalam bukunya yang sngat provokatif, orientalis, menjelaskan bahwa para otirentalis ternyata masih terjebak kedalam gejala logosentrisme, sebagai akibat tradisi filologi orientalisme, juga keterbatasan mereka terhadap naskah-naskah klasik seakan itu mewakili realitas pemikiran Islam.

Selain iut, minimnya tradisi ilmiah dalam memahami mIslam terlihat ketika Islam konseptual dan Islam Aktual (sejarah) berada dalam posisi yang dikotomis. Kalau islam konseptual adalah adalah Islam teoritis dan Islam aktual adalah Islam Praktis, maka kedua dikotomi kedua istilah tersebut akan membawa implikasi terhadap pemisahan antara teori (ilmu) dan praktek; antara man of idea dan man of action. Pqadahal dari sudut sosiologi pengetahuan diketahui bahwa antara Islam teoritis dan Islam praktek pada hakikatnya termuat bebagai bentuk hubungan dialektis antara teori (ilmu) dan praktek.

Pemisahan teori (ilmu) dan praktek-yang menurut Muhammad Arkoun sebenarnya merupakan sisa-sisa model descrates atau ”Islamologi Klasik”-menyebabkan bahwa tujuan praktis cenderung hilang; kebanyakan ahli bertujuan untuk meluaskan pengetahuan tertentu tanpa memikirkan baik teorisasi maupun renungan metodologis, atau apalagi memikirkan kegunaanpengetahuan yang terhimpun itu bagi kaum muslim. Masih dalam pengaruhpemikiran descrates yang aritmstis kering , dimana 5+2 pasti sama dengan 7 padahal dalam penjumlahan dalam sistem ”5+2” dapat lebih besar dari 7, karena masing-masing komponen yang dijumlahkan tersebut memiliki”energinya” sendiri-sendiri, maka secara sinergis besarnya jumlah kemampuan mereka melebihi 7. contohnya : biaya memasak makanan untuk 5 orang tidak jauh berbeda, bahkan bisa sama untuk 7 orang.

Lemahnya tradisi ilmiah umat islam juga ditandai dengan kurangnya ”budaya kritik’. Kritik yang dimaksud tentu saja dalam arti filsafati: penelitian mengenai dasar dan batasan pemikiran, atau dengan kata lain, mengenai syarat-syarat kesahihan pemikiran tertentu. Kritik dalam arti itu, yang menggunakan berbagai hasil pemikiran barat mutakhir, dianggap jalan tepat untuk melampaui kekakuan pemiukiran Islam.

Secsra sosiologis, pentingnya sikap kritis dalam studi islam, karena wsubjek yang mengkaji Islam tergantung terhadap berbagai kepentingan,baik kepentingan-meminjamistilah Jurgen Habermas-teknis, prkatis, dan emansipatoris. Ini berarti, setiasp pemikiran islam pada hakikatnya implisit atau eksplisit, mempunyai kandungan politik tertentu.dalam konteks ini, pemikiran Islam tentu mempunyai hubungan dengan perkembangan sosial dan politik. Dalam proses ”pembekuan” dan penutupan pemikiran Islam, kata Meuleman, faktor sosial – politik memainkan peran penting. Sebaliknya, tujuan akhir pembukaan kembali pemikiran Islam itu ”ideal”-nya adalah emansipasi manusia Islam dari berbagai perbudakan yang dibuatnya sendiri dan yang tidak terbatas pada bidang intelektual belaka.

2 thoughts on “TRADISI PENELITIAN AGAMA :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s