Tesis Heri Purnama BAB IV

BAB IV

PERBANDINGAN KONSEP IMAM AL GHAZALI DAN

MUHAMMAD ZUHRI  RELEVANSINYA DENGAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

A. Konsep Imam Al Ghazali dan Muhammad Zuhri

1.         Pandangan Imam Al Ghazali Tentang Manusia

Imam Al Ghazali memiliki pandangan khusus terhadap sosok yang kemudian disebut manusia yang tentu saja akan sangat berkaitan erat dengan pemikiran Al Ghazali tentang al Akhlak al Karimah. Dalam proses perjalanan hidupnya konsep ini menjadi tema penting, dimana beliau selalu berorientasi untuk membina dan mencerdaskan ummat manusia dari prilaku tidak terpuji dan hina. Maka nampaknya menurut hemat penulis perlu juga untuk mengungkap konsep Imam Al Ghazali tentang manusia yang bersentuhan langsung dengan akhlak. Sehingga hampir dari segaian besar hidup beliau, diberikan untuk selalu  mengkampanyekan prilaku dan budi pekerti yang mulia yang harus menjadi karakter penting dalam kehidupan kesehariannya.

Al Ghazali dalam memandang manusia didasarkan pada periodesasi kejadian dan penciptaan manusia itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari Jawatir Al Qur’an dan Ihya Ulumuddin. Uraian yang dikemukakan oleh Imam al Ghazali yang dapat ditelaah secara sederhana dari kitab-kitabnya menunjukkan bahwa manusia tersusun dari materi dan immateri atau lebih sederhana dengan istilah jasmani dan ruhani, yang keduanya berfungsi sebagai abdi dan khalifah Allah di muka bumi ( Al Ghazali, 1994 : 105,144,162-163 dan 200 ).

Al Ghazali sangat menekankan pengertian dan hakekat kejadian manusia pada ruhani atau jiwa, sebagai esensi dari kemanusiaan. Manusia itu menurut beliau pada hakekatnya adalah terletak pada jiwanya. Jiwanyalah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Dengan jiwalah yang membuat manusia bisa berpikir, merasa, berkemauan dan bisa berbuat lebih banyak. Jadi dalam pandangan Imam Al Ghazali jiwa itulah yang menjadi esensi dari manusia, dengan satu alasan sifatnya yang latif, metafisis, dan rabbani serta keberadaanya abadi sesudah mati. Keselamatan dan kebahagiaan kehidupan manusia didunia dan akherat banyak tergantung pada keadaan jiwanya, sebab jiwa merupakan pokok dari agama dan asas bagi orang yang berjalan menuju Allah, walaupun semuannya akan bergantung pada ketaatan dan kedurhakaannya secara pribadi dihadapan Allah Swt. Jiwalah yang memiliki peran andil untuk manusia bersikap taat dan durhaka kepada Tuhan. ( Al Ghazali, 1994 : 4-5 ).

  1. ( Al Ghazali, 1994 : 5 ).

Istilah kedua, yaitu ar Ruh atau roh dalam arti yang pertama adalah jisim yang latif ( halus ) dan bersumber di dalam al qlab al jasmani ( Kalbu jasmani ). Lalu roh ini memancar keseluruh tubuh melalui nadi, urat dan darah. Cahaya pancaranya membawa kehidupan kepada manusia, seperti manusia dapat merasa, mengenal dan berpikir. Dalam istilah kedokteran lama, roh dalam arti pertama ini disebut juga roh jasmani yang terbit dari panas gerak qalb yang menghidupkan manusia. Arti kedua dari roh adalah roh ruhani yang bersifat kejiawaan, yang memiliki daya rasa, kehendak dan berpikir, sebagaimana yang telah diterangkan dalam pengertian al Qalb yang kedua. Ruh dalam pengertian yang kedua ini lah yang dimaksud dalam al Qur’an surat al Isra ayat 85.

štRqè=t«ó¡o„ur Ç`tã Çyr”9$# ( È@è% ßyr”9$# ô`ÏB ̍øBr& ’În1u‘ !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ

Artinya : “  Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. ( Depag RI, 1997 : 145 ).

Istilah ketiga adalah al nafs ( Jiwa ), yaitu dalam pengertian pertama adalah mengandung arti kekuatan hawa nafsu yang tetrdapat dalam diri manusia yang merupakan sumber dari akhlak tercela. Inilah pengertian hawa nafsu yang dimaksud oleh para sufi secara umum yang akan merusak kepribadian dan moral ummat manusia. Jika mereka mengatakan  “ mari berjihad melawan hawa nafsu “, maka maksudnya adalah berjihaq melawan hawa nafsu syahwat yang berhubungan dengan perut, faraj dam ammarah yang juga merupakan sumber bagi timbulnya akhlak dan sifat tercela. Sedangkan arti kedua dan an-nafs adalah jiwa ruhani yang bersifat latif, rabbani dan ruhaniah. Al-Nafs dalam pengertian kedua inilah yang merupakan esensi dan zat dari manusia. ( Al Ghazali, 1994 : 6 ).

Al Nafs dari pengertian kedua adalah mempunyai tiga sifat dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan perbedaan keadaannya masing-masing. Bila Al Nafs memiliki ketentraman dalam mengemban amanat Allah dan tidak mengalami goncangan yang disebabkan oleh tantangan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu, maka disebutlah jiwa tersebut dengan istilah al-nafs al-muthmainnah ( Jiwa yang tenang ). Kepada jiwa seperti inilah Allah memberikan respons positif, seperti yang diungkapkannya dalam salah satu firman-Nya, surat Al Fajr ayat 27-28.

$pkçJ­ƒr’¯»tƒ ߧøÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ ûÓÉëÅ_ö‘$# 4’n<Î) Å7În/u‘ ZpuŠÅÊ#u‘ Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ

Artinya : “  Hai jiwa yang tenang,  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang   puas lagi diridhai-Nya. ( Depag RI, 1997 : 358 ).

Bila al-nafs dalam pengertian kedua kembali kehadirat Allah Swt, maka al-nafs dalam pengertian pertama tidak. Karena keadaannya tidak tenang dan menyerupai prilaku syetan. Selanjutnya, apabila al-nafs tidak memiliki ketenangan yang sempurna karena menjadi pendorong timbulnya hawa nafsu dan sekaligus juga penentang, maka disebutlah keadaannya dengan al nafs al-lauwamat, yakni jiwa yang masih mau menyatakan dirinya ketika lalai dengan mengingat dan beribadah kepada Allah. Kepada jiwa al lauwamat inilah Allah bersumpah sebagaimana tersurat dalam al Qur’an surat al Qiyamat ayat 2 :

Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ

Artinya : ”  Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). ( Depag RI, 1997 : 268 )

Akhirnya, apabila al nafs menenggelamkan dirinya dalam kejahatan, mengikuti nafsu amarah, syahwat, perut, dan godaan syetan maka denamakan al nafs al ammarat ( yaitu jiwa yang jahat karena selalu mendorong manusia untuk berbuat jahat ). Kepada jiwa ini Allah mengingatkan manusia sebagaimana dalam al Qur’an surat Yusuf ayat 53 :

* !$tBur ä—Ìht/é& ûÓŤøÿtR 4 ¨bÎ) }§øÿ¨Z9$# 8ou‘$¨BV{ Ïäþq¡9$$Î/ žwÎ) $tB zOÏmu‘ þ’În1u‘ 4 ¨bÎ) ’În1u‘ ֑qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇÎÌÈ

Artinya : ” Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. ( Depag RI, 1997 : 89 )

Nafsu yang suka memerintah manusia kepada kejahatan itu ialah al nafs dalam pengertian pertama yang memiliki sifat tercela. Sedangkan al nafs dalam pengertian kedua merupakan hakekat, diri dan zatnya manusia karena memiliki sifat latif, ruhani dan rabbani.

Said hawwa, dalam kesempatan ini coba juga penulis ketengahkan sebagai salah satu referensi pendukung,  menurutnya nafsu adalah memiliki cakupan dua makna, pertama bermaksud amarah atau syahwat, layaknya pandangan umum yang mengartikan nafsu yang selalu membawa manusia pada keburukan yang juga merupakan musuh besar bagi kaum sufi, karena menurut kaum sufi nafsu adalah cakupan dasar yang ada dalam diri manusia. Namun nafsu dalam pengertian kedua bermakna halus ( lathifah ) yang selalu tunduk dan patuh kepada petunjuk Tuhan dan membawa manusia pada kebaikan, ini adalah esensi dari manusia. Al hasil nafsu dalam pengertian pertama itu selalu membawa manusia pada keburukan dan dekat dengan syetan, sedangkan nafsu dalam pengertian kedua adalah nafs yang terpuji dan halus, karena itu adalah hakekat dari jiwa manusia yang mengetahui akan Allah dan segala pengetahuannya. ( Said Hawwa, 1983 : 47 ).

  1. Istilah keempat adalah al-aql yang juga memiliki dua makna. Pertama ialah ilmu tentang hakekat segala sesuatu. Al Aql dapat diibaratkan seperti ilmu yang bersemayam di jiwa ( al qalb ). Jadi pengertian pengertian al aql pada tingkat pertama ini  ditekankan pada ilmu dan sifatnya. Sedangkan al Aql dalam pengertian kedua adalah akal ruhani yang ruhani yang memperoleh ilmu pengetahuan itu sendiri ( al mudrak li al-’ulum ).  Akal itu tidak lain adalah jiwa    ( Al Qalb ) yang bersifat latif, rabbani dan ruhaniah yang merupakan hakekat diri dan zat manusia. ( Al Ghazali, 1994 : 7-8 ).

Dalam pengertian lain Said Hawwa menjelaskan, akal adalah merupakan tempat berhimpunnya ilmu pengetahuan manusia, yang merupakan juga sifat dari orang yang berilmu, sedangkan ilmu adalah sifat yang menempati sebuah wujud dan merupakan sifat yang tidak tersifati, didalamnya terdapat ilmu tentang hakekat segala sesuatu dan ini merupakan sifat dari ilmu itu sendiri yang bertempat didalam hati. Maka itu lah hakekat dan esensi dari jiwa manusia yang sebenarnya. ( Said Hawwa, 1983 : 48 ).

Beradasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa al qalb, al ruh, al nafs dan al aql dalam pengertian pertama nampak perbedaannya sedangkan dalam pengertian kedua terdapat banyak persamaannya. Dalam pengertian pertama al qalb berarti qalbu jasmani, al ruh yang bersifat ruh jasmani dan latif, al nafs yang berarti hawa nafsu dan sifat amarah, serta al-aql yang berarti ilmu. Sedangkan dalam pengertian kedua, keempat istilah itu memiliki arti yang bersamaan. Yaitu jiwa yang bersifat latif, ruhani dan rabbani yang merupakan hakekat diri dan zat dari manusia. Oleh karena itu manusia dalam pengertian pertama ( fisik ) tidak kembali kepada Allah, dan dalam pengertian kedua ( Jiwa ) keberadaanya akan kembali lagi kepada Allah Swt.

Sebagian besar ulama dan ummat Islam secara umum seringkali terjerat dalam kerancuan perbedaan tentang beberapa istilah tersebut diatas, akan tetapi dalam pandangan Al Ghazali istilah nafs, akal, hati dan ruh bisa merupakan satu makna, sebab istilah-istilah itu yang merupakan esensi dari manusia dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi ruh manusia. Apabila syahwat dapat mengalahkan ruh, maka dinamakanlah dia sebagai hawa nafsu. Jika Ruh dapat mengalahkan peran syahwat maka dinamakanlah dia akal. Jika penyebabnya adalah iman, maka dinamakanlah dia hati ; dan apabila dia mengenal Allah dengan sebenar-benarnya kenal dan melakukan pengabdian yang tulus ikhlas maka disebutlah dia ruh. Maka keempat istilah tersebut diatas dalam pandangan Imam Al Ghazali sangatlah bergantung pada situasi dan perubahan ruh manusia yang semua terjadi tentu berdasar kesadaran manusia itu sendiri.

Dalam pengertian kedua, Al Ghazali mengibaratkan manusia seperti sebuah kerajaan. Jiwa dalam kerajaan merupakan rajanya, sedangkan tubuh merupakan wilayah kekuasaannya. Alat indra dan fakultas badannya adalah tentaranya. Akal sebagai wazur, sedangkan hawa nafsu serta sifat amarahnya adalah polisinya. Raja dan wazir selalu berusaha membawa kejalan yang lebih baik dan diridhoi Allah Swt. Hawa nafsu dan sifat marah selalu mengajak manusia kejalan yang sesat dan dimurkai oleh Allah Swt.  Demikian untuk terciptanya ketenangan dan kebahagiaan dalam sebuah kerajaan ( Diri manusia ). Maka kekuasaan raja dan wazir harus selalu berada diatas kekuasaan hawa nafsu dan sifat marah, bila sebaliknya maka satu pertanda bahwa kerajaan itu akan runtuh dan binasa. ( Al Ghazali, 1994 : 11 – 12 ).

Menurut Al Ghazali jiwa yang merupakan hakekat diri dan zat manusia itu adalah jauhar ( Esensi ) ruhani dan bukan aradh ( aksiden ) serta sangat bersih dari sifat kebendaan. Jiwa memiliki wujud tersendiri yang terlepas dari badan manusia. Wujud dan hakekatnya berasal dari alam immateri, sedangkan wujud dan hakekat badan berasal dari alam materi. Badan bukan merupakan tempatnya jiwa, karena sesuatu yang sifatnya jauhar ( Substansi, zat dan hakekat ) tidak mendiami suatu tempat tertentu. Badan itu adalah alat bagi jiwa, oleh sebab itu, terdapat perbedaan mendasar dan sangat besar antara jiwa dan badan dalam wujud dab hakekat, maka dalam fungsi dan sifatnya juga terdapat perbedaan yang besar, yaitu jiwa bersifat baqa dan badan bersifat fana. ( Al Ghazali, 1994 : 13 ).

Bila Al Ghazali dalam uraian diatas menekankan unsur kejiwaan dalam konsepnya tentang manusia, maka pandangannya itu dapat pula berarti bahwa hakekat, zat dan esensi dari kehidupan manusia itu terletak pada unsur kejiwaannya. Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila dalam pemikiran dan perjalanan hidupnya ia sangat menaruh perhatian yang besar pada soal kebahagiaan dan kesempurnaan jiwa serta ketinggian akhlak yang mulai bagi manusia dalam hidupnya.

Ditekankannya unsur jiwa dalam esensi kehidupan manusia, dalam konsep Imam Al Ghazali  sama sekali tidaklah berarti ia telah mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini juga merupakan unsur yang sangat penting, karena jiwa dan ruhani manusia sangat membutuhkan jasmani dalam melaksanakan kewajibannya beribadah kepada Allah Swt dan menjadi khalifah-Nya dimuka bumi. Dan itu tidak akan bisa direalisasikan tanpa peran badan manusia. Seorang tidak akan sampai kehadirat Allah dan beramal dengan baik didunia selama jasmaninya tidak sehat. Kehidupan jasmani yang sehat merupakan sarana menuju kehidupan ruhani yang lebih baik. Dengan menghubungkan kehidupan jasmani dengan kehidupan dunia, Al Ghazali mengatakan bahwa kehidupan dunia itu merupakan ladangnya bagi kehidupan di akherat, dan merupakan salah satu manzilnya hidayah Allah. Oleh sebab itu kehidupan dunia ( Jasmani ) adalah merupakan tangga bagi kehidupan akherat ( Ruhani ), maka memelihara, membina, mempersiapkan dan memenuhi keperluannya agar tidak binasa adalah wajib. ( Al Ghazali, 1994 : 9 ).

Dari beberapa uraian Imam Al Ghazali diatas, tentang hubungan jiwa dan badan manusia, dapatlah disimpulkan bahwa yang dikehendakinya dari uraian tersebut adalah terciptanya keserasian antara jiwa dan jasad. Kalau ia pada masanya menekankan pada unsur jiwa dalam konsepsinya tentang manusia, hal itu disebabkan oleh karena kehidupan manusia ketika itu yang secara langsung atau tak langsung disekitar Al Ghazali, seperti krisis yang melanda masyarakatnya dibidang agama, sosial dan politik, intelektual, moral dan spiritual, maupun krisis yang melanda dirinya sendiri, yang tidak dapat merasa bahagia meskipun walaupun kemewahan dunia materi yang telah berhasil dicapainya.

  1. Yaitu keharmonisan peran jiwa dan jasmani manusia. Sebab, seperti yang sudah disebut diatas bahwa masyarakat disekitarnya mengalami kemajuan yang pesat    dibidang materi tapi belum maju dibidang spiritual dan moral.

Keserasian antara jasmani dan ruhani atau kesehatan fisik dan mental seseorang dalam mengeksplorasi diri untuk menjadi sosok yang mulia didepan manusia dan Tuhan adalah merupakan sesuatu yang mutlak dalam pandangan Al Ghazali. Terkait dengan istilah kesehatan mental ini, Zakiah Darajat mengemukakan pendapatnya, bahwa kesehatan mental merupakan ” Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positip kebahagiaan dan kemampuan dirinya. ( Zakiah Darajat, 1975 : 87 ). Berkaitan dengan hal inipun Dr. Syamsu Yusuf, menambahkan dengan mengemukakan, bahwa kesehatan mental bisa juga diartikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain. ( Syamsu Yusuf, 2004 : 19 ).

Seperti halnya yang selalu gaungkan oleh Al Ghazali bahwa esensi dari manusia itu adalah jiwanya, maka perkembangan jiwa seseorang dari waktu ke waktu akan ikut juga mempengaruhi perkembangan fisiknya, intelektual dan emosinya secara optimal. Jika perkembangan jiwa seseorang terganggu atau tersendat maka secara langsung atau tidak lansung juga akan mempengaruhi perkembangan fisiknya, sekaligus juga kemampuan intelektual dan emosinya secara signifikan akan terpengaruhi. Maka Al Ghazali begitu sangat menekankan kondisi dan perkembangan jiwa seseorang yang lebih utama, karena tentu akan mempengaruhi perkembangan yang lain. Jika antara fisik dan jiwa ini telah berkembang dan berjalan secara serasi maka sampailah dia pada kondisi manusia sempurna atau Insan Kamil. Hal ini disebabkan pengabdian manusia kepada Tuhannya tidal hanya dilakukan oleh jiwa atau ruhnya saja tapi juga membutuhkan peran fisik yang sehat dan kuat, agar pengabdian itu menjadi sempurna.

Pandangan Imam Al Ghazali tentang manusia, pada hakekatnya adalah mengacu pada konsep Insanul Kamil. Al Ghazali memang secara tegas tidak menyatakan konsep Insanul Kamil, akan tetapi Insanul Kamil dalam arti figur seseorang ( bentuk ) yang ingin dinyatakan dalam pikirannya. Dalam hal ini ia menyatakan dengan istilah Muthi’at,  ( Al Ghazali, 1994 : 111 ). Yaitu seseorang yang taat dan patuh kepada Allah dan Rasul Nya untuk menunjuk kepada derajat Insanul Kamil. Ketaatan dan insanul kamil adalah dua nama yang wujud dan hakekatnya bersamaan, dan sama sekali tidak terdapat perbedaan yang prinsipil. Sebab istilah ketaatan bagi Imam Al Ghazali memiliki pengertian yang luas dan tingkatan yang tinggi. Pengertiannya tidaklah terbatas hanya pada ketatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga memiliki konsekwensi untuk taat kepada orang-orang yang taat kepada Allah, seperti para pemimpin, ulama dan auliya. Adapun tingkatan orang yang taat kepada Allah, terdiri dari empat kriteria, yaitu :

1)      Ketaatan orang awam yang ketaatannya sebatas pada ketaatan lahir dan fisik.

2)      Ketaatan orang yang melakukan kesalahan kemudian bertaubat kepada Allah.

3)      Ketaatan orang yang bertaqwa kepada Allah dengan derajat Muqorribiin.

4)      Ketaatan orang arifin, al siddiqiin, para nabi dan Rasul utusan Allah ke bumi.

Imam Al Ghazali sendiri secara khusus memberikan kriteria seseorang yang telah mencapai derajat Insan Kamil, diantaranya yaitu : pertama, adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhani dalam hidup dan kehidupannya sebagai manusia, karena keseimbangan adalah hal pokok dalam konsepnya tentang manusia. Kedua, memiliki ketinggian akhlak dan kezakiahan jiwa. Ketiga adalah memiliki ma’rifat dan tauhid kepada Allah Swt, karena kedua hal ini merupakan tujuan dari ajaran tasawufnya. Keempat, memiliki ketajaman daya intuisi dan kemampuan akal yang sempurna.

Al Ghazali secara tegas sebenarnya tidak pernah mepergunakan istilah insanul kamil untuk menunjukkan kepada pengertian manusia sempurna, yang ia inginkan adalah bentuk prilaku manusia yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diperolehnya dari Tuhan sejak dilahirkan kemuka bumi. Akan tetapi faktor keseimbangan ( I’tidal ) dan ketaatan dapat dijadikan kriteria pokok dalam menentukan insanul kamil. Maka secara umum dapat dikatakan seseorang yang seimbang kehidupan lahir dan batinnya, serta mentaati Allah dengan sebenar-benarnya taat, Rasul-Nya dan taat pula pada orang-orang yang taat kepada Allah, adalah orang yang telah mencapai derajat insanul kamil. Faktor ketiadaan dan ketaatan dalam insanul kamil sangat erat kaitannya dengan Tazkiyatun Nafsi.

2.         Konsep Al Akhlak Al Karimah Al Ghazali

Al akhlak al karimah Menurut Imam Al Ghazali dalam bab riyaadh an nafs adalah sebagai gambaran tentang kondisi ( al hai’ah ) yang menetap di jiwa   ( al nafs ) yang semua prilaku manusia bersumber dalam dirinya tanpa proses yang panjang dan penuh dengan kemudahan. Jika kondisi yang menjadi sumber berbagai prilaku yang indah dan terpuji bersifat rasional dan syar’i, maka kondisi itu disebut dengan akhlak yang baik, dan sebaliknya jika berbagai prilaku yang bersumber darinya buruk maka kondisi yang menjadi sumber itu adalah disebut dengan akhlak yang buruk. ( Ihya ulumuddin, Bab III/2003 : 48 ). Al Akhlak dalam pandangan beliau adalah segala tingkah laku dan perbuatan manusia yang menjadi adat dan kebiasaan, yang apabila dilakukan tidak perlu lagi berpikir panjang, setelah prilaku diperankan secara lama dan diterima oleh masyarakat sebagai bagian dari cara hidup. Menurut Islam ia berarti satu sifat atau sikap kepribadian yang melahirkan tingkah laku dan perbuatan manusia dalam rangka membentuk kehidupan yang lebih sempurna, berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditentukan oleh Allah Swt.

Prilaku dan perbuatan manusia yang telah tertanam secara permanen di masyarakat disebut dengan moral, yang merupakan sesuatu yang berkaitan dengan peraturan-peraturan masyarakat. Donny Emmet ( 1979 ) mengatakan bahwa manusia sangat bergantung pada aturan dan tatasusila, adat kebiasaan masyarakat juga agama. Sedangkan sifat-sifat akhlak yang mulia menurutnya adalah :

  1. Bersifat mutlak dan universal
  2. Melengkapi dan menyempurnakan tuntutan.
  3. Bersifat sederhana dan seimbang
  4. Mencakupi suruhan dan larangan.
  5. Bersih dan mudah dalam pelaksanaannya.

Iman Al Ghazali menegaskan bahwa sumber dari pemahaman dan penerapan al akhlak al karimah adalah Kitab suci Al qur’an, hadist Rasulullah Saw dan akal pikiran kaum ulama.

Adapun untuk memunculkan dan menguatkan akhlak yang terpuji sebagai pokok dasarnya, Imam Al Ghazali meletakkan prinsip-prinsip pribadi dan akhlak yang mulia diantaranya adalah kebijaksanaan ( hikmah ) penjagaan diri ( al iffah ) dan keadilan ( al adl ). Kebijaksanaan adalah kondisi jiwa untuk memahami yang benar dari yang salah dari semua prilaku yang bersifat ikhtiar, sedangkan keadilan adalah kondisi dan kekuatan jiwa untuk menghadapi emosi dan amarah ( al ghadab ) serta syahwat dikuasai atas dasar kebijaksanaan serta mengendalikannya berdasarkan proses, pemahamannya akan nilai-nilai disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan keberanian dalam menerapkan prilaku adalah ketaatan terhadap akal pikiran pada saat menahan diri, sedangkan penjagaan diri adalah terdidiknya kekuatan syahwat dengan pendidikan akal pikiran dan syareat. ( Ihya ululumuddin, III/2003 : 49 ).

Disini terlihat secara jelas bahwa kondisi dan situasi dalam pergaulan manusia sehari-hari dapat mempengaruhi baik dan buruknya prilaku seseorang. Dalam karyanya yang lain ” Manhaj al aabidin ” Imam Al Ghazali banyak berpesan bahwa, berhati-hatilah dalam bergaul, sebab terkadang seseorang seringkali dalam pergaulan sehari-hari mudah sekali terpengaruh oleh ajakan  dan kemauan orang lain untuk mengikutinya. Sebagai contoh, ketika mereka melakukan kejahatan maka ia pun akan mengikutinya, ketika mereka berbuat maksiat maka ia pun akan mengikuti perbuatan itu, ia takut dan khawatir dikatakan tidak setia atau solider jika tidak mengikuti perbuatan mereka. Demi teman atau orang lain terkadang seseorang rela mengorbankan aqidah dan akhlaknya dan mengotori urusan akheratnya. ( Manhaajul ’abidiin, 1989 : 91 ).

Berkaitan dengan akhlak dan prilaku manusia, Imam Al Ghazali telah memberikan perhatian yang sangat besar, bahkan hampir sepanjang hidupnya telah beliau berikan untuk selalu mengkampanyekan tentang pribadi dan akhlak yang mulia. Persoalan rusaknya hati dan prilaku manusia karena terbiasa dengan pribadi dan akhlak yang buruk, beliau telah memberikan metode dalam mengobati penyakit hati ini secara global, menurutnya, metode itu akan sangat berlawanan dengan keinginan dan kecenderungan jiwa, Allah Swt telah mengumpulkan hal itu di dalam al qur’an surat an nazi’at : 40-41 :

$¨Br&ur ô`tB t$%s{ tP$s)tB ¾ÏmÎn/u‘ ‘ygtRur }§øÿ¨Z9$# Ç`tã 3“uqolù;$# ÇÍÉÈ ¨bÎ*sù sp¨Ypgø:$# }‘Ïd 3“urù’yJø9$#

Artinya : ” ..  Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). ( Depag RI, 2003 : 365 ).

Oleh karena itu terapi akhlak atau prilaku yang buruk adalah membiasakan diri untuk melakukan prilaku atau perbuatan yang baik dan bertentangan dari yang hendak diobati, serta terus melakukannya secara kontinu sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan tabi’at. Dengan metode ini maka akhlak atau prilaku yang buruk lambat laun akan hilang dan berganti dengan akhlak atau prilaku yang baik. Apabila akhlak yang buruk bersifat permanen dalam diri manusia dan susah untuk diobati maka Imam Al Ghazali menasehati untuk menerapkan metode al tadrij ( bertahap ) dalam mengobatinya, yaitu dengan memindahkan individu dari kamunitas yang berakhlak buruk kepada komunitas lain yang memiliki prilaku dan akhlak yang lebih baik dan terus dilakukan seperti itu, sampai dia terbiasa dengan lingkungan barunya yang berakhlak baik hingga kemudian dia terbebas dari akhlak dan kebiasaan buruknya.

Selanjutnya Imam Al Ghazali menolak terhadap pendapat yang menyatakan bahwa akhlak atau tabiat tak dapat dirubah atau diperbaiki, menurut Al Ghazali seandainya akhlak tak mengalami perubahan, maka wasiat, nasehat dan pendidikan tak kan berarti apa-apa. Jika hewan liar saja dapat dirubah  menjadi hewan yang jinak, begitu pula dengan kuda, yaitu dari kuda liar menjadi kuda jinak dan patuh, maka apalagi manusia yang memiliki hati dan akal pikiran tentu akan lebih bisa untuk dididik dan dirubah dari akhlak yang buruk menjadi akhlak yang lebih baik.

Jadi dalam perspektif Imam Al Ghazali, akhlak yang buruk adalah bukan sesuatu hal yang dipelihara, didukung, atau dibiarkan bersemayam dalam diri setiap orang, akan tetapi harus ada keinginan yang kuat untuk dikikis dan dihapus dengan membiasakan diri berprilaku yang baik dan mulia secara perlahan, kontinu dan istiqomah. Proses ini menurut beliau tentu tidak bisa dilakukan secara singkat melainkan membutuhkan waktu, perjuangan serta kesabaran yang tinggi dalam melakukannya, Allah Swt berfirman dalam salah satu ayat Al qur’an surat An Nahl ayat 90 :

* ¨bÎ) ©!$# ããBù’tƒ ÉAô‰yèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ǜ!$tGƒÎ)ur “ÏŒ 4†n1öà)ø9$# 4‘sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.x‹s? ÇÒÉÈ

Artinya : ”  Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran ”. ( Depag RI, 2007 : 103 ).

Ayat di atas memberikan sebuah gambaran tentang pribadi dan akhlak yang mulia, yaitu yang selalu berlaku adil, berbuat baik dengan kerabat dan sebuah pelajaran yang berharga. Semuanya adalah indikasi tentang perubahan prilaku manusia yang buruk dapat menjadi suatu prilaku mulia dengan peran pendidikan. Dalam perspektif Islam, baik dan buruknya satu prilaku seseorang adalah jelas terlihat yaitu semua tingkah laku yang bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah Swt adalah baik dan mulia. Sebaliknya semua tindakan yang menyebabkan kemurkaan Nya, dikatakan perbuatan buruk dan keji. Sedangkan tujuan utama seorang muslim sejati adalah ridho Allah swt. Maka tidak ada alasan bagi seorang muslim yang beriman, untuk selalu memperhatikan dan mengevaluasi pribadinya terhadap kemulyaan akhlak Islam, yaitu yang meliputi hubungan baik antar sesama manusia dan seluruh alam semesta, hubungan itu dijalin dengan akhlak yang mulia agar terjadi keseimbangan semesta yang mampu menopang keberlangsungan kehidupan manusia, serta meraih ridho Allah Swt di dunia dan akherat.

3.         Konsep Pendidikan Al Akhlak Al Karimah Imam Al Ghazali

Dalam perspektif Imam Al Ghazali, al akhlak al karimah seseorang tidaklah berupa sebuah produk yang langsung jadi atau diwariskan oleh keluarga atau kedua orang tuannya, melainkan akhlak al karimah itu harus tertanam dalam diri seseorang melewati proses yang baik, yaitu sejak awal kehidupannya sampai akhir hayatnya. Di sinilah yang beliau maksud pentingnya pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai akhlak kepada diri seorang manusia. Jika tidak melewati proses pendidikan atau pengkondisian situasi yang baik maka seseorang akan dapat diperkirakan jauh dari nilai-nilai al akhlak al karimah yang ideal. Oleh sebab itu perlu juga nampaknya dalam tulisan ini mengungkapkan konsep pendidikan dalam menanamkan al akhlak al karimah dalam pemikiran Imam Al Ghazali

Secara umum telah difahami dan mafhum bahwa, manusia dilahirkan Allah kemuka bumi dalam keadaan suci atau fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Majusi, Yahudi atau Nasrani. Agar seorang anak dapat terhindar dari ketiga golongan tersebut kemudian masuk dalam golongan Islam, maka hendaknya seorang anak manusia sejak dini dibekali doktrin-doktri aqidah dan akhlak karimah. Melalui ajaran inilah yang akan tertanam dalam diri seorang anak manusia rasa iman kepada Allah dan prilaku yang baik dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari. Nurkholis Madjid, menyatakan bahwa agama apa pun yang ada didunia pada akhirnya menuju kepada penyempurnaan berbagai budi pekerti yang luhur ( Nurkholis Madjid, 1999 : 125 ). Senada dengan pendapat diatas, Dahlan ( 1992 : 72 ) menyebutkan bahwa iman bukanlah hanya sekedar perbuatan kalbu, akan tetapi terucap lewat lisan ( kata-kata ) dan terwujud dalam bentuk prilaku sehari-hari.

  1. Diakui atau tidak, akhlak yang mulia adalah bentuk kesempurnaan iman, akhlak seolah menjadi simbol dari kebesaran dan keagungan Islam. Prilaku mulia dan bermartabat adalah tujuan utama dalam kesempurnaan ber islam dan beriman. dalam salah satu hadist nabi bersabda, bahwa seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya ( HR. At Tirmidzi ). Nabi sendiri mengatakan bahwa “ aku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia “. ( HR. Bukhori Muslim ). Seorang mukmin selalu menampakkan wajah yang cerah,. Sebagaimana yang dimaksud Nabi bahwa          “ janganlah engkau anggap rendah kebaikan, meskipun sekedar tersenyum kepada saudaramu sendiri “. ( HR. Muslim ).

Untuk mencapai akhlak mulia, seperti yang dicita-citakan oleh Islam dan Rasulullah saw. Maka perlua adanya sebuah formulasi konsep yang komprehensip dalam Islam agar pada peenarapanya dapat kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Formulasi konsep itu kemudian di terapkan dalam sebuah pembinaan yang baik dan kontinu, dengan demikian diharapkan akan dapat menghantarkan manusia kepada pribadi yang sempurna. Tanpa sebuah formulasi konsep dan pembinaan yang optimal maka kecenderungan untuk berbuat dan berprilaku menyimpang dari fitrahnya semakin terbuka lebar.

Imam Al Ghazali dalam salah satu kitabnya menjelaskan, bahwa di dalam diri manusia di samping fitrahnya yang baik dalam jiwa manusia ada juga kecenderungan yang jelek yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan. ( 1994 : 40 ). Sebagaimana Husein ( 1975 : 16 ) mengatakan bahwa “ Anak dilahirkan bagakan kertas putih, maka orang tua berkewajiban membentuk mereka dengan cara membimbing dan mendidiknya dengan agama, sehingga diharapkan menjadi anak yang berprilaku mulia.

Salah seorang tokoh psikologi modern, J. Piaget ( Zainudin, 1991 : 108 ) sempat mengungkapkan bahwa ” Kebiasaan untuk menyambut wujud kepribadian individu dapat dibedakan melalui dua sudut pendekatan, yaitu : (1) sudut pendekatan kesadaran akan peraturan atau rasa hormat akan peraturan, dan (2) pelaksanaan aturan itu sendiri.

Dalam situasi pembiasaan tersebut maka perlu didukung oleh penciptaan situasi yang kondusip. Maslow ( Zainudin, 1991 : 109 ) menegaskan bahwa aktualisasi diri ( Individu ) hanya mungkin apabila kondisi lingkungan menunjangnya.

Lebih lanjut Imam Al Ghazali mengatakan bahwa, jika saja seorang anak manusia dibiarkan saja berkembang oleh keluarganya kemudian potensi akhlak jelek yang tumbuh, maka tak ayal lagi seorang anak itu akan memiliki akhlak dan prilaku yang tercela dan rusak. Maka dengan demikian pengasuh atau kedua orang tuannya lah yang paling bertanggung jawab terhadap akhlak dan prilaku anaknya sendiri.

Salah satu tempat dimana seorang anak manusia menerima pendidikan dan pembinaan akhlak adalah lembaga pendidikan atau sekolah. Imam Al Ghazali dalam hal ini memberikan gambaran bagaimana proses pendidikan dan pengajaran agama disekolah, pokok dari pemikiran beliau adalah bahwa pendidikan itu dimulai dengan metode hapalan-hapalan beserta pemahaman terhadap hapalannya, kemudian disusul dengan keyakinan dan pembenaran-pembenaran, setelah itu penegakkan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang menunjang pengokohan aqidah dan akhlaknya.

Metode ini sebenarnya mengingatkan kita pada metode pengajaran agama yang diajarkan oleh para pendukung gerakan skolastik di eropa pada abad-abad pertengahan. Gerakan ini berdiri sebenarnya dalam rangka mewujudkan argumentasi dan justifikasi bagi aqidah-aqidah keagamaan dan ajaran gereja yang hingga saat berdirinya gerakan ini masih tetap diterima tanpa menuntut dalil tentang pembenarannya. Pada masa itu orang berkeyakinan bahwa hakekat agama diturunkan kepada mereka yang bertugas menyebarkannya melalui ilham.

Berdirinya gerakan skolastik mempunyai motivasi kuat yang dirasakan oleh kaum gereja ketika itu. Motivasi itu ialah, bahwa ummat mulai merasakan adanya kebutuhan untuk mengetahui hakekat agama secara mendalam, tidak hanya didasarkan atas indoktrinasi dan peniruan semata, tetapi juga atas dasar dalil, argumentasi, penafsiran dan diskusi. Hanya ada satu alternatif bagi gereja, yaitu upaya meletakkan aqidah keagamaan dalam satu pola logis yang dapat memuaskan orang-orang yang sangsi. Hanya saja didalam memberikan ajaran keagamaan, para pemuka gereja tidak mendahulukan logika atas aqidah. Sebaliknya mereka berpendapat agar aqidah dan keimanan kepada aqidah didahulukan dari pada dalil-dalil yang logis dan argumentasi-argumentasi yang memuaskan.

Singkatnya, di dalam pendidikan agama, kaum skolastik di Eropa pada abad pertengahan, mengikuti langkah-langkah yang sama sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Al Ghazali, yaitu dimulai dengan aqidah dan keimanan, baru kemudian menguatkannya dengan dalil-dalil dan argumentasi.

Motivasi pandangan Imam Al Ghazali, tentang metode pendidikan agama didasarkan pada sikap hidupnya sebagai seorang sufi dan ritual peribadatan. Dari pengalaman spiritual pribadinya di dalam hidup, dia menemukan bahwa cara untuk mencegah manusia dari kesangsian terhadap agama ialah keimanan yang kuat kepada Nya, menerima dengan sepenuh jiwa yang jernih dan aqidah yang pasti pada usia sedini mungkin, dan kemudian mengokohkannya dengan argumentasi-argumentasi yang didasarkan atas pengkajian-pengkajian dan penafsiran al Qur’an serta hadist-hadist secara mendalam, disertai dengan ritual-ritual agama yang dilakukan dengan tekun dan ikhlas.

Al Ghazali berpendapat bahwa akal insani pada pertumbuhan dan perkembangannya mesti melalui berbagai fase yang bertahap, dab bahwa setiap fase itu memiliki pola berpikir dalam memecahkan berbagai macam masalah yang terkadang dihadapi oleh manusia. Imam Al Ghazali merupakan pemikir yang hidup dizaman pada masa berdirinya gerakan skolastik di Eropa, dan Imam Al Ghazali telah sampai pada periodesasi berpikir manusia.

Dari sini menurut hemat penulis dapat ditarik satu benang merah, bahwa keberagamaan dan ketashawwuf-an Imam Al Ghazali serta upayanya untuk mensucikan individu agar mendapat keutamaan yang besar dalam masyarakat, telah menjadi pendorong utama baginya untuk memperhatikan pendidikan Agama dan pendidikan akhlak. Dia benar-benar yakin bahwa bahwa pendidikan yang  benar itu adalah dapat berbuat banyak dalam rangka memperbaiki akhlak dan prilaku seseorang. Dalam hal ini Al Ghazali sejalan persis dengan para pendidik modern yang berpandangan bahwa kepribadian individu menampakkan hasil interraksi antara tabi’at-tabi’at fitriahnya dengan faktor-faktor lingkungannya.

Secara luas Imam Al Ghazali mengungkapkan tentang tabi’at-tabi’at fitriah manusia atau bakat-bakat alamiah manusia. Dia menjelaskan bahwa tabi’at manusia itu diciptakan dengan maksud memenuhi kebutuhan vital manusia, sehingga hilangnya tabi’at manusia akan sangat membahayakan kehidupan manusia ituu sendiri, serta membawanya beserta keturunannya kepada kerusakan bahkan kemusnahan.

Selanjutnya Al Ghazali mengungkapkan, bahwa diantara tabi’at-tabi’at manusia itu ada yang lebih kuat serta lebih mudah mengarahkannya dari yang lain. Pandangan Al Ghazali tentang tabi’at seperti itu sejalan juga dengan pandangan psikologi modern yang membeda-bedakan barbagai tabi’at fitriah manusia di tinjau dari sudut kekuatanya serta kemungkinannya untuk mengarahkannya. Demikian pula tentang pentingnya tabi’at-tabi’at fitriah bagi kehidupan dan kelangsungan hidup manusia. Tentang kupasannya yang luas tentang tabi’at ini, Al Ghazali mengungkapkan pula bahwa sebagian tabi’at itu ada yang dibawa sejak lahir dan ada pula yang terbentuk sejalan dengan bertambahnya usia pada tingkat-tingkat perkembangan tertentu. Pandangan inipun menampakkan unsur-unsur psikologi modern, yang menerangkan bahwa derajat-derajat fitriah mencapai derajat intensitas dan kejelasan tertentu pada fase-fase tertentu dari fase pertumbuhan individu.

Pandangan Imam Al Ghazali ini sejalan secara persis terhadap pandangan para sufi dan filosof, sebab diakui atau tidak pandangan masyarakat dewasa ini terhadap kehidupan cenderung mengambil jalan tengah dan pintas. Pandangan yang menngatakan bahwa standar kebenaran adalah materi, sehingga orientasi hidup diarahkan untuk mengejar materi sebanyak-banyaknya kemudian menikmati hasil dari meteri itu secara berlebihan. Atau sebaliknya menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari kenikmatan hidup di duniawi dengan menampikkan semua hal yang berurusan dengan duniawi. Keduannya bisa disebut sebagai sikap yang tidak wajar dan tidak proporsional.

Untuk menyeimbangkan kedua kutub pemikiran tersebut, maka dalam pembentukan mental dan akhlak seseorang diperlukan pembiasaan. Tahap pembiasaan ini menurut Zainudin, ( 1991 : 107 ) dimaksudkan agar dimensi-dimensi jasmaniah dari kepribadian individu dapat terbentuk dengan memberikan kecakapan berbuat dan berbicara. Tahap pembiasaan ini menjadi penopang dan sebagai persiapan yang mendasar untuk kehidupan dan perkembangan kepribadian seseorang pada masa yang akan datang.

Pengalaman yang diperoleh pada tahap pembiasaan benar-benar bermanfaat untuk mendasari proses lebih lanjut, menurut Zakiah Derajat                ( 1982 ) pengalaman-pengalaman yang dilalui sejak kecil bahkan sejak dalam kandungan, merupakan unsur yang akan menjadi bagian kepribadian seseorang. Imam Al Ghazali lebih menguatkan ( 1987 ) dengan mengatakan bahwa, suatu ajaran yang akan membuahkan hasil  membutuhkan latihan-latihan atau pembiasaan yang panjang proses waktunya dan perhatian dari pendidikan yang konstan.

Pada tahap pembiasaan itu akan lebih sering sebenarnya terjadi pada masa anak-anak atau masa pertumbuhan awal individu, dimana pada ini seorang anak akan lebih sering meniru ( imitasi ). Oleh Piaget dikatakan bahwa ” kebiasaan untuk menyambut wujud kepribadian individu dapat dilakukan melalui dua sudut pendekatan : (1) Sudut pendekatan kesederhanaan akan peraturan atau rasa hormat akan peraturan dan, (2) Pelaksanaan peraturan itu sendiri.

Dalam tahap pembiasaan itu perlu juga di dukung oleh penciptaan situasi yang kondusif untuk perkembangan ke arah yang lebih baik. Maslow ( 1963 ) menegaskan bahwa aktualisasi diri ( pembiasaan ) individu kearah yang lebih baik hanya akan bisa atau memungkinkan jika kondisi lingkungan menunjangnya. Oleh karena itu perwujudan nilai dalam praktek kehidupan sehari-hari dalam rangka penciptaan situasi yang kondusif akan mempermudah pencapaian kecakapan jasmaniah seseorang.

Jadi dengan demikian, pembiasaan-pembiasaan dan latihan yang merupakan pengalaman bagi seorang individu kecil, akan menjadi unsur yang paling penting dalam pembentukan pribadi yang mulia dan mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap kehidupannya kelak, sebab kepribadian seseorang itu akan terbentuk dari pengalamannya sejak kecil. Di samping pembiasaan-pembiasaan tersebut, Al Ghazali juga mengungkapkan pembinaan al akhlak al karimah kepada seorang anak atau anak didik, yaitu melalui keteladanan, nasehat dan perhatian.

Keteladanan adalah satu bentuk pendidikan yang memiliki nilai penting dalam membina akhlak dan pribadi seseorang. Sebagaimana Miqdad Yalzan mengemukakan bahwa : Pada masa awal kehidupannya, seorang anak akan senantiasa mencontoh dan meniru tingkah orang lain, terutama orang-orang yang sering ia jumpai sehari-hari. Apa yang dikerjakan orang-orang yang dijumpainya maka itulah yang terbaik menurutnya yang kemudian ditirunya. Sedangkan nasehat yang diberikan oleh orang tua atau seorang guru dapat memberikan kunci pembuka bagi seorang anak untuk mengetahui hakekat segala sesuatu, kemudian mendorongnya  menuju situasi yang luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia serta membekalinya dengan prinsip-prinsip islami.

Perhatian diberikan untuk mengikuti perkembangan pribadi dan akhlak seorang anak ketika sedang beradaptasi dengan lingkungannya. Perhatian ini sangat dibutuhkan oleh seorang anak yang berfungsi sebagai pembimbing, pengarah sekaligus pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.  Jika seorang anak tidak mendapatkan perhatian dan bimbingan dari guru dan orang tuanya maka dia akan konvensional dan mencari perhatian dari luar dirinya, bahkan tidak menutup kemungkinan hal itu akan berdampak negatif pada perkembangan dan pembentukan pribadi seorang anak. Untuk menegaskan hal ini Zakiah Derajat ( 1982 : 79 ) mengatakan bahwa anak-anak pada tahun pertama sangat bergantung pada kedua orang tuanya dan dengan sendirinya membutuhkan perhatian, nasehat dan teladan karena ia masih dalam keadaan lemah. Mengenai hal ini dijelaskan juga dalam Al qur’an surat At Tahrim ayat 6 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Artinya : ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ”. ( Depag RI, 1997 : 236 ).

Upaya orang tua dalam menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka sebenarnya pada saat sekarang sudah banyak dibantu oleh peran guru. Seorang guru dalam melaksanakan tugasnya selalu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membantu sesamanya atau anak didiknya agar menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti yang mulia.

Dahlan ( 2005 : 4 ) mengatakan bahwa upaya untuk membantu seseorang menurut perspektif Islam, diarahkan pada pemungsian kalbu wahdaniyah yang terpancar dari nur Ilahiyah. Cahaya Ilahiyah itulah yang akan mewujudkan pribadi mantap, istiqomah, halus budi, akhlak mulia dan mengikuti petunjuk Ilahi serta mengembangkan fitrah kemanusiaan.

Untuk mengembalikan fungsi kalbu itulah seseorang seyogyanya senantiasa mengawasi segala gerak dan diamnya, bicara dan tutur katanya, duduk dan berdirinya, sehingga ia mampu melihat kembali segala yang ada dengan mata hatinya. Demikianlah Imam Al Ghazali memberikan gambaran secara gamblang tentang konsep pendidikan untuk pembentukan al akhlak al karimah, telah beliau konsep sepuluh abad yang lalu, jika saja konsep ini diperhatikan secara layak dan proporsional oleh publik pendidikan di Indonesia di zaman modern saat ini, maka akan terwujudlah demokrasi dan pemerataan pendidikan serta terealisasikannya tujuan utama pendidikan yaitu mewujudkan manusia kaffah.

4.         Konsep Spiritualitas Islam Muhammad Zuhri

Mengawali pembahasan tentang spiritualitas Islam dalam pemikiran Muhammad Zuhri, nampaknya perlu penulis ketengahkan beberapa bait syair yang sempat ditulis oleh beliau dalam salah satu bukunya ( Muhammad Zuhri, 2007 : 42 ).

Tuhan … Kapan Engkau hilang, sehingga aku harus mencari Mu.

Kapan Engkau samar, sehingga aku harus membuktikan Mu

Kapan Engkau jauh ya Allah …Sedang tetes embun

dan semak belukar di rimba raya tak sanggup berpisah dengan Mu.

Bahkan para pendusta, Iblis dan Setan sepakat sirna tanpa Mu, Ilahi.

Sungguh Engkau tiada mungkin dicari tetapi Engkaulah yang memanggil kami

Siapakah yang mampu menyatakan wujud Mu ?

Bukankah Engkau sendiri yang menyatakan diri ?

Nyatakan kehadiran Mu, ya Maulaya

Dalam sukma seperti matahari yang melayang di telaga

Singkapkan hijab tak berupa, bagai sekuntum mawar dan harumnya

Hingga tiada antaraku antara Mu antara

Bila fajar menyingkap tabir malam

Kehidupan baru telah membatalkan kematian .. !

Ungkapan syair beliau diatas adalah merupakan gambaran semangat spiritualitasnya yang selalu beliau gambarkan dengan peran Tuhan yang ada dalam diri manusia itu sendiri, Tuhan sebenarnya tak pernah menghilang atau menjauh dari eksistensi manusia di tengah semesta, melainkan Dia selalu dekat dan menyatu dengan kehidupan manusia yang kompleks dalam membentuk sejarah dan peradaban manusia yang diinginkan Tuhan.

Kata  ” Tuhan ” adalah sebuah istilah yang menyimbulkan wujud Mutlak, sempurna, Hidup dan berdiri sendiri, kepada Nya bergantung semua wujud nisbi yang ada. Dalam beberapa ayat al Qur’an yang secara khusus menerangkan tentang esensi Tuhan dan ke Tuhanan dapat dilihat pada surat Al Ikhlas ayat 1-5 :

öö@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr&

Artinya : ”  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula   diperanakkan, Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” ( Depag RI, 1997 : 124 )y

Dijelaskan juga dalam surat Al-Hadid ayat 3 :

uqèd ãA¨rF{$# ãÅzFy$#ur ãÎg»©à9$#ur ß`ÏÛ$t7ø9$#ur ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÌÈ

Artinya : ” Dialah  yang Awal dan yang akhir  yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. ( Depag RI, 1997 : 132 ).

Al awwal dalam salah satu ayat diatas adalah bermaksud, sesuatu yang sudah ada sebelum segala sesuatu ini ada. Dan yang dimaksud dengan al akhir dalam ayat diatas adalah yang selalu dan tetap ada ketika segala sesuatu ini musnah. Sedangkan yang dimaksud zahir adalah yang nyata adanya karena banyak bukti-buktinya, sedangkan yang bathin adalah yang tak dapat digambarkan hikmat Zatnya oleh akal manusia. ( Depag RI, 2000 : 132 ).

Dari beberapa keterangan ayat diatas yang yang secara lugas menjelaskan tentang esensi Tuhan adalah merupakan Zat tertinggi dan Agung yang pada Nya lah segala sesuatu bergantung dan berkepentingan, tidak ada sesuatu pun yang ada disemesta ini yang tidak bergantung kepada Nya. Singkatnya seluruh makhluk yang ada akan selalu berkepentingan dengan yang nama Tuhan. Hal ini sudah terbukti sejak ratusan abad yang lalu dimana manusia selalu berusaha untuk menemukan Zat dan wujud Tuhan untuk melengkapi keyakinan dan kepentingan mereka.

Konsep spiritualitas Islam yang selama ini dikembangkan oleh Muhammad Zuhri, adalah sebuah konsep yang mencoba mengedepankan doktrin-doktrin Islam dengan menggunakan pendekatan-pendekatan sufistik yang sangat familier , kontekstual dan transformative. Muhammad zuhri menawarkan sebuah formulasi spiritualitas Islam yang lebih realistis dan lebih bermakna, walaupun tanpa harus menafikkan pemikiran dan penafsiran spiritualitas yang sudah ada. Beliau menawarkan tentang penyatuan seluruh ummat manusia, dengan tidak membedakan ras, golongan dan derajat seseorang. Walaupun manusia terlahir sebagai anak bumi, tapi esensinya dia harus menemukan dirinya sebagai hamba Allah, yang kemudian menemukan juga orang lain sebagai hamba Allah. Maka antara manusia satu dengan lainnya adalah satu kesatuan, yaitu hamba Allah. Dengan demikian tidak ada lagi permusuhan, penjegalan dan pengrusakan.

Muhammad Zuhri menemukan formulasi spiritualitas Islam tersebut ketika perjalanan keagamaannya menempatkannya pada satu situasi yang penuh dengan nuansa sufistik, walaupun semua tidak lepas dari pemahamannya terhadap syareat Islam yang selama ini telah banyak diketahui oleh sebagian besar ummat Islam, disanalah beliau menemukan esensi dari doktrin Islam yang sebenarnya, sebuah doktrin yang maha agung dan sempurna, beliau menyebutnya dengan istilah          ” metodologi proses ”. ( Rukun Islam ).

Dalam salah satu kesempatan yang diberikan Allah Swt, penulis berhasil menemui Muhammad Zuhri di kediamannya untuk berdialog dan mewawancarainya seputar pemikiran beliau terhadap spiritualitas Islam, penulis diterima di rumahnya yang sejuk, alami dan penuh suasana keakraban dan kekeluargaan. Di salah satu tempat di Jawa tengah, tepatnya di desa Sekarjalak Kabupaten Pati Jawa Tengah. Dalam suasana dialog yang komunikatif dan inspiratif itu, penulis berhasil berdialog dengan beliau sepanjang malam tak sedikitpun terasa jenuh dan bosan. Berikut petikan wawancara penulis dengan Muhammad Zuhri seputar pemikirannya tentang spiritualitas Islam. ( Selasa, 7 oktober 2008, pukul 21.00 – 01.00 Wib ).

Menurut beliau, makna spiritualitas yang difahami dalam khazanah keislaman akan sangat berbeda dengan pemahaman spiritualitas barat atau non Islam. Mereka memahami spiritualitas itu dengan magic atau dunia supranatural, dimana seseorang mengembangkan salah satu potensi yang dimilikinya untuk menembus dunia gaib dengan kekuatan supranatural, yang didapat dengan latihan, riyadhoh atau pendidikan.  Berbeda dengan Islam, spiritualitas difahami sebagai sesuatu yang diperoleh tidak dengan melewati proses latihan atau riyadhoh.  Jika akal, keberadaannya bisa dididik dan dilatih, hati bisa dididik dan dilatih, maka spiritualitas seseorang tidak bisa dilatih. Spiritualitas adalah buah dari seseorang yang telah melakukan pengabdian kepada sesamanya, berperan pada fihak lain, memberikan fungsinya untuk fihak lain, kemampuannya dalam membebaskan dirinya sendiri dan kemampuan dalam membebaskan orang lain.

Muhammad zuhri menjelaskan, transformasi kesadaran manusia untuk memainkan perannya dalam menejerial Tuhan melewati proses transendensi yang akurat yaitu dengan melakukan ibadah ritual yang telah diajarkan dalam doktrin Islam secara sistematis dan tersusun dengan rapih, beliau menyebutnya dengan istilah metodologi proses. Saat itulah manusia akan memahami esensi dari spiritualitas Islam. Pertama sholat, menurut Muhammad Zuhri, sholat adalah merupakan moment transendensi manusia dalam ruang menejerial Tuhan, dengan sholat seseorang akan menemukan dirinya sebagai bagian dari alam semesta, dia menemukan dirinya ada ditengah-tengah semesta, yaitu sebagai hamba Allah yang ikhlas, karena ikhlas adalah jubahnya semesta, seluruh isi alam semesta ini adalah makhluk Allah yang ikhlas, jika seseorang tidak menjadikan dirinya sebagai makhluk yang ikhlas maka dia akan tertolak dari bagian penghuni semesta. Effect dari sholat yang di lakukan adalah menjadi sumber informasi Tuhan yang otentik dan kuat nilai kebenarannya, maka dia adalah makhluk Allah yang jujur, tidak perlu lagi baginya untuk berbohong karena dia menjadi sumber informasi Tuhan. Sholat pun merupakan moment imanensi bagi manusia, yaitu seseorang akan menemukan semesta ada dalam dirinya, semesta yang sangat luas ada dalam diri seorang manusia, maka semesta menjadi bagian dari tanggung jawabnya,  dia akan memiliki nilai di tengah lingkungannya karena semesta memanggilnya untuk menjadi penanggung jawab keberadaannya. Seorang muslim menurut beliau harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap sesamanya di tengah semesta yang membentang luas tanpa ujung, hal ini hanya akan dicapai dengan memaknai sholat sebagai proses transendensi dan imanensi bagi manusia di dalam menemukan kesadaranya ketika berintegrasi pada lingkungan sekitarnya. Maka dengan demikian berperan dan berfungsilah dia dalam kehidupannya.

Muhammad Zuhri melanjutkan pemaparannya tentang spiritualitas Islam tersebut, tanpa penulis berani untuk memotongnya. Menurut beliau kesadaran manusia yang tinggi untuk berintegrasi kepada sesamanya yang lemah dan membutuhkan pertolongan dirinya diwujudkan dalam bentuk zakat, zakat sebagai ritualitas ketiga dalam rukun Islam, merupakan perintah yang sangat agung dan mulia,  zakatlah yang merupakan sarana bagi manusia untuk berintegrasi secara utuh kepada manusia lain yang lemah dan termarginalkan. Muhammad Zuhri melihat bahwa zakat mengandung makna transendensi dan imanensi pula seperti halnya sholat. Moment transendensi zakat adalah seseorang akan menemukan dirinya menggapai kesadaran tinggi manusia di tengah-tengah ummat manusia, dirinya akan diterima sebagai bagian dari ummat manusia yang lain, karena esensi kemanusiaan adalah berintegrasi dengan sesamanya dan  membantu yang lemah dengan sekemampuannya. Jika tidak maka dia akan tertolak dari komunitas manusia dan bukan menjadi bagian dari komunitas manusia dengan tidak menemukan dirinya berada ditengah-tengahnya. Sedangkan moment imanensinya adalah seorang yang berzakat akan menemukan ummat manusia yang begitu luas dan besar ada dalam dirinya sendiri, dengan demikian sikap yang muncul kemudian dengan kesadaran tersebut adalah sikap yang amanah. Yaitu sikap yang selalu konsisten dan tidak pernah berkhianat kepada sesamanya, sifat ini juga merupakan salah satu sifat nabi dan Rasulullah Saw.

Jadi moment transendensi dan imanensi manusia didalam mentransformir kesadarannya yang bersifat eksistensial adalah seseorang menjadi bagian dari ummat manusia dan ummat manusia ada dalam dirinya, maka dia menjadi bertanggung jawab penuh terhadap nasib dan kondisi ummat manusia secara luas.

Beliau melanjutkan, bahwa tekhnis dan praktek transendensi dan imanensi dalam dimensi esensial ibadah ritual yang telah disebut diatas  adalah berupa puasa dan ibadah haji. Moment puasa menurut beliau adalah proses dekonstruksi yang dilakukan manusia terhadap dirinya sendiri, di awali dengan menghancurkan kebiasaan yang biasa dilakukannya terhadap ciptaannya. Menurut beliau ada dua macam makanan manusia yang harus dikendalikan saat berpuasa, yaitu makanan fisik berupa suplemen dan makanan nafsu berupa marah, penyejuk dan perasaan. Semuanya sudah menjadi rutinitas manusia untuk mengkonsumsinya, tapi dengan moment puasa, tradisi manusia dalam mengkonsumsi makanan di jungkirbalikkan. Pada saat seseorang tidak berselera untuk makan lalu diperintah untuk makan ( sahur ) dan pada saat seseorang berselera untuk makan justru dilarang, begitu juga dengan perasaan marah, benci dan hasud. Selama satu bulan, sel-sel manusia yang sudah lama terbentuk dianggap sudah usang dan diganti dengan sel-sel baru yang lebih potensial. Dalam salah satu firman Nya disebutkan ” Bahwa puasa itu adalah untuk Ku dan Akulah yang akan mengantinya dengan yang baru ”.

Puasa menurut beliau adalah moment transendensi dalam dimensi esensial yang di gapai oleh manusia dalam proses transendensi, yaitu kuasa Tuhan       yang tak terbatas. Lalu seseorang akan menemukan dirinya di dalam kuasa Tuhan ( Qudrotullah ). Sedangkan proses imanensi dalam ritual puasa adalah menemukan kuasa Tuhan ada dalam dirinya sendiri, maka di sana akan muncul yang namanya keramatullah atau kemulyaan yang diberikan langsung oleh Allah Swt ke dalam diri seorang manusia. Dengan demikian maka akan tumbuhlah sifat nabi yang ke tiga Tabligh ( menyampaikan ) dengan berbekal kemulyaan.

Transendensi esensial selanjutnya yang dijelaskan oleh Muhammad Zuhri adalah ibadah haji, prosesi perjalanan spiritual seseorang menuju ridho dan ma’rifah ke hadirat Allah. Menurut beliau, ibadah haji tidak berorientasi pada sesuatu apapun seperti ibadah yang lain, ibadah haji adalah proses napak tilas perjalanan spiritual Nabi Ibrahim As. Sebagai sosok mulia yang ikhlas melaksanakan perintah Allah ( Amr Tuhan ) yaitu lahir dari iradah Allah kemudian menemukan diri di dalam kehendak Allah. Tugas suci manusia dalam  ibadah haji adalah berusaha menemukan kehendak Allah ada dalam dirinya sendiri. Prosesnya adalah menghubungkan dua hal yang berbeda ditemukan dalam satu event monumental, yaitu tawaf yang berjalan melingkar dihubungkan dengan sa’i yang berjalan dan bergerak lurus ke depan, kemudian ditemukan dalam satu titik yang bernama arafah. Setelah itu perjalanan spiritual seseorang akan bergerak melingkar seperti spiral menuju mardhotillah dari titik arafah.

Perjalanan spiritual yang bergerak melingkar seperti spiral tersebut dalam rangka menjalankan perintah Tuhan ( amr Tuhan ) yang keberadaannya tidak bersifat general atau intelektual, melainkan bersifat pribadi dan individual, sangat bergantung pada kesiapan pribadi seseorang yang dimilikinya dalam menerima kehendak dan perintah Tuhan.  Dengan demikian kadar amr Tuhan dalam diri seorang manusia tentu akan berbeda-beda, sesuai dengan kapasitas pribadi yang menerimanya. Saat amr Tuhan telah diterima maka kekuatan intelaktual dan moral seseorang akan gugur menghadapinya. Ketika Nabi Ibrahaim diperintah oleh Allah untuk menyembelih Ismail, putra kesayangannya. Tentu kekuatan intelaktual dan moral Ibrahim menolak dan tidak menerimanya, akan tetapi amr Tuhan di atas segalanya yang harus dibuktikan dengan nyata dalam kehidupannya.

Walaupun kemudian Tuhan menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Nya dengan mengganti Ismail dengan seekor domba untuk disembelih oleh Ibrahim, sehingga sampai hari ini diperingati oleh ummat Islam dengan menyembelih hewan sebagai simbol ketaatan manusia terhadap amr Tuhan.

Amr Tuhan, menurut Muhammad Zuhri adalah memiliki sifat pembebasan, maka setiap amr Tuhan yang sampai pada seseorang harus mampu membebaskan dirinya sendiri dari belenggu diri dan dunia milik, kemudian juga membebaskan orang lain. Merubah situasi diri yang terbiasa destruktif menjadi seseorang yang memiliki mental konstruktif, seseorang yang terbiasa tidak peduli terhadap sesamanya kemudian menjadi pribadi mulia yang selalu memperhatikan kepentingan orang lain. Inilah yang beliau sebut dengan perubahan yang akan menghantarkannya pada predikat haji mabrur, yaitu haji dengan tingkat  spiritualitas tertinggi, yang tak lagi mencari banyak alasan dan pembenaran dengan menggunakan akalnya, karena telah dicukur dalam tahalul yang dilaksanakan berdasarkan amr Tuhan. Kondisi ini menurut beliau adalah kondisi fathonah ( cerdas ) yang moral dan kekuatan intelektualnya dibimbing oleh amr dan kehendak Tuhan. Sedikitpun dia tidak akan melakukan aktifitas penting kesehariannya dalam beribadah atau bersosialisasi tanpa perintah dan bimbingan dari Tuhan.

Jadi, menurut beliau sangat bertentangan dengan esensi haji, jika tawaf yang dilakukan dengan menggeser orang lain, karena dirinya tidak menjadi nyaman. Sa’i yang dilakukan dengan menyikut orang lain yang ada disebelahnya karena mengganggu perjalanan sa’inya, atau mencium hajar aswad dengan berdesak-desakan, saling sikut bahkan saling injak hanya untuk sekedar mencium hajar aswad. Tujuan yang mulia untuk melaksanakan rukun haji dengan melakukan tawaf, sa’i, atau mencium hajar aswad, akan tetapi dilakukan dengan mencelakai atau mengorbankan orang lain merupakan simbol destruktif seorang manusia. Walaupun tujuannya mulia tetapi diperoleh dengan cara merusak maka tidak akan membuatnya menjadi mulia seperti tujuannya, dia pulang tidak dengan menyandang haji mabrur atau mabrurah, dia tidak akan terbebas dari belenggu diri dan dunia miliknya, dia tidak akan konstruktif melainkan akan semakin destruktif. Hal ini disebabkan karena yang difahaminya adalah syareat ibadah hajinya, tidak memahami hakekat dan ma’rifat perjalanan hajinya.

Di samping napak tilas Nabi Ibrahim As, Ibadah haji marupakan undangan tertinggi sekaligus sebagai tamu Allah Swt. Tamu yang diundang bukan satu atau dua orang melainkan ratusan ribu atau bahkan jutaan manusia. Maka akan ada jutaan juga masalah yang dibawa dan muncul saat ibadah haji. Persoalannya adalah apakah seseorang sanggup meresponse masalah-masalah tersebut secara baik atau tidak. Menawarkan fasilitas-fasilitas dirinya untuk mengeluarkan sesamanya dari jeratan masalah. Memberikan air pada orang yang dahaga, memberikan makan bagi yang kelaparan, memberikan obat bagi yang sakit, mengantarkan kembali ke maktabnya bagi yang tersesat. Semua disaksikan secara seksama oleh Tuhan sebagai pengundang.

Saat itu adalah saat dimana para jama’ah haji di uji keistiqomahan ibadahnya oleh Tuhan, jika hanya untuk mencium hajar aswad saja harus dengan menyakiti atau mengorbankan orang lain, maka hilanglah kesatuan dirinya dengan ummat, hilang pula gairah transformasi sosialnya. Mestinya menurut Muhammad Zuhri, tidaklah demikian, lebih baik memberikan kesempatan pada orang lain dan tidak mengganggunya.

Muhammad Zuhri melanjutkan, bahwa rangkaian ibadah ritual yang telah diungkap merupakan syareat yang harus direalisasikan secara baik sesuai dengan aturan hukum syareat yang difahami secara umum, hanya untuk pengembangan diri seseorang, syareat tersebut harus didayagunakan dan dioptimalkan dengan cara thariqah, untuk menyempurnakan diri dihadapan Tuhan. Seperti apa seorang muslim yang telah melaksanakan syareat dan mengembangkan diri dalam rangka menemukan ridho Nya, seperti apa seorang muslim dapat aktual ditengah-tengah masyarakatnya itulah yang beliau maksud dengan thariqah. Ketika seorang muslim telah menghadap Tuhan dengan niat yang benar, melakukan deformasi dan kontemplasi dengan puasanya, mendayagunakan segenap kemampuannya untuk membantu sesamanya, membelanjakan hartanya untuk fakir dan miskin, mereka menurut Muhammad Zuhri adalah para pelaku thariqah. Setiap orang yang telah mendayagunakan syareat tersebut dalam rangka menyempurnakan diri berarti telah ber thariqah. Walaupun thariqah seseorang akan berbeda dengan yang lain karena berdasarkan tingkat kemampuan seseorang dalam mendayagunakan dan melaksanakan syareat berbeda-beda.

Setelah ber-thariqah, beliau melanjutkan seseorang akan memahami untuk apa dirinya ber-thariqah, yaitu adalah untuk menggapai haqiqah ( hakekat ) dari segala sesuatu, yaitu Allah Swt. Dia lah Sang Maha hakekat atau Sang Maha Kenyataan. Tuhan melayani hamba Nya menurut kebutuhan masing-masing, maka Dia hadir dalam diri manusi itu berbeda-beda, karena yang dilayani, dikelola dan dibutuhkan makhluk Nya itu berbeda-beda. Sedangkan kehendak dan kekuasaan Nya adalah sama. Esensi dari hakekat adalah memahami akan adanya kehendak dan kekuasaan Allah. Ketika berjumpa dengan pelayanan Allah yang berbeda-beda, tidak akan membuat seseorang menjadi sedih, marah atau cemburu karena sesungguhnya yang berbeda-beda itu datang dari Allah. Orang yang mengenal hakekat, hilanglah dukanya karena tidak ada yang nampak didepannya kecuali ” Wajah Allah ”. Yang nampak bukan lagi warna-warna, bentuk-bentuk, manis atau getir, kecil atau besar rizkinya, melainkan kehendak Allah. Sang Pemberi Yang Terbaik.

Selanjutnya Muhammad Zuhri memaparkan, bahwa setelah memahami hakekat, dimana pelayanan Tuhan yang berbeda-beda adalah menjadi kehendak Nya. Maka effek yang muncul kemudian adalah pengenalan terhadap Sang Pemberi yang terbaik itu, yaitu Allah. Inilah yang kemudian beliau menyebutnya Ma’rifah yaitu mengenal Allah lebih dekat. Jika seseorang telah berada dalam kondisi ma’rifah, maka Tuhan akan banyak memberikan informasi ke dalam dirinya secara individual dengan menghadirkan kenyataan-kenyataan yang jauh di luar perkiraan pribadinya.

Keempat tahapan tersebut – Syarea’t, tahriqah, haqiqah dan ma’rifah – adalah upaya manusia untuk mengembangkan dirinya manjadi manusia mulia yang sanggup menjalankan menejerial Tuhan di muka bumi.  Dengan demikian martabat spiritualnya sama dengan martabat spiritual seorang raja yang adil, mereka tidak memungut fasilitas alam untuk menopang hidupnya, tapi mengeluarkan sedekah yang sebanyak-banyaknya kemudian aktual ditengah-tengah masyarakatnya.

Secara umum pandangan Muhammad Zuhri tentang spiritualitas Islam dapat diklasifikasikan dalam dua pandangan, yaitu spiritualitas Islam yang berorientasi pada Zat Allah Swt ( Vertikal oriented ) dan spiritualitas Islam yang berorientasi pada alam semesta beserta makhluk-makhluk yang ada didalamnya     ( horizontal oriented ). Akan tetapi dari pemikirannya yang mendalam terhadap spiritualitas Islam nampak kecenderungan dan keberpihakan beliau terhadap spiritualitas yang berorientasi horizontal, yaitu eksistensi manusia untuk mengabdikan dirinya pada sesama secara total, melewati pengabdian sepanjang masa tanpa jenuh, sehingga kehadirannya dimuka bumi akan terasa sebagai rahmatan lil ‘alamiin dalam menjalankan amr Tuhan yang harus diperankan oleh manusia. Hal ini sangat terlihat jelas dari untaian-untaian hikmahnya dalam setiap pertemuan budaya barzakh, baik di Bandung atau di Jakarta. Juga tulisan beliau yang secara dalam tertuangkan dalam beberapa buku dan artikel bebas, baik dimedia massa atau internet.

Pemikiran Muhammad Zuhri tentang spiritualitas Islam nampak terlihat juga ketika beliau memaknai Basmalah sebagai kalimat awal yang sangat sakral dalam tradisi keislaman. Beliau mengatakan bahwa Allah yang gaib tidak akan terlihat wujud Nya, maka untuk mengenal Allah harus mengenal sifat-sifat Nya yang bisa diwujudkan, diantaranya adalah kata Bismillâhirrahmânirâhiim, didalamnya terdapat kata Allah, Ar Rahmân dan Ar Rhaim. Salah satu sifat Allah yang bisa diwujudkan adalah Ar Rahman, bahwa alam semesta beserta seluruh potensi yang ada didalamnya adalah berasal dari pancaran sifat Ar Rahman             ( Rahmaniyah Allah ). Semula yang ada hanya Allah dan ketiadaan, dari ketiadaan itu kemudian menjadi ada hanya disebabkan oleh Rahmaniyah Allah. Maka Allah lah yang menyebabkan segala sesuatu yang awalnya tiada menjadi ada. Dari wujud yang paling sederhana sampai pada wujud yang paling sempurna yaitu manusia. Dari benda-benda mati seperti batu, air, gas, dan mineral kemudian pada tumbuh-tumbuhan ( vegetable kingdom ) setelah tumbuh-tumbuhan muncul kehidupan yang kedua yaitu dunia binatang ( Animal Kingdom ) yang kehidupannya bergantung pada tumbuh-tumbuhan, selanjutnya Allah menciptakan makhluk yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya yaitu manusia ( Human    Kingdom ), semua makhluk dan potensi yang dimilikinya tidak lain adalah karunia rahmaniyyah Allah, jadi sifat rahmaniyyah Allah ini oleh Muhammad Zuhri disebut sebagai sifat Al awwal Allah ( Sifat Tuhan yang pertama kali     ditampilkan ). Allah tidak dapat dilihat karena gaib, akan tetapi sifat rahmaniyyah Nya jelas terlihat.     ( Muhammad Zuhri, 2007 : 20 ).

Al-Rahman, adalah sesuatu yang menjelaskan tentang kegaiban Tuhan. Sifat Al- Rahman Tuhan merupakan sifat menejerial Nya di muka bumi dalam membuat proses yang awalnya tidak ada menjadi ada. Muhammad Zuhri menyatakan ada empat tingkat sifat menejerial Tuhan di alam semesta yang realistis, diantaranya adalah :

1.         Al-Malik Al Quddus ( Yang Memiliki dan Suci )

Yaitu sifat menejerial Tuhan Yang merupakan substansi dari segala sesuatu yang mewujud. Tidak ada satu pun kekuatan di alam realitas kecuali yang ditopang diri Nya. Dia bersifat suci ( Tidak terusik oleh siapapun atau menyerah pada apapun ). Wujud yang menjadi pemiliki setiap wujud dan Yang bersifat suci itulah yang kemudian disebut Muhammad Zuhri sebagai ” partikel ”. Partikel merupakan unsur anorganik, yang menjadi bahan dasar penciptaan alam semesta. Partikel inilah yang kemudian menjadi lahan bagi sifat menejerial Tuhan  Al-Malik Al-Quddus.

2.         Al-Salam Al-Mukmin ( Yang Memberikan Keselamatan)

Selanjutnya Allah menciptakan satu tingkat wujud yang lebih tinggi dari wujud di alam anorganik. Yaitu satu unsur yang memiliki kesadaran untuk tumbuh dan berubah dalam situasi “ Selamat “ dan “ Aman “. Sehingga bisa tumbuh dan berkembang biak. Hal ini menunjukkan sifat menejerial Tuhan dalam bentuk Al Salam Al-Mukmin menandakan satu tingkat sifat menejerial Tuhan yang beroprasi di Alam nabati ( Alam tumbuh-tumbuhan ).

3.         Al-Muhaymin Al-Aziz ( Yang Mengawasi dan Perkasa ).

Setelah dua tingkat di atas yang menunjukkan sifat menejerial Tuhan dalam mengelola alam semesta, yaitu potensi lebih yang tidak dimiliki oleh wujud di alam anorganik dan alam nabati, sebuah kemampuan untuk mengawasi dan mempertahankan diri dan sadar ruang “ Al Muhaymin Al-Aziz ( Yang mengawasi dan Yang Perkasa ) dimanifestasikannya dengan mewujudkan alam hewani.

4.         Al-Jabbar Al-Muttakabbir

Tingkat kehidupan yang jauh lebih tinggi kemudian di wujudkan oleh sifat menejerial Tuhan adalah wujud yang bukan saja sadar akan ruang akan tetapi juga sadar akan waktu.Diberi akal sehingga bisa berpikir, diberi hati sehingga bisa merasa, kesadaran akan kebesaran dirinya, kesadaran bertanggung jawab sebagai makhluk yang paling berkuasa di muka bumi, yaitu Al-Jabbar Al-Mutakabbir, yang memulihkan dan yang sadar akan kebesaran Diri Nya. Allah memanifestasikannya dengan menciptakan alam hewani. ( Muhammad Zuhri, 2007 : 168 )

Selanjutnya, jika saja manusia dapat mengoptimalkan semua potensi yang diberikan kepadanya oleh Allah, maka dia berhak mendapatkan  rahimiyyah Allah ( kasih sayang Allah ) yang diturunkan dari sifat Al rahim. Jika manusia dapat menggunakan semua potensinya berdasarkan petunjuk Tuhan, maka Allah akan menambah kasih sayangnya. Sebagai contoh, seorang manusia yang diberi mata oleh sifat rahmaniyyah Allah, lalu digunakan untuk membaca dan mengenal lingkungannya, sehingga memperoleh nilai-nilai untuk mengembangkan kehidupannya, maka kesejahteraan dan ilmu pengetahuan itulah yang merupakan wujud balasan Tuhan sebagai pancaran dari sifat Al rahim ( rahimiyyah Allah ). Begitu pula ketika Allah menciptakan langit, gunung dan hutan, lalu manusia sanggup mengelola dan memeliharanya maka Allah akan menurunkan rahimiyyah Nya barupa kesejahteraan bagi pengelolanya, begitu pula sebaliknya jika tidak maka murka Allah yang akan datang. Selanjutnya menurut beliau, seorang yang beriman selalu memanfaatkan potensi dari Tuhan dengan sebaik-baiknya dengan beramal shaleh, karena kelak akan memperoleh rahimiyyah Nya yakni syurga. Al rahman adalah sifat Al-Awwal Tuhan yang dinyatakan dengan sifat kemurahan Tuhan, sedangkan Al rahiim adalah sifat Al-Akhir Tuhan yang dinyatakan dengan kenikmatan dan syurga.

Dalam menempuh proses kehidupan sebagai perjalanan waktu dari awal sampai akhir, adalah merupakan hak preoregatif Tuhan sebagai penguasa tunggal alam semesta untuk diwujudkan, kekuasaan dan kehendak Tuhan inilah yang merupakan qudrah dan iradah Tuhan, maka ini merupakan sifat Al awwal Tuhan yaitu qudratullah dan iradatullah, berawal dari sini Allah menciptakan manusia untuk berproses menuju ke yang akhir. Al Akhir adalah rahimiyyah Allah ( yaitu syurga ) yang hanya akan diperoleh orang yang di ridhoi Nya. Jadi, proses kehidupan manusia dari Al awwal sampai Al akhir adalah menggapai ridho Allah  ( mardhotillah ). Untuk menggapai Al-Akhir ( mardhotillah ) maka harus dimulai dari Al Awwal         ( qudrotullah atau iradhatullah ), akan tetapi tidaklah mudah untuk menggapai ridho Allah, karena kita berhadapan dengan masa yang sangat panjang dan tidak terukur oleh akal. Masa yang sangat gelap sebelum manusia lahir dan masa yang juga gelap setelah manusia mati, menurut beliau kehidupan manusia ibarat kilatan sinar terang diantara dua samudra kegelapan. Yaitu sebelum lahir dan sesudah mati, untuk memberikan solusi dari persoalan tersebut maka Tuhan memberikan alat atau metode yang disebut agama. Agama memberikan tata cara hidup agar manusia dapat menerangi dua samudra kegelapan tersebut. ( 2007 : 23 ).

Dalam perspektif Muhammad Zuhri, agama menuntun manusia agar dalam masa yang sebentar, manusia sanggup menempuh dan menerangi dua perjalanan, yaitu perjalanan ke Al awwal ( menuju ke qudrah dan iradah Allah ) dan perjalanan ke Al akhir ( menuju ke mardhotillah ). Perjalanan ke Al awwal disebutnya tawakkal ( transendensi ) sedangkan perjalanan ke Al akhir disebutnya taqwa ( transformasi ). Orang yang bertawaqal akan menemukan dirinya berasal dari qudrah dan iradah Allah sedangkan orang yang bertaqwa akan menemukan dirinya sebagai orang yang di ridhoi Nya. ( Mardhotillah ).

Seorang manusia bagi Muhammad Zuhri, untuk bisa bertawaqal maka harus sanggup melakukan transendensi-transendensi spiritual yang akan bisa mengantarkannya kepada mardhotillah, yang berangkat dari qudrah dan iradah Allah. Transendensi spiritual itu adalah sebagai berikut :

  1. Mengubah peran diri menjadi peran ‘Abdillah

Seorang manusia harus sanggup menemukan dirinya bukan sebagai pribadi tapi sebagai hamba Allah. Walaupun sejak lahir seseorang akan lahir sebagai anak bumi, yaitu orang Jawa, China, Amerika atau lainnya. Tapi pada realitas kehidupannya sehari-hari seseorang harus menemukan dirinya sebagai hamba Allah, lalu secara bersamaan diapun akan menemukan orang lain sebagai hamba Allah. Dengan demikian hubungan antar manusia saat itu adalah satu, ummatan wahidan. Semua sama-sama tercipta atas dasar qudrah dan iradah Allah. Dalam hal ini Allah menurunkan shalat, sebagai tehnik yang diberikan Tuhan agar manusia dapat mentransendensikan peran dirinya menjadi ‘Abdillah.

Sudah diakui secara umum, bahwa shalat adalah salah satu syariat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Di dalamnya terdapat dialog, pujian, salam, salawat dan do’a. Shalat seseorang bisa hampa dan tidak bermakna manakala tidak bisa menemukan dirinya sebagai hamba Allah. Sebaliknya jika di dalam shalat kesadaranya mulai tumbuh bahwa dia adalah seorang hamba Allah, maka dia pun akan menemukan orang lain  sebagai hamba Allah, yang kemudian pada gilirannya kelak antar sesama muslim adalah sama-sama hamba Allah, maka tentu saja berarti mereka adalah satu keluarga atau saudara. Inilah yang dimaksud dengan Ummatan Wahidan dalam Al Qur’an.

b.         Mengubah potensi diri menjadi qudratullah.

Setelah menemukan diri sebagai hamba Allah, seorang manusia akan menyadari wilayah Tuhan yang harus diurus adalah seluas alam semesta, sementara manusia memiliki potensi yang terbatas untuk mengurusi semesta yang sangat luas. Maka untuk mewujudkan kemungkinan-kemungkinan memperoleh energi ekstra dari potensi terbatas yang dimiliki manusia maka tekhniknya adalah melakukan puasa. Puasa menciptakan situasi komunikatif dengan Tuhan, sehingga memungkinkan seseorang diberi limpahan qudrah Nya. Potensi ekstra yang diperoleh ini dinamakan keramatullah ( kemuliaan dari Allah ).

c.         Mengubah Kehendak Diri Menjadi Kehendak Allah.

Setelah dengan puasa menemukan qudrah Allah, selanjutnya seorang manusia harus menggunakan qudrah itu menurut kehendak Allah ( Iradatullah ) maka munajat yang harus sering dilakukan adalah “ Ihdina al shiratha al mustaqiim “ ( Tunjukkanlah kami jalan yang lurus ). Untuk mewujudkan keinginan itu Allah menyampaikan tehnik berupa ibadah haji. Dalam ritual ibadah haji terdapat thawaf dan sa’i, keduannya bermuatan filosofis, yaitu thawaf berputar-putar mengelilingi ka’bah sedangkan sa’i berjalan lurus lalu Allah menyatukan keduannya pada satu titik yaitu wukuf di ‘arofah. Seorang manusia tidak akan menemukan satu pun dengan berputar-putar atau berjalan lurus, semua harus berhenti disatu titik untuk melakukan wukuf, titik itu adalah ‘arafah, dimana semua manusia harus berada pada situasi ma’rifah. Ketika itu, yang harus dilakukan oleh manusia adalah hanya sekedar kewajibannya, setelah itu diam. Memberikan kesempatan Tuhan untuk berbicara, lalu mendengarkan jawaban Tuhan atas segala permintaan. Dengan demikian setiap hamba Allah yang mabrur akan mendapatkan titah Tuhan itu di dalam hatinya melewati ilham Nya, inilah yang kemudian disebut hidayah. Hanya dengan menemukan hidayah Nya, kehendak seseorang akan senantiasa searah dengan kehendak Tuhan                      ( iradatullah ). ( 2007 : 26 ).

Seperti juga yang telah difirmankan oleh Allah Swt dalam surat 39 : 17-18 ;

tûïÏ%©!$#ur (#qç7t^tGô_$# |Nqäó»©Ü9$# br& $ydr߉ç7÷ètƒ (#þqç/$tRr&ur ’n<Î) «!$# ãNßgs9 3“uŽô³ç6ø9$# 4 ÷ŽÅe³t6sù ϊ$t7Ïã ÇÊÐÈ t

ûïÏ%©!$# tbqãèÏJtFó¡o„ tAöqs)ø9$# tbqãèÎ6­Fu‹sù ÿ¼çmuZ|¡ômr& 4 y7Í´¯»s9’ré& tûïÏ%©!$# ãNßg1y‰yd ª!$# ( y7Í´¯»s9’ré&ur öNèd (#qä9’ré& É=»t7ø9F{$# ÇÊÑÈ

  1. ( Depag, 1997 : 367 ).

Demikianlah Muhammad Zuhri menggambarkan tentang proses manusia mendekati dan memahami semua mekanisme alam semesta yang seyogyanya berjalan secara baik menuju ridho Allah. Sholat, puasa dan haji adalah tehnik menempuh waktu perjalanan spiritual seseorang menuju ke yang awal. Bahwa sesungguhnya pada awalnya manusia berasal dari qudrah dan iradah Allah. Inilah yang disebut Muhammad Zuhri dengan istilah tawakkal, yaitu mengetahui asal usul kejadiannya, sehingga tumbuh kesadaran bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa qudrah dan iradah Allah.

Shalat, puasa dan ibadah haji menurut Muhammad Zuhri adalah merupakan tehnis ibadah vertikal atau safari internal, agar manusia sanggup menggapai Al Awwalnya, akan tetapi seorang manusia juga memiliki kewajiban untuk menggapai Al Akhir melalui ibadah yang berorientasi horizontal atau safari eksternal. Jalan yang harus ditempuh adalah melakukan transformasi sosial, yaitu mengubah yang buruk menjadi baik, yang bodoh menjadi pintar, yang lapar menjadi kenyang, yang salah menjadi benar, yang sakit menjadi sembuh, yang tersesat menjadi terarah, yang teraniaya menjadi merdeka.

Secara umum sholat, puasa, haji, zakat adalah termasuk ibadah ritual yang merupakan esensi dari sebuah ajaran agama, akan tetapi ritual dalam Islam yang memiliki makna ” ibadah ” yang berarti menyembah atau mengabdi kepada Allah swt, ternyata tidak hanya sebatas ibadah ritual semata, tetapi juga menyangkut semua hal dan pekerjaan yang di ridhoi Allah, baik berupa perkataan atau perbuatan. Ibadah dalam Islam merupakan satu aktivitas yang komprehensip, mencakup seluruh kegiatan manusia termasuk kegiatan yang bersifat duniawi akan bernilai ibadah jika dilakukan dengan sikap batin dan niat penghambaan kepada Allah. Inilah yang disinyalir Al Qur’an dalam surat Az Zariyat ayat 56 :

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Artinya : ”  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ( QS.51 : 56 ). ( Depag, 1997 : 275 ).

Tugas pengabdian kepada Allah, sejatinya tidak lepas dalam kerangka keberlangsungan hidup baik sebagai makhluk pribadi atau makhluk sosial. Untuk beribadah kepada Allah harus dibarengi dengan human relation ( Interaksi sosial ) dan sebaliknya dalam berinteraksi sosial dengan sesama manusia harus tetap berada dalam kerangka ibadah. Untuk itu, orientasi hidup akherat dan pola interaksi sosial harus berada dalam kerangka spiritual, dengan demikian keseimbangan antara spiritual dan aplikasi sosial menjadi satu keharusan.

Diakui atau tidak, realitas sosial sekarang nampak terlihat secara jelas fenomena yang muncul dimana terjadi ketidak seimbangan antara ibadah ritual manusia dengan fungsi sosialnya. Tidak sedikit ditemukan seorang yang sangat rajin dan taat beribadah tetapi aplikasi sosialnya nihil. Saat dia bergelimang harta, tetapi tetangga sebelahnya menjerit kelaparan, saat dikaruniai Allah dengan ilmu pengetahuan dia tak pedulli dengan sesamanya yang bodoh. Begitu juga ketika orang berduyun-duyun ibadah ke masjid atau melaksanakan ibadah haji, tetapi disisi lain terjadi dekadensi moral yang memprihatinkan. Seperti seringnya juga dilakukan korupsi, kolusi, sogok, saling fitnah, saling menjatuhkan dan lain sebagainya. Ini adalah fenomena saat ibadah ritual sering juga dilakukan.

Ketika para saintis dan ilmuwan-ilmuwan barat yang nota bene non muslim, sibuk dilaboratorium mereka untuk membuat ekperimen-eksperimen baru, lalu beberapa bulan kemudian mereka keluar dengan penemuan-penemuan dan teori-teori baru yang sangat ditunggu oleh ummat manusia. Di bengkel-bengkel elektronik mereka menghasilkan mesin-mesin baru. Akan tetapi ummat Islam yang terus menerus melakukan ibadah ritual, seperti puasa, sholat, zakat bahkan haji, ternyata tidak ada hal dan sesuatu yang baru. Tidak ada satupun produk baru yang mengisyaratkan lahirnya sebuah perubahan, baik lahir maupun bathin. Dari sisi lahir, ritual itu tidak membuat sosial ekonomi dan intelektual umat Islam menjadi meningkat. Dari sisi batin, ritual-ritual itupun tidak membuatnya lebih ikhlas – yang pendendam tetap pendendam, yang pemarah tetap pemarah, korupsi, menipu, cinta dunia yang berlebihan – Lalu nampak sepintas, ibadah ritual yang dilakukan ummat Islam seolah tidak membuat perubahan yang signifikan, lantas untuk apa ibadah ritual selalu dilakukan jika tidak membawa pada perubahan dan perkembangan kearah yang lebih baik.

Harus diakui, bahwa realitas sosial saat ini adalah realitas yang akurat cara berpikirnya. Ummat manusia semakin tau untuk apa dia berpikir, bekerja, melangkah, memilih dan memutuskan. Sehingga jika saja seseorang yang mengerjakan sesuatu tetapi tidak tahu apa arti dan manfaat bagi dirinya. Memutuskan sesuatu, tetapi tidak tahu untuk apa keputusannya, memilih sesuatu akan tetapi tidak tahu untuk apa memilihnya, maka orang yang demikian disebut oleh Muhammad Zuhri sebagai ” hidupnya sama dengan kematiannya ” . Akalnya tidak didayagunakan dan potensi terbesar yang diberikan Tuhan tidak memberikan manfaat sedikitpun baginya.

Berkenaan dengan hal ini, Zohar dan Ian Marshall sebagai salah satu tokoh yang sempat mempopulerkan konsep kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan ketiga yang dimiliki manusia dan ultimate intelegence, ( 2000 : 3-4 ) beliau mengatakan yang dimaksudkan dengan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang dengannya kita bisa mengarahkan dan memecahkan persoalan-persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan dengannya kita menempatkan perilaku hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan lebih kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Dengan memahami perkembangan kemampuan manusia pada bagian ini, maka secara umum akan dapat difahami tentang tujuan dan prinsip spiritualitas yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri, bahwa manusia yang memiliki nilai, fungsi dan peran dalam kehidupannya yang lebih luas, serta menjamah medan oprasi Allah yang telah diamanatkan kepada manusia. Maka setiap desah nafas dan langkah hidupnya akan memiliki makna bagi semesta. Selanjutnya Johar pun ikut menjelaskan bahwa Kehidupan spiritual  seseorang hendaknya meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna. (Abdul Mujib, 2002 : 325).

Dari fenomena-fenomena yang tergambar diatas, maka menurut hemat penulis sangat dibutuhkan sebuah rumusan-rumusan baru yang dapat menyeimbangkan  kehidupan ritual manusia dengan etika sosial. Hal ini akan menjadi begitu sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya pendistorsian agama itu sendiri, berkembangnya kesolehan formalistik, terjadinya dekadensi moral serta anomali nilai. Dengan demikian spiritual harus dimaknai secara ulang agar teraplikasi secara kaffah dalam realitas sosial. Makna spiritualitas Islam itu coba di kembangkan oleh Muhammad Zuhri dalam sebuah konsep yang sebenarnya telah diketahui dan difahami oleh ummat Islam itu sendiri. Konsep itu sendiri telah tersusun rapi dan sistematis dalam doktrin Islam. Sistematika konsep spiritualitas Islam tersebut  ada dalam Rukun Islam, sebuah sistematika doktrin islam yang telah tersusun secara rapih dan sistematis, keberadaannya mencakup secara keseluruhan ritual dalam Islam sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan.

3.1.      Spiritualitas Islam Pada Nama Allah Yang ke Seratus

Berkenaan dengan tulisan berikut, Muhammad Zuhri menjelaskan, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama ( Asmaul Husna ) yang keberadaannya menyatu dalam kehidupan manusia dan semesta, Asmaul Husna merupakan sifat-sifat menejerial Tuhan dalam mengelola, mencipta, memelihara dan mengembangkan alam semesta. Nama-nama itu telah ditawarkan kepada setiap individu, sebab individu itu dalam kondisi tertentu akan berkepentingan terhadap kebutuhan tertentu pula. Misalnya, jika seseorang dalam kondisi miskin atau kekurangan rezki, maka dia sangat berkepentingan dengan nama Tuhan al-Razzaq ( Maha Pemberi Rezeki ). Seseorang yang merasa dalam kehidupannya diperlakukan tidak adil maka dia berkepentingan dengan sifat Allah al ’Adl ( Yang Maha Adil ). Seorang yang miskin maka dia berkepentingan dengan sifat Allah Ya ghaniyyu atau Ya Mughni ( Yang Maha Kaya ). Orang yang lemah maka dia sangat berkepentingan dengan sifat Allah  Ya Qowiyyu (Yang Maha Perkasa).

Nama-nama Allah yang merupakan sifat menejerialnya di alam semesta tersebut adalah merupakan aset berharga yang tak ternilai bagi setiap muslim dalam berkomunikasi dengan Tuhannya, mengadu dan melimpahkan segala persoalan yang kompleks. Disamping itu Asma alHusna juga harus dijadikan sebagai acuan untuk menggarap diri sehingga sifat-sifat Allah itu tertanam dan dimiliki oleh setiap mukmin untuk bisa ikut mengelola dan memelihara alam semesta dan segala isinya.

Tuhan, yang merupakan orientasi utama dalam spiritualitas Islam adalah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diketahui dan difahami esensinya oleh setiap mukmin dalam meretas perjalanan spiritualnya, dalam hal ini Muhammad Zuhri menganggap sifat Tuhan dengan sembilan puluh sembilan namanya itu adalah belum selesai ( unfinished, nyaris selesai ), ada satu nama lagi yang masih dirahasiakan Allah untuk diketahui manusia secara langsung, jika nama itu sudah ditemukan maka sempurnalah nama Allah dengan genap menjadi seratus. Jika Asma al husna langsung diperkenalkan oleh Allah untuk diketahui dan difahami oleh manusia melalui firman-firman dan ayat-ayat Nya, tapi nama Allah yang keseratus tidak diperkenalkan melainkan menjadi tugas penting bagi manusia untuk menemukannya sendiri.

  1. Dalam salah satu bukunya Muhammad Zuhri menjelaskan, ” Bila di dalam mencari nama Allah yang keseratus itu seseorang bersikap seperti mencari informasi keilmuan maka akan dapat dipastikan seseorang itu akan gagal memperolehnya. Nama Allah yang keseratus tidak akan dapat ditemui melalui referansi kitab-kitab sebab dia tidak bersifat informatif. Karena sebenarnya nama Allah yang keseratus itu bukanlah sebuah obyek yang ada diluar diri manusia, melainkan subyek pencari itu sendiri yaitu manusia sang makhluk mulia  ”.            ( Muhammad Zuhri, 2007 : 27 ).

Dalam perjalanan spiritual seseorang dalam menaiki tangga-tangga menuju Allah Zat Maha Tunggal, dengan kesempurnaan nama Nya, maka harus menggunakan potensi sembilan puluh sembilan nama Allah itu untuk menemukan nama Allah yang keseratus melalui pengabdian sepanjang masa dan sepanjang hidup. Jika ditemukan maka itulah yang menurut beliau mata tasbih yang terlepas dari untaianya. Itulah Ism al ’Azm atau nama Tuhan yang keseratus, yang jika saja Allah dipanggil dengan nama tersebut maka akan terkabullah segala hajat.      ( 2007 : 20 ).

Apakah yang dimaksud dengan Ism al ’azm atau nama Allah yang keseratus, awalnya penulis sempat dibuat bimbang dan bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lain selain yang diajarkan Nabi Muhammad Saw, akan tetapi kemudian, merenungi pemikiran Muhammad Zuhri dalam bukunya mencari nama Allah yang keseratus, membuat penulis memahami dan kemudian meyakini betapa sempurnya ajaran Islam dan uniknya pemikiran seorang Muhammad Zuhri, menurut beliau nama Allah yang keseratus adalah lebih bersifat aplikatif dan realistis, bukan informatif dan konsumtif dimana ketika didengar nama-nama itu, reaksi yang muncul hanyalah manggut-manggut dan dan berdecak kagum. Akan tetapi lebih dari itu kesempurnaan nama Allah  ( Ism al Azm ) ada dalam diri setiap manusia berupa potensi yang berangkat dari Asma al Husna, berupa sifat-sifat Allah yang sudah tertanam dalam diri manusia sejak Allah meniupkan Ruh Nya kedalam bayi dirahim ibu. Aktualisasi dan optimalisasi potensi itulah seyogyanya yang akan menghantarkan manusia kepada penemuannya terhadap Ism al Azm ( nama Allah yang keseratus ).

Seperti yang sudah sempat dijelaskan diatas bahwa manusia memiliki kewajiban untuk menemukan nama Allah yang keseratus, karena keberadaannya masih sangat dirahasiakan oleh Allah untuk diperkenalkan langsung kepada manusia. Manusia juga sebenarnya dalam hidup dan kehidupannya dimuka bumi selalu berada pada situasi yang nyaris selesai ( Unfinished ) karena setiap individu berkewajiban untuk menyambungkan estafeta kehidupan sebelumnya, baik itu nilai-nilai, kebenaran-kebenaran atau kemuliaan yang telah diraih oleh ummat sebelumnya. Saat sekarang manusia tidak berada pada posisi menerima begitu saja apa yang sudah dihasilkan ummat sebelumnya, melainkan menemukan peran baru untuk sempurnanya penemuan yang lalu. Maka seseorang harus menemukan peran dirinya untuk menyempurnakan atau menggenapi estafeta kehidupan itu dengan berkarya dibidang yang dikuasai. Singkatnya selesaikan karya mereka dengan karya nyata saat ini oleh subyek itu sendiri.

Pandangan Muhammad Zuhri tentang keharusan manusia untuk menemukan nama Allah yang keseratus seolah menjadi icon yang sangat menarik, Rasululllah sendiri telah menemukan peran dirinya sebagai penggenap 99 nama Allah dengan berperan sebagai Al Amin. Begitu pula keempat sahabat beliau telah berhasil menemukan peran diri mereka dalam mengatur alam semesta ini, sehingga mereka layak menyandang gelar yang senantiasa melekat erat dalam kehidupan pribadi mereka. Yaitu Abu Bakar dengan gelarnya As Siddiq, Umar bin Khattab dengan Al Faruq, Ustman bin Affan dengan gelarnya Dzu al Nurayn, dan Ali bin Abi Thalib dengan Al Murtadho. ( 2007 : 30 )

Dalam perspektif Muhammad Zuhri, keempat Sahabat Rasulullah saw diatas, adalah bukti dan saksi atas peran mereka dalam mengatur alam semesta dan memerankan menejerial Tuhan di muka  bumi. Dengan demikian mereka telah menemukan nama Allah yang keseratus, karena mereka telah memainkan peran Allah di semesta yang seharusnya itu semua diperankan Allah.

  1. Pada satu kesempatan halaqah, keluarga budaya Barzah di Bandung, Muhammad Zuhri menjelaskan tentang sebuah cerita seorang sufi yang sempat protes kepada Allah, hal ini berawal ketika seorang sufi melewati tepi sebuah hutan. Dia terkejut ketika di tepi hutan itu ia melihat seorang kakek yang buta di tuntun oleh seorang anak kecil. Kakek yang tua buta itu duduk disebuah pohon  sambil menadahkan tangan sebagai tanda dia minta dikasihi. Dia buta tentu tidak tahu bahwa didepannya tidak ada orang yang lewat, sedangkan penuntunnya yang masih kecil itu tidak tahu pekerjaan kakeknya adalah meminta-minta. Maka sang sufi protes kepada Allah ”Ya Allah, mengapa masih ada hamba Mu yang seperti ini, tidak Kau beri dia petunjuk ? Lalu Tuhan menjawabnya dengan mengatakan, ” Aku sudah menciptakan engkau, maka engkaulah yang memberikan petunjuk ”.     ( Bandung, 18 Juli 2006 ).

Cerita diatas menurut hemat penulis, merupakan gambaran tentang sikap hidup manusia yang seharusnnya memainkan peran Tuhan di alam semesta, sebagai wujud pengabdian seorang hamba atas setiap perintah Tuhannya. Karena jika situasi diatas belum tertuntaskan dengan sifat dan menejerial Tuhan dalam mengatur dan memelihara alam beserta isinya, maka manusialah yang berkewajiban menyempurnakanya dengan segala potensi dan kreatifitas yang dimilikinya, sehingga tidak ada orang yang tersesat disebabkan oleh ketidaktahuannya, karena Tuhan telah menciptakan orang yang tahu untuk memberikan ilmunya itu kepada orang yang tersesat.

Secara sederhana menurut Muhammad Zuhri, Allah telah menciptakan makhluknya yang melek untuk yang buta. Allah telah menciptakan makhluknya yang pintar untuk yang bodoh. Demikian pula Allah telah menciptakan orang kaya tentu untuk yang miskin. Dan juga Allah telah menciptakan orang yang perkasa untuk orang yang lemah. ( Muhammad Zuhri, 2007 : 32 ).

Jadi sebenarnya menurut hemat penulis, Allah sejatinya menolong manusia dan hamba-hambanya yang lain bukan dengan diri Nya sendiri datang untuk menanganinya secara langsung, melainkan melewati hamba-hamba Nya lagi yang telah dibekali Nya beberapa kelebihan, inilah yang kemudian disebut Muhammad Zuhri sebagai menejerial Tuhan. Hamba Tuhan yang dipakai dalam menangani menejerial Tuhan itulah hamba yang syahid, dia telah bersaksi bahwa Tuhan itu ada, karena dia telah mengabulkan permohonan orang yang sedang lapar, sakit, dahaga atau teraniaya. Walaupun semua yang dilakukannya atas dasar kemauan dan kehendak Tuhan, berarti dia telah memanifestasikan kehendak Tuhan secara nyata. Dia telah merealisasikan kehendak Tuhan di muka bumi. Dia adalah utusan Tuhan, dia ahlullah ( keluarga Allah ), maka sebenarnya dia telah menemukan nama Allah yang ke seratus.

Seseorang yang telah berhasil menemukan nama Allah yang keseratus, dengan menggunakan aset asma al husna dalam dirinya, lalu diaktualisasikan dalam keseharianya dengan melibatkan diri secara langsung mengurusi alam semesta beserta seluruh isinya,  maka sempurnalah struktur ciptaan Allah terhadap semesta dengan peran seorang hamba Allah. Maka Allah akan meletakkan perlindungan diatas kepalanya. Walau halilintar meletus 999 kali diatas atap rumahnya, bagi seorang hamba yang telah melibatkan diri dalam menejerial Tuhan tidak akan pernah merasa cemas, khawatir, atau takut karena bathinya telah tenang, hakekatnya dia telah memperoleh surga sebelum masa memasukinya. Hal inipun dipertegas oleh Allah dalam salah satu firman Nya. Surat Al Ahqaf ayat 13 :

¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qä9$s% $oYš/z’ ª!$# §NèO (#qßJ»s)tFó™$# Ÿxsù ì$öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† ÇÊÌÈ

Artinya : ”   Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita ”. ( Depag RI, 2003 : 123 )

Untuk melengkapi pembahasan ini ada baiknya penulis pun mengungkapkan sebuah firman Allah Swt yang mengibaratkan tentang peran manusia ketika melibatkan dirinya dalam menejerial Allah, adalah sesuatu yang berada dibawah kemampuanya secara pribadi, dalam surat Hud ayat 7 :

uqèdur “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& šc%Ÿ2ur ¼çmä©öt㠒n?tã Ïä!$yJø9$# öNà2uqè=ö7uŠÏ9 öNä3•ƒr& ß`|¡ômr& WxyJtã 3 úÈõs9ur |Mù=è% Nä3¯RÎ) šcqèOqãèö6¨B .`ÏB ω÷èt/ ÏNöqyJø9$# £`s9qà)u‹s9 tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿŸ2 ÷bÎ) !#x‹»yd žwÎ) ֍ósř ×ûüÎ7•B ÇÐÈ

Artinya : ”  Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu Berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. ( Depag RI, 2004 : 237 ).

Sifat air yang diungkap ayat diatas, seperti juga yang dijelaskan dalam tafsir Ibn Katsir, bahwa ketika itu yang ada hanya air dan air menjadi simbol kenikmatan surga, disamping itu sifat air yang selalu turun kebawah mencari tempat yang lebih rendah. ( Muhamad Nasib Ar Rifa’i, 1999 : 769 )  dan sifat ini ada dalam diri seorang mukmin yaitu turun kebawah, menghidupi orang-orang yang berada dibawah garis kehidupan yang dimilikinya. Ini merupakan peran Allah, tidak akan ada yang sanggup memerankanya jika dia belum menemukan esensi nama Allah yang keseratus.

Hal ini dalam pandangan Muhammad Zuhri adalah merupakan tangga-tangga spiritual seorang muslim dalam menggapai ridho dan ma’rifatullah, dimana keberadaannya menjadi  sangat di tunggu oleh seluruh penghuni semesta, kehadirannya adalah kemanfaatan buat semua. Dia telah menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk pengabdian sepanjang masa tanpa jeda kepada Allah dengan menolong dan memfasilitasi sesamanya dengan ikhlas hanya mengharapkan ridho dan perkenan Nya.

3.2.      Spiritualitas Islam Membentuk Pribadi yang Mulia.

Beberapa persoalan yang menyangkut sinergisitas antara ibadah ritual dengan realitas sosial menjadi tema penting spiritualitas Islam yang selama ini dikembangkan oleh Muhammad Zuhri, dalam hemat penulis juga mestinya menjadi tema penting bagi seluruh ummat manusia, terutama ummat Islam.

Hal lain juga yang sempat mendapat perhatian Muhammad Zuhri dalam membela dan mengedepankan konsep spiritualitas Islam adalah ketika semua doktrin agama dan teologi terutama Islam dipertanyakan bahkan dijungkirbalikkan oleh para filosof dan saintis murni. Semua pertanyaan tentang Tuhan, realitas sosial dan kehidupan setelah mati adalah beberapa hal yang tak bisa dibuktikan secara argumentatif dan realistis oleh ummat beragama termasuk para ulama. Pertanyaan tentang apakah Tuhan itu ada lalu apa buktinya ? mengapa prilaku ummat beragama tidak sesuai dengan ajaran agamanya ? serta apa bukti adanya surga dan neraka sebagai balasan dari perbuatan umat beragama ? Beberapa contoh persoalan diatas menjadi sangat sulit untuk di jawab dengan argumentasi atau eksperimentasi.

Ummat Islam tidak bisa menjawab persoalan diatas dengan mengatakan ” nanti di akherat ” karena para filosof dan saintis memiliki jawaban dari setiap teori mereka secara spontan di laboratorium penelitian mereka, tanpa harus menunggu di akherat. Pertannyaannya kapan ummat Islam mendapatkan kebenaran jika untuk mendapatkannya harus menunggu nanti di akherat. Hal ini merupakan beban kaum ulama, pada saat diyakini bahwa Allah dengan wahyu Nya merupakan sumber informasi yang mengandung nilai-nilai kebenaran. Setiap ummat Islam berkewajiban untuk membela agamanya dan mengedepankan kebenaran secara realistis dan argumentatif.

Untuk memecahkan beberapa persoalan yang cukup pelik diatas, Muhammad Zuhri mencoba mengedepankan konsep dan pemikirannya tentang spiritualitas Islam yang diharapkan mampu memberikan hawa segar dari kebuntuan solusi persoalan ummat Islam dewasa ini. Karena dalam pandangan beliau, manusia sebagai hamba Allah apa pun idiologinya, bahasa, agama dan rasnya, dari seorang hamba yang baik itulah kemudian Allah menjadikannya khalifah di muka bumi. Oleh karena itu yang harus menjadi cita-cita sosial manusia sebagai seorang hamba adalah menyatukan seluruh ummat manusia, menganggap manusia itu utuh, sependeritaan dan senasib. Menurut beliau, ini adalah sebuah penemuan identitas yang paling benar dari seorang manusia, sebab hanya dengan demikian dunia ini bisa sejahtera, bisa saling memikul beban, mengerem adanya perpecahan dan permusuhan. ( 2007 : 41 ).

Keinginan dan cita-cita ummat Islam yang mulia, untuk menyatukan ummat manusia secara utuh, akan sangat sulit terrealisaskan jika seseorang itu sendiri tidak dalam keadaan utuh, bagaimana bisa menyatukan ummat manusia secara utuh jika didalam diri manusia itu sendiri masih terpecah belah.  Idealnya ketika melihat kesalahan orang lain justru merupakan lahan untuk membenahi kesalahannya, karena adanya perbuatan salah menjadikan kebenaran memiliki makna. Jika saja didunia ini tidak ada orang kafir maka seorang mukmin tidak akan ada manfaatnya. Untuk bisa demikian jawabannya sederhana tidak mensyarikatkan Tuhan.  Konsep penyatuan tersebut tertuang secara gamblang dalam pemahamanya terhadap Rukun Islam yang memiliki nilai spiritualitas sangat tinggi dalam Islam. Rukun-rukun itu sudah tersusun secara rapi berdasarkan urutannya yang ideal, Muhammad Zuhri menyebutnya sebagai ” Metodologi Proses ”. Yaitu sebuah perjalanan spiritual seorang manusia menuju ridho Allah, dan kemudian akan menemukan dirinya sebagai hamba Allah, ketika dia melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Dalam penemuan dirinya sebagai seorang hamba itulah, maka diharapkan dia juga akan menemukan orang lain sebagai hamba Allah. Maka dengan demikian akan terwujudlah ” Ummatan wahidah ”, yaitu ummat yang satu sebagaimana citi-cita mulia Islam. Metodologi proses tersebut adalah sebagai berikut :

1.         Dua Kalimat syahadat ; Sebagai Kesadaran Makhluk Ruhani.

Dua kalimat syahadat merupakan sebuah kalimat persaksian yang telah difahami secara umum oleh ummat islam, sebagai perwujudan ke Islaman atau pintu gerbang memasuki syare’at Islam. Muhammad Qutub menyebut dua kalimat syahadat sebagai pembatas antara daerah kekufuran dan keimanan. Kalimat itu pulalah yang menjadi pintu gerbang masuknya seseorang dari daerah kafir ke daerah iman. Dua pintu pembatas antara kafir dan mukmin. ( Muhammad Qutub, 1994 : 13 ).

Syahadatain dalam tradisi ilmu-ilmu keislaman adalah nilai utama dalam doktrin Islam yang memiliki makna sangat luas. Bukan saja memiliki makna hubungan manusia dengan Allah ( Hablum Minallah ) tetapi juga memiliki penguatan terhadap relasi sosial dalam berinteraksi ( Hablum Minannas ). Diawali dengan kalimat La Ilaa haillallah berisi penegasan terhadap segala bentuk penuhanan yang ada didunia. Dengan demikian manusia terbebas dari sebagala bentuk penuhanan yang ada di dunia, kemudian dilanjutkan dengan illa Allah, sebagai bentuk pernyataan dengan memberikan pengecualian, yaitu setelah pembebasan manusia dari berbagai bentuk belenggu Tuhan, maka hanya ada satu yang mempresentasikan nilai kebenaran itu ialah Allah Swt. ( Tesis Sumadi, 2003 : 25 ).

Nampaknya syahadatain yang telah diajarkan Tuhan kepada manusia sebagai bentuk antisipasi atas realitas manusia dan semesta dimuka bumi. Dimana manusia bisa saja menuhankan segala sesuatu yang ada di dunia selain Allah. Manusia bisa saja menuhankan harta, tahta, wanita atau apa saja yang menurutnya adalah segala-galanya. Syahadatain telah menekankan manusia untuk menolak dan meniadakan segala bentuk Tuhan-tuhan itu kecuali pengakuan dan penegasan terhadap keberadaan Allah Swt sebagai Satu-Satunya Tuhan yang kepadanya semua makhluk mengabdi. ( Al Ikhlash ayat 1 – 4 ).   Setelah penerimaan dan penegasan manusia kepada Allah, maka kalimat yang kedua manusiapun mengakui tentang tuntunan Tuhan yang diturunkan melewati Rasul Nya yaitu Muhammad Saw. Pengakuan terhadap Muhammad Saw merupakan bentuk komitmen terhadap semua ajaran dan sunnahnya.

Dalam perspektif Muhamad Zuhri tentang dua kalimat syahadah nampaknya tidaklah sama persis dengan beberapa pengertian dan pemahaman tentang syahadatain tersebut diatas, menurut beliau syahadatain adalah dua kalimat yang mampu menyatukan manusia sebagai makhluk yang terbatas kepada sesuatu yang tak terbatas, menyatukan manusia sebagai makhluk jasmani dan makhluk ruhani, menurut beliau kedua dimensi kemanusiaan itu merupakan sesuatu yang selama ini memisahkan dan mendikotomikan eksistensi manusia yang esensinya adalah satu, namun kemudian syahadatain menyatukannya.

Secara umum diakui oleh komunitas ummat manusia baik dia sebagai seorang muslim, musyrik ataupun kafir, bahwa manusia dengan segala potensi yang ada dalam dirinya, merupakan makhluk yang sangat terbatas. Keterbatasan itu ada pada potensi, kekuatan fisik, umur, ilmu dan sebagainya. Manusia sendiripun sangat menyadari akan adanya keterbatasan itu, namun itu bukan berarti manusia tidak bisa menembus sesuatu Yang Tak Terbatas, karena manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang memiliki keterbukaan dan kemungkinan kepada sesuatu Yang Tak Terbatas, yaitu Allah Rabbul ’Alamiin.

Dengan demikian menurut Muhammad Zuhri, manusia dihadapkan pada situasi yang sangat bertentangan, disatu sisi dia sebagai makhluk yang terbatas akan tetapi disisi lain dia lah satu-satunya makhluk yang memiliki kesempatan dan keterbukaan pada sesuatu Yang Tak Terbatas. Kemudian dua hal yang bertentangan itu disatukan Tuhan dengan Syahadatain ( dua kalimat syahadat ) sebagai bentuk pernyataan sikap tegas seorang muslim untuk menyatukan dirinya dalam esensi kemanusiaan kemudian mengemban misi menyatukan ummat manusia.

Dua kalimat syahadat yang berbunyi :

أُشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله

” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah ”.

Kalimat syahadah yang pertama adalah bentuk kesaksian seorang hamba tentang adanya sesuatu Yang Tak Terbatas, dan itu adalah sebuah kebenaran Mutlak tiada tanding Allah Rabbul ’Alamiin, sedangkan syahadah yang kedua adalah bentuk persaksian dan pengakuan seorang manusia kepada sesuatu yang sangat terbatas yaitu Muhammad Saw ( simbol makhluk yang terbatas ) yang keberadaanya menegaskan tentang kinerja Tuhan menurunkan Muhammad Saw untuk menyampaikan pesan-pesan Allah dari langit, jadi Muhammad adalah Wakil atau utusan dari sesuatu Yang Tak Ter batas yaitu Allah Swt.

Ketika manusia mengucapkan dua kalimat syahadat, maka pada saat itu pula manusia akan menemukan dirinya sebagai makhluk ruhani. Karena pengakuan manusia kepada sesuatu Yang Tak Terbatas adalah bentuk Ruhani yang keberadaannya membutuhkan sebuah tingkat keyakikan yang tinggi dikarenakan sifatnya yang halus dan tak bisa dibuktikan secara material.  Dengan demikian maka manusia akan mengakui dan menemukan bahwa dirinya bukan lagi sebagai makhluk jasmani sebagaimana makhluk Allah lainnya seperti, hewan, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan dan lain-lain yang tentu saja tidak menyadari akan adanya Tuhan. Maka didalam diri manusia ada sebuah pengakuan bahwa didalam dirinya sendiri ada dua kesadaran makhluk, yaitu sebagai makhluk ruhani dan makhluk jasmani. Syahadatain merupakan kalimat yang menyadarkan manusia sebagai makhluk ruhani.

2.         Sholat ; Sebagai Kesadaran Makhluk Pribadi

Ketika dalam syahadah seorang manusia telah berhasil menemukan dirinya sebagai makhluk ruhani, yaitu seorang makhluk Tuhan yang mampu membuat kemungkinan untuk bersatu kepada sesuatu Yang Tak Terbatas. Maka selanjutnya manusia dihadapkan pada satu kenyataan bahwa manusia memiliki dan bahkan terperangkap oleh jasadnya. Manusia dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat dilematis manakah yang memiliki nilai-nilai kebenaran yang harus diikuti antara dua identitas manusia itu, makhluk jasmani atau makhluk ruhani. Realitas dua hal yang bertentangan itu, kemudian Allah menurunkan konsep sholat, lalu memerintahkan manusia untuk melakukannya. Perintah shalat datang untuk menggabungkan kedua realitas manusia yang berbeda itu.aktivitas zhahir dan bathin ( yaitu aktivits jasmani dan  ruhani ). Ketika seseorang sedang melakukan shalat, pikiran dan hatinya bersatu seolah sedang berhadapan dengan Allah Swt. Tangan bergerak, kaki bergerak, badan dan seluruh anggota tubuh bergerak. Dengan demikian dalam shalat itu terdapat dua aktivitas manusia yaitu ruh dan jasadnya. Maka dalam shalat seharusnya manusia akan menemukan dirinya sebagai makhluk pribadi. ( Muhammad Zuhri, 1997 : 44 ).

  1. Kemudian sebagai sosok makhluk pribadi manusia akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dihadapan Tuhan. Kemandirian seorang manusia dihadapan Tuhan dibuktikan dan diakui dengan shalat, seorang  manusia akan menemukan dirinya sendiri sebagai Makhluk Pribadi.

Shalat merupakan salah satu syareat Islam yang wajib dilakukan oleh setiap muslim, baik dari golongan wanita atau laki-laki, dari bangsa atau suku manapun jika dia seorang muslim yang sudah dewasa atau berakal maka memiliki kewajiban untuk melakukannya. Shalat memiliki makna dalam bahasa Arab yaitu do’a, yaitu suatu pekerjaan yang tersusun rapih, diawali oleh takbiratul ihram dan kemudian ditutup dengan salam. ( Sulaeman Rasyid, 1976 : 64 ).

Salah satu perintah Allah dalam Al Qur’an mengenai shalat dapat di lihat dalam salah satu firman Nya surat Al Ankabut ayat 45 :

ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7ø‹s9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

Artinya : ”  Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Depag, 1997 : 255 ).

Di dalam shalat ada dialog, pujian, salam, salawat kepada Nabi serta do’a. Dengan sholat, manusia tidak hanya menemukan eksistensi dirinya sebagai makhluk pribadi, tapi juga harus mampu menemukan dirinya sebagai hamba Allah. Jika sholat tidak mampu membawanya pada satu kesadaran sebagai hamba Allah maka akan hampa dan tidak bermakna. Sebaliknya jika dalam shalat kesadarannya mulai tumbuh bahwa dia sebenarnya adalah hamba Allah, maka dia pun akan menemukan orang lain sebagai hamba Allah yang sama, saudara dan satu nasab. ( 1997 : 53 ).

Dalam shalat manusia telah menyerahkan dirinya secara total kepada Allah dengan melamar sebagai hamba Nya atau abdi Nya. Setelah menjadi seorang hamba Allah, maka manusia dihadapkan pada satu pekerjaan di semesta yang menjadi wilayah menejerial Allah yang sangat luas. Maka manusia memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan dan tenaga ekstra dalam menjalankan amanah Allah. Setelah itu dimulailah pengabdian manusia pada Tuhan yang sesungguhnya, yaitu menjamah lingkungan melakukan transformasi sosial. Yaitu dengan melakukan amal sholeh mengabdi pada sasama yang membutuhkan pertolongan dan peran dirinya sebagai wakil Allah di Muka bumi.

Shalat menurut Muhammad Zuhri, merupakan moment penting bagi manusia untuk melakukan transendensi spiritual, sama dengan mi’rajnya kaum muslimin. Didalamnya berlangsung tiga macam transendensi yang akan sanggup menghantarkan esensi manusia kepada puncak kesempurnaanya secara individual, diantaranya adalah :

  1. Ttransendensi peran jiwa ( nafsu ) yang menjangkau peran Allah dengan pernyataan dalam sholat yaitu ” Iyyakana’ budu ” ( Hanya kepada Mu kami mengabdi ).
  2. Transendensi kemampuan insani manjangkau qudratullah ( kuasa Allah ) dengan pernyataan dalam sholatnya yaitu ” Iyya kanas ta’iin ” (  Kepada Mu kami mohon pertolongan ).
  3. Transendensi keinginan insani dalam menjangkau iradatullah ( Kehendak Allah ) dengan pernyataan dalam sholat yaitu ” Ihdinash shirotol mustaqiim ” ( Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus ).                               ( www.Pakmuh.com ).
  1. ( www.Pakmuh.com ).

Shalat menurut Muhammad Zuhri, bukanlah mengheningkan cipta atau juga bukanlah semedi. Akan tetapi sholat merupakan kombinasi gerak jasmani dan ruhani. Dimana dalam sholat jasad manusia bergerak secara konstan dan teratur berdasarkan syareat yang telah dicontohkan oleh Nabi, serta ruhaninya pun

bergerak. Maka paduan antara gerakan tersebut dalam shalat akan membawa manusia pada satu penemuan sebagai makhluk pribadi.

Dalam realitasnya, shalat bagi Muhammad Zuhri memiliki tiga kiblat yang manifestasinya mengungkapkan dimensi idiologi dalam Islam, yaitu kiblat vertikal, kiblat horizontal sosial dan kiblat horizontal kultural. (1) Kiblat vertikal, kiblat ini merupakan arah sholat yang di tujukan langsung kepada Allah, Sang Penguasa Mutlak, Sempurna Tak Tergambarkan, dengan hati yang khusuk dan tawadu’. Semua itu dilakukan seolah melihat Nya atau memang sedang dilihat Nya. Saat itulah tumbuh kehidupan baru yang disebut kehidupan spiritual didalam diri manusia. (2) Kiblat Horizontal Sosial, dimana sholat merupakan perbuatan ibadah yang bersifat temporal, yang dibuka dengan takbirotul ihram dan ditutup dengan salam. Maka salamlah yang merupakan kiblat horizontal sosial dari proses temporal tersebut. Dimana bersamaan dengan salam memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri, yang menandakan telah selesainya proses temporal untuk dinyatakan dengan efektifitasnya dalam proses sosial. Salam merupakan     ” Tema Komunikasi ” antar individu-sosial bagi manusia. (3) Kiblat Horizontal kultural, dimana sholat yang wajib menghadap ka’bah, konon merupakan rumah Nabi Adam As, yang kemudian dipugar dan di huni oleh Ibrahim As dan keluarganya. Ka’bah terletak diruangan sujud bernama Masjidil Haram, yang keberadaannya sejak dulu diharamkan untuk membunuh makhluk Tuhan dan semua manusia dari berbagai suku bangsa adalah sama tidak dibeda-bedakan hak dan kewajibannya. Inilah yang disebut dengan kiblat horizontal kultural, dimana ummat Islam sholat dengan menghadap   ka’bah  yang  memiliki  sejarah dan struktut yang kuat.

3. Zakat ; Kesadaran Makhluk Budaya

Setelah dalam sholat, sejatinya manusia manemukan dirinya sebagai makhluk pribadi dengan kepribadian  komprehensip yang nampak dalam setiap prilaku hidup dan kehidupannya dalam bersosialisasi. Maka seorang manusia pun kembali dihadapakan pada situasi yang masih bertentangan yaitu suatu pernyataan umum yang mengatakan manusia adalah makhluk social ( Zoon politicon ). Seyogyanya manusia siapapun dirinya tidak akan sanggup untuk hidup sendiri di semesta ini, karena dia akan pasti membutuhkan orang lain disisinya atau akan selalu bergantung pada orang lain. Apa yang dibutuhkan oleh orang lain dalam hidupnya tentu juga dibutuhkan oleh dirinya sendiri. Kenyataan ini tidak lah bisa disangkal oleh manusia.

Maka dalam pemikiran Muhammad Zuhri, ada dua hal yang masih bertentangan dalam esensi kemanusiaan, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi dan manusia sebagai makhluk social. Kemudian Allah menurunkan konsep yang merupakan solusi dari dua hal yang bertentangan itu dengan doktrin zakat. Zakat merupakan formulasi yang mampu menyatukan kedua realitas yang bertentangan itu. Zakat adalah bentuk partisipasi makhluk pribadi untuk kepentingan social. Zakat telah menggabungkan identitas manusia sebagai makhluk pribadi dan manusia sebagai makhluk social, kamudian hasilnya manusia akan menemukan dirinya sebagai makhluk budaya. ( Muhammad Zuhri, 2007 : 44 ).

Makhluk budaya dalam pandangan Muhammad Zuhri adalah makhluk yang sadar akan peran dirinya dalam menggunakan akal budi dan daya akalnya untuk menolong dirinya sendiri dan menolong orang lain. Dalam berbudaya manusia tentu membutuhkan komunitas yang dapat menyampaikan pesan-pesan social budayanya kepada sesama, manusia juga membutuhkan organisasi yang akan mampu mengkoordinir peran dirinya untuk bisa lebih menglobal, membutuhkan juga menejemen, tata nilai dan juga perangkat-perangkat lainnya. Tujuan dari budaya itu adalah agar tidak ada orang tersesat karena tidak tau jalan, tidak ada orang yang mati karena kelaparan, tidak ada orang yang menderita karena tak terobati, tidak ada orang yang teraniaya dan tak tertolong. Inilah yang beliau sebut dengan peran manusia sebagai makhluk pribadi juga sekaligus sebagai makhluk social.

4. Puasa ; Kesadaran Makhluk Qudrati

Setelah manusia dengan zakat telah memahami dan menemukan bahwa dirinya sebagai makhluk budaya, kemudian manusia dihadapkan kembali pada satu kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki kuasa dan daya upaya kecuali ada fihak lain yang menentukannya, meskipun manusia telah berupaya sekuat tenaga dalam menolong dirinya sendiri atau fihak lain, ternyata ada otoritas yang jauh lebih tinggi dalam menentukan nasib manusia, otoritas itu adalah qudrah dan iradah Allah. Betapun manusia telah berusaha dengan segala potensi yang dimilikinya, tetap masih tergolong sebagai makhluk qudrati yang nasibnya sangat bergantung dan ditentukan oleh Sang Penguasa Tunggal alam semesta Dial ah Yang Maha Kuasa.

Puasa dalam perspektif Muhammad Zuhri adalah formulasi dari Tuhan untuk menyatukan dua identitas manusia tersebut, sebagai makhluk social dan makhluk qudrati. Sebab puasa adalah sebuah metode yang dilakukan manusia untuk menghayati terhadap apa yang dihayati oleh Yang Maha Qudrat.   Yaitu  Tunduk dan patuh terhadap semua kuasa dan kehendak Allah adalah menjadi tujuan utama dalam ritual puasa. Dalam salah satu hadist qudsi Allah berfirman bahwa “ Puasa itu adalah untuk Ku dan Aku langsung yang akan memberikan ganjarannya, orang berpuasa meninggalkan semua keinginan dan kuasanya hanya karena Aku, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yaitu ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya “. ( HR. Bukhari dan Muslim ). Jadi dengan demikian puasa adalah meninggalkan keinginan pribadinya untuk taat dan patuh terhadap semua perintah dan kehendak Allah. Meninggalkan semua kehendak diri dan menjalankan kehendak Ilahi. ( Sukardi, KD, 2001 : 87 ).

Dengan puasa manusia dituntut untuk bisa menghayati keadaan dan keinginan Tuhan, tidak makan tetapi memberi makan, seperti dijelaskan dalam salah satu firman Nya surat Al An’am ayat 14 :

ö@è% uŽöxîr& «!$# ä‹ÏƒªBr& $|‹Ï9ur ̍ÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur uqèdur ãNÏèôÜムŸwur ÞOyèôÜム3 ö@è% þ’ÎoTÎ) ßNóÉDé& ÷br& šcqà2r& tA¨rr& ô`tB zOn=ó™r& ( Ÿwur žúsðqà6s? z`ÏB tûüÏ.Ύô³ßJø9$# ÇÊÍÈ

Artinya :  Katakanlah: “Apakah akan Aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya Aku diperintah supaya Aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik.” ( Depag, 2007 : 127 ).

Dalam pandangan Muhammad Zuhri, puasa merupakan proses deformasi dan kontemplasi, yaitu mendekonstruksi dan menjungkirbalikan semua system yang ada dalam tubuh manusia bahkan system psikologisnya. Yaitu dimana kebiasaan makan tiga kali dirubah menjadi dua kali, saat seseorang harus makan justru dicegah, saat-saat seseorang tidak berselera makan justru diperintah untuk makan ( sahur ). Menahan nafsu, amarah dan prilaku yang bisa merusak puasanya. Disinilah yang beliau maksud dengan deformasi manusia, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, tubuh manusia yang biasa disuplai kalori dari luar tiba-tiba tidak disuplai. Energi keluar terus, tetapi kalori tidak masuk. Sebagai gantinya, sel-sel yang ada dalam daging, sel-sel yang ada dalam tulang bahkan sel-sel yang ada dalam otak terpaksa dibakar untuk menjamin energi selama melakukan aktifitas puasa. Sel-sel dalam tubuh berguguran dimakan sendiri oleh tubuh sehingga badan menjadi kurus. Sel-sel lama yang memiliki rekaman dosa diganti dengan sel-sel baru. Setiap perbuatan manusia direkam oleh sel-sel, sehingga sel-sel itu memiliki tabiat seperti prilaku pemiliknya. Maka jika puasa dilandasi dengan iman dan ihtisab ( kontemplasi dan perenungan ) pada akhir puasa manusia akan menemukan ampunan Tuhan. ( 2007 : 59 ).

Di samping ampunan Tuhan dengan ibadah puasa yang dilakukan, sifat Allah berikutnya yang bisa digapai oleh manusia dengan melakukan puasa adalah sifat Nya yang kekal (baqa’) mereka yang berpuasa akan mendapatkan kehidupan yang terus menerus dan tercatat dalam sejarah kemanusiaan. Hal ini seperti yang pernah terjadi pada kisah Ki Ageng selo dalam sejarah Jawa, seorang bangsawan Jawa yang melakukan puasa selo ( puasa Daud ) dalam seumur hidupnya, maka imbas dari puasanya sebelas dari keturunannya berhasil menjadi raja Mataram. Muhammad Zuhri mengatakan bahwa bangsa yang berpuasa maka sampai akhir kehidupan dunia akan terus bertahan                  ( bersejarah ), sedangkan bangsa yang tidak berpuasa tidak akan mampu bersejarah, mereka akan patah dan terputus ditengah jalan dan hanya akan meninggalkan dongeng.

Berpuasa dalam pandangan Muhammad Zuhri adalah mengabadikan diri. Dengan puasa Allah memberikan solusi atas pertentangan antara eksistensi manusia sebagai makhluk budaya dan makhluk qudrati sehingga akan ditemukan satu eksistensi lain yaitu sebagai makhluk sejarah, yaitu makhluk yang mampu mengarungi waktu, maju terus sampai keujung kehidupan ( hari akhir ). ( 2007 : 46 ).

5.         Haji : Kesadaran Makhluk Kosmos

Setelah dengan puasa manusia dapat menemukan dirinya sebagai makhluk sejarah, kemudian manusia juga dihadapkan pada satu kenyataan yang tak bisa terbantahkan yaitu bahwa manusia juga sebagai bagian dari semesta atau makhluk kosmos. Makhluk kosmos artinya adalah makhluk yang senantiasa berputar-putar. Ketika seorang manusia menelusuri sejarah kehidupannya, maka sebenarnya dia telah melakukan aktivitas yang selalu berulang-ulang ( berputar-putar, kosmos ). Aktivitas kehidupan fisik manusia sebenarnya hanya sekedar berputar-putar antara tidur dan bangun, bekerja dan istirahat, pergi dan pulang, buang air dan makan begitu seterusnya. Akan tetapi manusia tidak pernah merasa bosan melakukan aktivitas-aktivitas itu. Sebuah miniatur kehidupan manusia yang selalu berulang-ulang ( kosmos ).

Ada dua realitas eksistensi kehidupan yang dihadapi oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya di muka bumi, yaitu manusia sebagai makhluk sejarah dan manusia sebagai makhluk kosmos, dari kedua tingkatan identitas manusia itu, kemudian Allah memberikan sintesa untuk menyatukan keduannya dalam doktrin ritual ibadah haji. Dalam praktek ibadah haji, manusia harus melakukan tawaf, yaitu symbol makhluk kosmos yang berputar-putar mengitari ka’bah, ritual ini merupakan miniatur kehidupan manusia yang selalu mengitari ruang kehidupannya secara berulang-ulang, sedangkan sa’i yang merupakan perjalanan lurus kedepan antara safa dan marwa, merupakan symbol makhluk sejarah yang berjalan lurus kedepan menggapai keabadian Tuhan. Kemudian pada tanggal sembulan Dzulhijjah, Allah menyatukan antara tawaf dan sa’i pada satu titik yang bernama arafah. Manusia tidak akan menemukan sesuatu dari esensi perintah Tuhan dalam kehidupan manusia, jika hanya terus berjalan kedepan atau berputar-putar dan berulang-ulang, semua harus berhenti dan berkumpul disatu tempat yang telah ditetapkan Allah, untuk melakukan wukuf. Titik itu adalah satu tempat yang bernama ’arafah. Nama itu memberikan makna bahwa semua harus dalam situasi dan kondisi ma’rifah  ( mengenal Tuhan ). Ketika berada di titik itu manusia hanya diperkenankan melakukan sekedar kewajibannya dan setelah itu diam, dalam rangka memberikan kesempatan kepada Allah untuk berbicara, yang akan disampaikan Nya melewati Ilham kedalam hati setiap hamba Nya yang diperkenankan berjumpa dengan Nya kelak dihari akhir. ( Muhammad Zuhri, 2007 : 48 ).

Ibadah haji dalam perspektif Muhammad Zuhri diatas adalah merupakan puncak pendadaran dan pendakian manusia untuk menemukan dirinya sebagai manusia yang ma’rifah. Yaitu sosok makhluk yang terbebas dari kendala diri, kendala alam dan kendala kemanusiaan. Kesempurnaan manusia dihadapan Tuhan adalah ketika dia telah mencapai derajat haji mabrur yang juga sama derajatnya dengan insan kamil ( manusia sempurna ). Yaitu orang-orang yang peduli terhadap nasib sesama, membaur dalam semesta kemanusiaan, membaur dalam makna dan citra, sedia dan ikhlas dalam berkorban sebagaimana pengorbanan Nabi Ibrahim As. Sebuah pengorbanan yang purna untuk semua, tak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk mengganggu atau menyakiti fihak lain, karena semua adalah saudaranya. Demikian kenikmatan yang akan diperolehnya tidak hanya sekedar untuk kehidupan sekarang, melainkan sampai kelak diakherat saat berjumpa dengan Tuhannya. Allah sendiri yang akan membalasnya dengan keridhoan Nya.

Muhammad Zuhri dalam salah satu tulisannya menegaskan, bahwa ibadah haji adalah revolusi individu, puncaknya manusia dalam menggarap diri sesuai dengan kehendak Allah. Sebuah ritual yang sanggup menumbuhkan sesuatu yang maha besar dalam diri manusia, jika hal itu datang pada seseorang maka dia bukan lagi sebagai individu melainkan sebagaimana yang dikatakan Allah kepada Nabi Ibrahim As.

¨bÎ) zOŠÏdºtö/Î) šc%x. Zp¨Bé& $\FÏR$s% °! $ZÿŠÏZym óOs9ur à7tƒ z`ÏB tûüÏ.Ύô³ßJø9$# ÇÊËÉÈ

Artinya : ”  Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam ( ummat ) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).

Ibrahim yang hanya satu orang disebut oleh Allah sebagai satu ummat ( imam ), satu orang tapi disebut semua orang, hal ini berarti Ibrahim yang hanya satu orang dapat mewakili dirinya berperan bagi semua orang. Dialah sebenarnya yang sadar memikirkan kebutuhan seluruh ummat manusia, baik itu kebutuhan fisikal maupun kebutuhan pengembangan dalam menempuh masa depan yang gemilang. Inilah yang dimaksud Muhahammad Zuhri sesuatu individu  yang kecil dengan ibadah haji dapat berubah menjadi individu yang sangat besar. Akan tetapi ibadah haji juga bisa tidak berimbas sedikitpun bagi pemeranya, jika dia tidak tahu untuk apa dia dipanggil oleh Tuhan ke rumah Nya dan akan diproses menjadi apa dalam ibadah hajinya. Maka tidak ada sedikitpun perubahan dalam dirinya, pemikirannya, tanggung jawabnya, serta perjuangannya kepada ummat manusia. Bahkan dia tidak mewakili siapa pun dalam hidupnya.

  1. Pengorbanan yang paling berat bagi Nabi Ibrahim, adalah ketika Allah memerintahkan Ibrahim melewati mimpinya untuk menyembelih anak yang sangat dikasihi dan di sayanginya, Ismail. Menghadapi perintah itu dalam perspektif Muhammad Zuhri ketiga kekuatan yang ada dalam diri manusia gugur saat itu. Kekuatan manusia itu adalah ketajaman akal pikiran, kelembutan moral dan kekuatan fisik. Ketiga kekuatan itu tidak sanggup menghadapi perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Akan tetapi itulah perintah Allah                    ( Amrullah ), ketiga kekuatan manusia itu hancur menghadapi amrullah. Namun demikian jika amrullah itu hadir dalam diri seseorang, itulah saat perubahan besar yang terjadi dalam diri manusia, itu semua adalah kiamat kehidupan seseorang yang berdimensi waktu, yaitu saat lahirnya dimensi kehidupan baru. Bukan kehidupan fisikal, bukan kehidupan intelektual dan bukan kehidupan moral melainkan kehidupan spiritual, yaitu kehidupan sebagai ’abdullah kemudian lahir sebagai ahlullah ( Muhammad Zuhri menyebutnya keluarga Allah ). ( 2007 : 158 ).

Ibadah haji telah membuat revolusi individu dari kecil menjadi besar, dari pribadi menjadi ummat manusia. Saat itulah seorang manusia sanggup dan siap untuk melindungi semua ummat manusia dalam wilayah menejerialnya. Dimana keberadaannya menyebabkan seluruh bangsa tidak dimurkai dan diazab Allah. Itulah derajat spiritual seorang muslim yang hajinya mabrur ( Insan kamil ) yaitu sebuah pangkat yang tidak mungkin diperoleh tanpa sebuah pengorbanan yang ihklas simbol pribadi yang mulia.

3.3.      Seni Dalam Spiritualitas Islam.

Sebagai pemikiran tambahan dalam rangka memperkuat konsep beliau tentang spiritualitas Islam, Muhammad Zuhri memaparkan tentang analognya terhadap seni yang mampu memberikan nilai luar biasa terhadap perkembangan peradaban dan pemukiran Islam dalam rangka  membentuk mental spiritual seseorang. Seni menurut Muhammad Zuhri ( 2007 : 44 ) adalah manifestasi keindahan yang lahir lewat kreatifitas sadar manusia, sedangkan produk keindahan yang tidak disadari tidak dikatakan seni. Adapun hakekat keindahan sebenarnya adalah manifestasi sifat jamaliah Allah Swt yang imanen disetiap wujud ciptaan-Nya, segala sesuatu tampil dengan keindahannya yang unik. Seni menurut beliau, memiliki daya magnet yang mampu menggerakkan semangat manusia, membakar kemarahan, membuai hati kedalam kenyataan yang tak berwujud dan bisa juga menidurkan.

Oleh karena itu sejak dahulu, agama dan filsafat selalu menggunakan seni sebagai kendaraan untuk menyampaikan pesan-pesan moralnya atau inti dari ajarannya untuk mengarahkan gaya hidup manusia, seperti cerita dan kisah Mahabarata, Ramayana, Teater Yunani, Opera, patung-patung di gereja dan Vihara, nyanyian suci, Mastnawi Jalaludin Rumi, Qosidah atau Qiroaltul Qur’an. Adalah fenomena seni yang telah berhasil memikat kehidupan manusia untuk bisa mengikuti gaya hidupnya.

Tak terkecuali di Indonesia, ketika pada abad pertengahan lalu mayoritas penduduknya adalah agama Hindu dengan beragam seni yang dimilikinya, berhasil diislamkan oleh para wali sebagai pendakwah Islam, dengan memodifikasi cerita-cerita seni hindu, seperti mahabarata kedalam drama wayang kulit yang lebih familiar sebagai informasi dakwah Islam bagi masyarakat Hinduis. Para wali ditanah air dahulu mengislamisasi masyarakat Hindu justru dengan menggunakan tradisi seni dan kitab agama Hindu itu sendiri. Dengan mengubah esensi seni Hindu dengan nilai-nilai seni dan filosofi Islam, seperti wayang kulit, drama, opera dan sebagainya. Muhammad Zuhri ( 2007 : 47 ) ikut memahami dunia seni dalam mengeksplorasi doktrin Islam,  dengan mengibaratkan gamelan yang mengiringi pertunjukkan seni, adalah memiliki nilai-nilai filosofi Islam yang sarat akan ajaran syareat Islam. Beliau mengatakan nada dasar yang digunakan dalam menyusun gending nada  ( gamelan instrumental ) adalah, neng, ning, nung, nang. Keempat nada dasar ini diterjemahkan oleh beliau dengan landasan filosofi Islam, yaitu :

  1. Neng, berasal dari kata ” Jumeneng ” yang artinya berdiri. Maksudnya adalah setiap individu Muslim harus siap dan sanggup berdiri  mandiri, tidak bergantung pada orang lain selain kepada Allah, untuk itu dia perlu menemukan identitas dirinya sendiri yang final sebagai hamba Allah dengan menegakan shalat. Maka shalat yang dilakukan oleh seorang muslim harus benar-benar menemukan dirinya sebagai hamba Allah, lalu tegak berdiri kemudian dia pun akan melihat bahwa orang lain juga sebagai hamba Allah, semua sama dihadapan Allah, tidak ada yang berbeda karena suku, ras dan golongan.
  2. Ning, Ning menurut Muhammad Zuhri berasal dari kata ” Wening ” yang artinya jernih. Sebagai hamba Allah, seorang muslim harus memiliki pikiran dan perasaan yang jernih, suci dan bersih. Sehingga dia akan mampu melihat orang yang ada disekitarnya juga secara bersih yaitu sebagai hamba Allah. Seorang  muslim tidak akan sanggup melihat saudaranya yang lain sebagai hamba Allah, jika hatinya kotor dan penuh noda yang akan menutupi hatinya untuk melihat saudaranya yang lain secara utuh. Lalu untuk membersihkan hati dan pikirannya dari setiap noda itu manusia wajib berintegrasi secara total kepada lingkungan sosialnya dengan menunaikan Zakat, Infaq dan Shodaqoh. Karena setiap zakat, infaq dan shadaqoh yang dikeluarkan oleh seorang muslim esensinya adalah untuk membuat diri seseorang memiliki hati dan pikiran yang bersih, karena zakat maknanya adalah bersih dan suci. Di samping itu, zakat,infaq dan sodaqah keberadaannya berorientasi membantu sesama yang memiliki nasib kurang beruntung. Secara materil bukan untuk keperluan dirinya sendiri.
  3. Nung, berasal dari kata ” Kasinungan ” yang artinya adalah dikaruniai kekuatan dari Tuhan. Karena esensinya seorang manusia adalah tidak ada kekuatan daya dan upaya yang dimiliki oleh manusia kecuali merupakan karunia dan kekuatan yang datang dari Tuhan. Seberat apapun tantangan dan beban sosial seorang muslim untuk membantu sesamanya dia tidak boleh lari dari tanggung jawabnya atau berputus asa, karena ada karunia dan kekuatan dari Tuhan yang didapat dari permohonan kepada Nya, kekuatan ekstra dari Tuhan itu adalah melalui puasa. Puasa seperti yang pernah diungkap dalam bab sebelumnya adalah satu ritual yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk sejarah, dia kuat sampai akhir zaman. Orang yang tidak berpuasa dia akan punah dan sirna oleh perputaran waktu dan zaman.
  4. Nang, berasal dari kata ” kawenangan ” yang artinya adalah kekuasaan. Hal ini bermakna bahwa, meskipun seorang muslim dengan kekuatan besar atau power ekstra sebagai karunia dari Allah, terbebas dari kendala alami, namun dia tidak berhak mendayagunakan kekuatan itu dengan motivasi pribadi. Power tersebut harus digunakan untuk kepentingan ummat manusia, dengan kata lain dia harus mendayagunakannya dengan amrullah atau berdasar kehendak Allah. Sehingga dia akan memiliki kewenangan di dalam ruang lingkup menejerial Tuhan. Seorang manusia agar bisa mendayagunakan power ekstra itu untuk kepentingan ummat manusia maka dia harus berhasil mencapai haji yang mabrur. ( 2007 : 47 ).

Pandangan seni Muhammad Zuhri dalam memahami spiritualitas Islam seperti yang tersebut diatas adalah merupakan eksplorasi pemikiran beliau untuk membuat Islam lebih fariatif dan menarik, dengan menggunakan latar belakang sejarah para pendakwah Islam di Indonesia beberapa abad lalu, yang telah dirintis oleh para wali. Menurut beliau seni spiritualitas dalam Islam adalah warna tersendiri, mengandung keindahan yang bernilai sehingga akan membuat orang lain dapat menikmatinya, bukan hanya oleh komunkitas Islam itu sendiri tapi juga bagi komunitas lain yang nota bene bukan muslim.  Kemudian beliau lanjutkan dengan sebuah pernyataan, bahwa kreatifitas positif dari para seniman muslim adalah  ” Amal Shaleh ” yang tak diragukan lagi nilai pengabdiannya. Akan tetapi amal shaleh atau perbuatan mulia seseorang di dalam pandangan akal manusia belum tentu bisa sampai ke langit atau kehadirat Tuhan bila tanpa ruh, dan ruh amal ibadah manusia adalah ikhlas. ( 2007 : 45 ).

B.        Perbandingan Pemikiran Imam Al Ghazali Dengan Pemikiran Muhammad Zuhri.

1.         Perbedaan Konsep Muhammad Zuhri dengan Imam Al Ghazali.

Dua alur pemikiran yang telah penulis paparkan secara sederhana diatas, yang merupakan pemikiran dari dua tokoh pemikir Islam kontemporer yang sangat brilian. Konsep-konsepnya telah memberikan warna tersendiri terhadap perkembangan peradaban Islam dan memperkaya khazanah ilmu-ilmu keislaman sehingga menjadikan budaya Islam semakin menarik untuk dikaji dan dibahas dalam berbagai kesempatan. Dalam hemat penulis kedua tokoh tersebut tidak diragukan lagi kemampuan dan komitment keislamannya dalam meresponse setiap perkembangan kehidupan ummat Islam yang semakin masuk dalam arus globalisasi dan akulturasi budaya yang tajam.

Dalam tulisan bab kali ini, penulis mencoba untuk melihat perbedaan pemikiran kedua tokoh tersebut dalam pemikirannya masing-masing dalam konteks spiritualitas Islam, untuk dilihat relevansi pemikirannya, secara sistematis perbedaan kedua pemikiran tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, Perbedaan pemikiran keduanya sangat ditentukan oleh latar belakang pendidikan, sosial dan budaya tempat dimana keduanya hidup dan berkembang. Imam Ghazali seperti yang telah difahami dan diungkap dalam bab sebelumnya, hidup pada zaman pemerintahan daulat bani Abbasiah pada abad ke sebelas. Beliau sendiri dididik oleh seorang Imam besar di zamanya yang kemudian membuat bakat keilmuannya tumbuh secara cepat sehingga pada usia muda beliau telah menjadi seorang guru besar di Al jami’ah Nizam Al Mulk. Namun demikian kehidupannya masih berada dalam periode klasik dalam sejarah Islam dan tidak dalam masa kemajuan dan keemasan peradaban Islam, akan tetapi masuk dalam masa kemunduran Islam ( 1000 – 1250 M ).

Sedangkan Muhammad Zuhri, hidup di zaman kontemporer dimana kehidupan dunia akademiknya tidak bisa didapat dengan mudah dari seorang yang hidup sederhana di kampungnya, kondisi sosial dan budaya yang melingkupinya adalah sosial dan budaya bangsa jawa yang kental dan tradisional, yang tentu saja kondisi sosial budaya saat Muhammad Zuhri dengan Imam Al Ghazali memiliki perbedaan yang sangat signifikan

Di awal kehidupannya adalah masa sulit dimana bangsa Indonesia berada dalam wilayah transisi antara koloni Belanda atau bebas merdeka. Akan tetapi harus diakui bahwa masa itu adalah masa dimana bangsa Indonesia memiliki para tokoh dan pemikir yang handal dalam mengeksplorasi ilmu-ilmu keislaman. Perbedaan sosial budaya inilah yang kemudian menimbulkan karakter berpikir yang berbeda diantara keduanya, disebabkan kondisi sosial yang berbeda, perbedaan karakter berpikir yang berangkat dari realitas sosial yang berbeda inilah yang ikut memberikan andil latar belakang pemikiran yang terjadi pada dua tokoh tersebut, yaitu Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazli.

Kedua, Muhammad Zuhri meletakkan pemahaman spiritualitas Islam dalam melaksanakan semua syareat dan ajaran Islam secara sistematis dan filosofis, kemudian mengambil makna terdalam dalam semua syareat itu untuk aktual ditengah-tengah kehidupan manusia dan masyarakatnya serta keseharian bersosialisasi. Beliau melihat syareat ajaran Islam memiliki kandungan yang sangat luar biasa dan agung yang telah tersusun secara rapih dan sistematis dalam rukun Islam, kemudian beliau menyebutnya dengan istilah metodologi proses.

Sedangkan Imam Al Ghazali yang telah mengabdikan hampir sebahagian besar hidupnya untuk perbaikan dan pembiasaan akhlak yang mulia, beliau tidak berangkat dari eksplorasinya dan pemahamanya dari syareat dan rukun Islam, beliau memberikan fokus langsung pada prilaku dan akhlak manusia yang mulia, hal ini dikarenakan sebahagian besar ummat manusia dan ummat Islam secara khusus, pada masa hidupnya mengalami degradasi akhlak yang sangat megkhawatirkan, akhlak ummat Islam semakin terseret dari esensi akhlak Islam yang sebenarnya. Maka beliau langsung fokus untuk mengkampanyekan pribadi dan akhlak yang mulia untuk dilaksanakan oleh ummat Islam, dimana akhlak itu harus sesuai dengan tuntunan dalam al Qur’an dan al Hadist Nabi Muhammad Saw serta fatwa para ulama.

Ketiga, Muhammad Zuhri mengorientasikan pemikiran spiritualitas Islam nya pada tataran horizontal, yaitu pengabdian pada sesama sepanjang masa tanpa rasa jenuh sedikitpun, memfungsikan dirinya untuk kepentingan dan membantu orang lain. Memberikan makan bagi yang kelaparan, memberikan petunjuk jalan bagi yang tersesat, memberikan waktu untuk yang membutuhkannya, memberikan hak merdeka bagi seorang hamba sahaya. Pengabdian pada sesama bukan hanya pada sesama manusia tapi juga bagi makhluk Allah yang melata di muka bumi, semua memiliki hak untuk dilayani oleh manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam pandangan beliau ibadah ritual adalah bukan segala-galanya untuk mencapai derajat mulia di depan Allah, jika dia kehilangan konteks dengan aktifitas sosialnya ditengah-tengah masyarakat.

Sedangkan dalam pandangan Imam Al Ghazali, spiritualitas Islam nya di orientasikan secara vertikal, yaitu pengabdian secara utuh seorang hamba pada Allah semata melalui ibadah dan riyadhoh. Jika seseorang melalaikan komunikasinya dengan Tuhan melewati ibadah ritual maka akan membuatnya semakin jauh dengan Tuhan. Jika jauh dengan Tuhan maka akal dan hatinya akan terkotori untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Tuhan. Dalam hal ini akan sangat berkaitan  dengan konsepnya tentang al akhlak al karimah, yaitu satu pemahaman tertentu tentang akhlak yang telah manjadi tabiat dan tertanam dalam jiwa, sehingga untuk diamalkan tidak perlu lagi berpikir panjang atau melalui riyadhoh.

Keempat, Pemikiran Muhammad zuhri cenderung akomodatif terhadap konteks kekinian, pemikiran dan untaian hikmahnya secara langsung dapat mengena pada hati dan pemikiran setiap orang yang mendengarnya, sangat fariatif dan menarik sehingga setiap butir konsepnya mampu merubah pola pikir seseorang untuk larut dalam arus pemikirannya, hal ini terutama yang dirasakan penulis dan komunitas yang sering mengikuti hikmahnya dengan setia. Beliau tidak terlihat melarang, mendikte, memerintah atau bereaksi saat berada disekitar komunitasnya. Beliau sering menempatkan dirinya sebagai teman dalam berdialog atau ayah bagi anak-anak yatim sejarah.

Sedangkan pemikiran Imam Al Ghazali yang telah beliau keluarkan beberapa abad yang lalu dengan kondisi sosial budaya yang berkembang saat itu, belum tentu secara keseluruhan sesuai dengan konteks kekinian atau peradaban modern saat ini, sehingga untuk melihat kembali pemikiran beliau membutuhkan sebuah pengkajian yang lebih mendalam, terutama yang berkaitan erat dengan konteks kekinian yang transformatif. Dalam beberapa karyanya terlihat beliau sempat membuat perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan tersendat karena pemikiran-nya yang mendiskreditkan filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan saat itu, dengan terbitnya kitab ” Tahafut al falasifah ” ( Kekacauan dalam filsafat ). Walaupun ada semacam pemikiran yang mengatakan bahwa bukan pada konteks aksidentnya untuk memahami pemikiran Al Ghazali yang telah berhasil menjungkirbalikkan pemikiran Ibn Sina tentang metafisika, melainkan sikap kritis beliau terhadap pemikiran-pemikiran filsafat yang diperoleh oleh pemikir Islam dari bangsa Yunani. Sikap kritis  inilah yang telah berhasil dilahirkan oleh Al Ghazali untuk diwariskan pada ummat Islam setelahnya. Akan tetapi pemikiran beliau tentang al Akhlak al Karimah nampaknya perlu ada pengkajian lebih dalam lagi untuk dilihat relevansinya pada konteks kekinian.

Kelima, Perbadaan yang nampak selanjutnya adalah, Popularitas keduanya dalam dunia ilmu-ilmu keislaman dan ummat manusia secara umum, ikut menentukan cara pandang publik dalam menilai pemikiran keduanya. Muhammad Zuhri tentu tidak se populer Imam Al Ghazalli dalam dunia spiritualitas Islam baik di Indonesia atau di dunia. Sementara hampir setiap akademisi yang ada di jagat raya ini mengenal dengan baik Imam Al Ghazali dan pemikiran-pemikirannya, sedangkan tidak semua kaum akademisi, baik yang ada di Indonesia atau dunia mengenal dengan baik Muhammad Zuhri berikut pemikiran-pemikirannya.

Keenam, Konsep Spiritualitas yang dikembangkan Muhammad Zuhri mengorientasikan prilaku, akhlak dan kehidupan manusia pada sesuatu yang bersifat global dan universal. Akhlak manusia dalam pandangan spiritualitas Islam Muhammad Zuhri adalah sebuah pengabdian pada seluruh semesta alam bukan hanya pada manusia, seseorang harus menganggap orang lain sebagai bagian dari dirinya, bahkan juga makhluk lain selain manusia harus diperlakukan sama. Maka tidak akan ada lagi diantara sesama bertujuan untuk saling menghancurkan, merusak atau mengganggu, karena diantara mereka sudah menjadi satu kesatuan, persaudaraan dan kesetiakawanan. Muhammad Zuhri menyebutnya                        ” Keutuhan manusia ” yang lahir dari semangat spiritualitas tertinggi untuk menjadi manusia mulia atau insan kamil, yang dihasilkan dengan ibadah haji yang mabrur.

Dalam pandangan Imam Al Ghazali tentang al akhlak al karimah, lebih bersifat individual dan personal, dimana setiap ummat Islam khususnya dan ummat manusia umumnya dituntut untuk memiliki prilaku dan pribadi yang baik dan mulia sesuai dengan ajaran Islam yang tertera dalam al Qur’an dan al Hadist. Prinsip-prinsip dasar yang dijadikan landasan bagi terbentuknya akhlak yang mulia itu adalah hikmah ( Kebijaksanaan ), keadilan ( Al Adl ) dan penjagaan diri   ( Iffah ), tiga hal ini kemudian menadi pokok atau kekuatan bagi seseorang untuk membentuk akhlak yang mulia. Kebijaksanaan adalah kondisi jiwa seorang manusia untuk bisa memahami segala prilaku yang baik dan yang buruk, sedangkan keadilan adalah kondisi jiwa seseorang untuk bisa mengndalikan emosi dan amarahnya, kemudian penjagaan diri adalah terkendalinya kekuatan syahwat yang mendominasi seseorang dengan menggunakan pendekatan akal dan syareat agama.   Sebuah prilaku yang lahir dari potensi terbaik yang ada dalam diri manusia, menurut beliau jika prilaku yang muncul adalah buruk maka harus diperbaiki dengan menggunakan metode ” Tazkiatun nafsi ”.

2)         Persamaan Konsep Iman Al Ghazali dengan Muhammad Zuhri.

Setelah perbedaan konsep spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dengan konsep Al Akhlak Al Karimah yang di kembangkan oleh Imam Al Ghazali seperti yang telah diungkap dalam sub bab sebelumnya, kemudian penulis akan mencoba untuk mengungkap beberapa persamaan yang terdapat dalam pemikiran kedua tokoh tersebut untuk bisa dilihat relevansi pemikiran spiritualitas Islam Muhammad Zuhri dengan konsep Al Akhlak Al Karimah Imam Al Ghazali, agar konsep brilian tentang akhlak dan spiritualitas yang telah berkembang pada abad ke dua belas oleh Imam Al Ghazali dapat terus actual dengan menggunakan pendekatan-pendekatan spiritualitas kontemporer yang transformative dengan konteks ke-kinian, seperti yang telah berhasil dikembangkan oleh Muhammad Zuhri.

Berdasarkan hasil analisa yang telah penulis coba lakukan dalam memahami konsep spiritualitas Islam   Muhammad  Zuhri  dan konsep  Al Akhlak

Al Karimah Imam Al Ghazali, maka penulis melihat beberapa persamaan pemikiran diantara keduannya dalam memahami esensi dari ajaran Islam yang pernah di emban oleh Nabi Muhammad Saw, yang merupakan satu indikasi adanya relevansi pemikiran spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dengan konsep akhlak Imam Al Ghazali. Diantaranya adalah :

1. Adanya Persamaan Latar Belakang Pemikiran.

Latar belakang pemikiran dari konsep spiritualitas Islam Muhammad Zuhri dengan konsep Al Akhlak Al Karimah Imam Al Ghazali adalah berangkat dari latar belakang pemikiran yang sama, yaitu tasawuf – terlepas dari perbedaan tehnis penerapan tasawuf diantara keduannya – latar belakang pemikiran tasawuf lah yang telah menghantarkan Muhammad Zuhri ke dalam kancah spiritualitas Islam yang dalam, untuk memberikan warna baru bagi ajaran Islam yang sebenarnya, dengan tasawuf beliau mendakwahkan Islam dengan dasar keimanan kepada Allah Swt dan membentuk akhlak serta pribadi yang mulia. Karena menurut beliau, bekal aqidah dan akhlak bagi seorang muslim adalah merupakan titik tolak untuk menuju arah mikraj ruhani dan memperoleh ma’rifat intuitif dari Allah Swt.

Seorang dosen senior Islamic Studies di Brunel University Australia Dr. Peter Riddel, menyebutnya sebagai guru sufi revolusioner, menurutnya Muhammad Zuhri adalah pembaharu pemikiran sufistik Islam di zaman posmodernisme yang langka. Menurutnya, ada nexxus yang menarik dalam diri seorang Muhammad Zuhri yaitu kombinasi antara sufisme tradisional dan dunia modern, tujuannya lebih komunitarian dari pada personal, aktivitasnya dirancang untuk membebaskan orang yang lemah dan membutuhkan idiologi-idioligi yang selaras dengan aksi-aksi sosial abad 20. Muhammad Zuhri adalah seorang sufi yang bukan berasal dari salah satu aliran tarekat manapun dan tidak pernah berniat mendirikan tarekat apapun. Banyak sufi-sufi pendahulu sebelumnya yang mempraktekkan sufi dengan cara ekstrim, yaitu uzlah ( menyepi ) dari keramaian dan hiruk pikuk dunia untuk mensucikan dirinya dari segala bentuk noda dan dosa, sedangkan Muhammad Zuhri proses pensucian dirinya melewati aktifitas positip dan melebur dalam komunitas manusia yang lebih kompleks dan memerankan dirinya untuk memenuhi kebutuhan orang lain yang membutuhkan bantuannya. Kreatifitas positip ini lah yang menjadi landasan bagi beliau untuk mengembangkan kehidupan ummat manusia.

Konsep dasar Tasawuf Muhammad Zuhri adalah sintesa dari Kenabian Musa AS dan Kenabian Isa AS yang berwujud Kenabian Muhammad SAW (Shallallahu Alaihi Wassalam). Aktualisasinya berupa kreatifitas yang positif (amal shalih) yang merupakan eksistensi manusia menurut ajaran Islam, seperti yang tercantum dalam firman Allah Swt, yang tertera dalam Surat Al Kahfi ayat 110.

ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ׎|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqム¥’n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) ӉÏnºur ( `yJsù tb%x. (#qã_ötƒ uä!$s)Ï9 ¾ÏmÎn/u‘ ö@yJ÷èu‹ù=sù WxuKtã $[sÎ=»|¹ Ÿwur õ8Ύô³ç„ ÍoyŠ$t7ÏèÎ/ ÿ¾ÏmÎn/u‘ #J‰tnr& ÇÊÊÉÈ

Artinya :  Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. ( Depag RI, 2002 : 175 ).

  1. Usahanya untuk menghidupkan kembali ruh Islam dengan tasawuf, adalah tidak lain sebagai imbangan dari keadaan dan kehidupan ummat yang telah sangat mencintai dunia dan cenderung melupakan kehidupan akherat. Hal ini dikarenakan beliau melihat ummat Islam ketika itu yang lebih senang bermewah-mewahan sedangkan kehidupan intelektual, spiritual dan moral mereka mengalami krisis.

Alasan lain bisa juga dilihat dalam sejarah hidup Imam Al Ghazali dalam meretas perjalanan spiritualnya yang pernah mengalami masa-masa kritis dan degradasi. Keraguanya terhadap hakekat dari sebuah kebenaran, telah menghantarkannya pada sebuah pemikiran tasawuf bahkan mempraktekkannya secara ekstrim, sampai memisahkan diri dari kehidupan masyarakatnya ketika itu yang sedang mengalami degradasi akhlak dan moral yang sangat akut.

Guru beliau selain Imam al Haramain, juga seorang sufi bernama Abu Al Fadl bin Muhammad bin Ali Al Farmadhi Al Thusi. Dari sini lah Imam Al Ghazali belajar tentang teori-teori sufi dan kemudian mempraktekkannya. Pemikiran beliau tentang tasawuf sangat mempengaruhi konsep-konsep beliau tentang Al Akhlak Al Karimah, yang mengacu kepada empat kriteria, yaitu kekuatan ilmu, kekuatan ghadab, kekuatan syahwat dan kekuatan adil, jika keempat kekuatan tersebut telah tegak dan terdapat dalam diri seorang manusia maka akan terwujudlah akhlak mulia dalam diri manusia. Akhlak itu akan tertanam dalam diri manusia dan dari padanya muncul perbuatan-perbuatan yang mudah untuk dilakukan tanpa memerlukan pertimbangan. Dengan demikian, akhlak merupakan suatu kecenderungan hati untuk melakukan satu tindakan setelah adanya pengulangan-pengulangan yang sering, sehingga setiap ada kasus yang sama tidak memikirkan lagi untuk melakukan perbuatan tersebut. Inilah yang penulis maksud dengan konsep beliau tentang al akhlak al karimah dilatar belakangi juga oleh  tasawuf, seperti halnya Muhammad Zuhri, dimana fokus tasawuf adalah pembentukan pribadi dan akhlak yang mulia.

Imam Al Ghazali memilih jalan tasawuf dalam sejarah kehidupannya adalah sama sekali tidak bermaksud untuk memusuhi kehidupan dunia dan hanya mencintai kehidupan akherat semata, melainkan sebagai penyeimbang dintara keduannya, agar kehidupam umat Islam terjebak disalah satunya.

2.         Keduanya Menggunakan Pendekatan Yang Sama.

Muhammad Zuhri dalam mengeksplorasi pemikirannya tentang spiritualitas Islam,  berdasarkan analisa penulis menggunakan pendekatan yang sama dengan Imam Al Ghazali dalam mengembangkan konsep dan pemikirannya tentang Al Akhlak Al Karimah, pendekatan yang dilakukan itu adalah filsafat. Makna yang terkandung dalam setiap untaian hikmah yang keluar dari mulut dan tulisan-tulisan Muhammad Zuhri nampak sekali nilai-nilai filosofis yang sangat dalam. Beliau sendiri nampak menempatkan filsafat sebagai dasar dalam mengembangkan pemikirannya tentang tema-tema penting spiritualitas Islam, hal ini bisa dilihat ketika beliau memahami rukun Islam sebagai sebuah metodologi proses untuk mencapai tingkatan spiritualitas tertinggi dalam Islam. Kemudian merubah diri yang biasa destruktif menjadi konstruktif, menunjukkan jalan yang lurus bagi mereka yang tersesat, memberi makan bagi yang lapar dan membebaskan orang lain dari keterbelengguan idiologi dan sosial budaya, dengan demikian jadilah dia memerankan peran Tuhan di muka bumi yang telah diamanatkan kepadanya maka itulah nama Tuhan yang keseratus, Muhammad Zuhri menyebutnya sebagai mata tasbih yang lepas dari rangkaiannya dan menemukan hakekat kebenaran yang sesungguhnya. Inilah yang penulis maksud dengan pendekatan filosofis yang dilakukannya dalam mengeksplorasi pemikiran spiritualnya.

  1. ( Al Ghazali, Ihya, juz 3 : 3 ).

Oleh karena itu tidak mengherankan jika kitab terbesar Imam Al Ghazali yaitu Ihya Ulumuddin berisikan tentang hakekat manusia dan pembentukan akhlak manusia yang taat yang memiliki keselarasan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan dirinya sendiri. Dalam istilah pendidikan dan ilmu jiwa dapat berarti sebagai pembentukan pribadi sempurna dan akhlak yang mulia. Dalam pendekatan yang dilakukan oleh Imam Al Ghazali ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan pembinaan mental, diantaranya adalah Tazkiyatun Nafs. Pandangan Imam Al Ghazali tentang konsep tersebut tidak hanya berdasar al Qur’an dan As Sunnah akan tetapi juga berdasarkan rasio dan akal pikiran dalam pembentukan mental dan akhlak yang mulia. Maka  tak heran jika Ihya ulumuddin Imam Al Ghazali banyak berisikan konsep tentang Tazkiyatun Nafsi, yaitu konsep untuk membimbing manusia memiliki mental dan akhlak yang mulia.

3.         Keduannya Memiliki Tujuan dan Orientasi yang Sama

Setelah keduannya memiliki latar belakang pemikiran yang sama yaitu latar belakang tasawuf serta pendekatan yang dilakukan dalam konsep spiritualitas Islam dan konsep Al Akhlak Al Karimah juga sama yaitu filsafat, maka penulis melihat produk pemikiran diantara keduannya pun tentu memiliki alur pemikiran yang identik dan relevan untuk disandingkan, di satu sisi adalah pemikiran abad 12 sedangkan yang lain adalah pada periode kontemporer. Disamping itu penulis melihat pula diantara keduannya memiliki tujuan dan orientasi berpikir yang sama, yaitu berangkat dari sebuah keprihatinan tentang kondisi ummat Islam yang semakin jauh dari prilaku muslim yang sebenarnya, maka pemikiran keduanya dilahirkan dalam rangka mengembalikan kembali kehidupan ummat yang sesuai dengan ajaran Allah yang berasal dari Al qur’an dan As Sunnah.

Imam Al Ghazali pada masa hidupnya menemukan ummat Islam yang sudah semakin jauh dengan nilai-nilai ke Islaman, mereka sudah sangat mencintai kehidupan duniannya dengan hidup bermewah-mewahan, berlebih-lebihan dan berhambur-hamburkan harta, sedangkan kehidupan akheratnya, tingkatan spiritualnya, serta akhlak dan moralnya mengalami krisis yang sangat mengkhawatirkan. Hal inilah yang kemudian menjadikan motifasi besar bagi Al Ghazali untuk mendarmabhaktikan pada sebagian besar hidupnya untuk mengkampayekan tentang prilaku dan akhlak yang mulia sebagai bekal untuk kembali kepada Allah secara utuh dan sempurna. Beliau berusaha memperbaiki dan membangkitkan kembali kehidupan ummat Islam yang sudah lumpuh kekuatannya dan dilanda krisis keimanan yang akut dengan satu vitalitas baru yang sehat dan kuat, dengan pendekatan filosofis dan tasawuf beliau menyerukan untuk kembali pada ajaran tasawuf yang berdasarkan prinsip-prinsip nilai ajaran Islam serta mengikuti contoh yang telah diperlihatkan oleh nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya.

Menurut beliau pembinaan dan pembentukan akhlak serta mental spiritual seseorang adalah sangat penting, karena inilai cikal bakal dari keharmonisan kehidupan ummat manusia, cikal bakal rusaknya mental dan akhlak ummat di zamannya, inilah yang kemudian menjadi salah satu dari tujuan dan orientasi dari pemikiran Imam Al Ghazali dalam mengeksplorasi pemikirannya untuk kebahagiaan kehidupan ummat Islam dan ummat manusia secara umum di dunia dan akherat.

Di tengah-tengah kehidupan ummat manusia dengan kebudayaan modern yang ditandai dengan kemiskinan moral dan spiritual dewasa ini, maka pemikiran-pemikiran Imam Al Ghazali tentang Tazkiyatun Nafs dan implikasinya terhadap pembinaan akhlak dan mental tentu akan sangat membantu untuk keluar dari krisis moral yang terjadi.

Sedangkan Muhammad Zuhri dalam sejarah perjalanan hidup dan pemikirannya tidak jauh dari sejarah perjalanan hidup dan pemikiran Imam Al Ghazali, beliau pun berangkat dari sebuah keprihatinan terhadap pemahaman ummat Islam tentang syareat ajaran Islam yang difahami secara kaku dan nyaris tidak menyentuh sisi yang paling esensial dari ajaran Islam yang sebenarnya. Sehingga hal inipun berimplikasi terhadap kepribadian dan sikap mental spiritual ummat Islam ditengah-tengah kehidupannya bersosialissasi.

Muhammad Zuhri telah berhasil memberikan warna baru serta formula yang sehat bagi kehidupan ummat Islam dan sumbangan besar bagi khazanah ilmu-ilmu keislaman di Indonesia khususnya dan ummat manusia secara umum. Beliau telah menawarkan sebuah pemahaman terhadap syareat Islam yang lebih fariatif dan menarik, konsepnya tentang spiritualitas Islam lebih bersifat komunal ketimbang personal, lebih bersifat global dan universal ketimbang parsial atau primordial. Beliau telah berhasil menggabungkan konsep tasawuf tradisional yang telah dikembangkan oleh tokoh-tokoh tasawuf jauh sebelum kelahirannya dengan konsep tasawuf modern di era posmodernisme.

Muhammmad Zuhri mencoba mendakwahkan Islam dengan pendekatan sufistik dan filosofis yang lebih bermakna, beliau bukan hanya mengajarkan cara manusia untuk beribadah dan mengabdikan dirinya kepada Allah dalam setiap langkah dan desah nafasnya, tapi juga mengajarkan manusia untuk menemukan jalan pulang menuju Allah Rabbul ’alamiin. Menggapai mi’rajnya sebagai perjalanan ruhaninya dan menemukan esensi ma’rifat kepada Allah.

Pengabdiannya kepada Allah adalah dengan melayani makhluk Tuhan tanpa jenuh dan sepanjang masa, karena Allah sesungguhnya telah mewariskan alam semesta beserta isinya ini kepada manusia, maka manusia harus menemukan dirinnya menjadi bagian dari alam semesta yang ikhlas, kemudian diapun harus berusaha dengan keras untuk menemukan semesta ada dalam dirinnya. Selanjutnya beliau juga mengingatkan manusia untuk menemukan dirinya sebagai seorang hamba Allah, kemudian dia pun harus menemukan orang lain sebagai hamba Allah pula.  Jika seseorang telah menemukan dirinnya sebagai bagian dari alam semesta dan semesta ada dalam dirinya, kemudian dia telah menemukan dirinya sebagai hamba Allah dan menemukan orang lain pula sebagai hamba Allah, maka diatelah memiliki kewajiban untuk mengurusinya sebagai bagian dari tanggung jawabnya yang telah diamanatkan oleh Tuhan kepadanya.

Dengan demikian tidak ada lagi motovasi dalam diri manusi untuk mengganggu dan merusak alam semesta yang telah Tuhan ciptakan untuk ummat manusia, karena manusia tak kan sanggup hidup jika semesta yang menjadi bagian  dari kehidupannya dirusak oleh dirinya sendiri, begitu juga seterusnya jika

manusia telah menemukan dirinya sebagai hamba Allah dan menemukan orang lain juga sebagai hamba Allah, maka akan tumbuhlah rasa satu kesatuan yang utuh antara sesama ummat manusia, saling kasih sayang, dan rasa kesetiakawanan sosial dikarenakan kesamaan statusnya sebagai hamba Allah.

Proses ini disusun secara sistematis oleh Muhammad Zuhri yang disebutnya sebagai metodologi proses, agar manusia dapat mencapai tingkat spiritualnya yang tertinggi sebagai manusia sempurna ( insan kamil ). Inilah pula yang disebut oleh Muhammad Zuhri sebagai Al Akhlak Al Karimah. Akhlak yang mulai yaitu melayani makhluk Tuhan dengan sebaik-baiknya tanpa pamrih. Memberikan petunjuk jalan bagi yang tersesat, memberikan makan bagi yang lapar. Memberikan ilmu bagi yang bodoh, yang kuat menolong yang lemah, yang kaya menolong yang miskin. Maka keharmonisan kehidupan semesta akan selalu terjaga, kehidupan dunia akherat akan tercapai secara baik dan sempurna.

Dari dua pemikiran tokoh spiritual tersebut diatas, dapat dianalisis bahwa terdapat hubungan yang sangat signfikan dan relevan antara Imam Al Ghazali dan Muhammad Zuhri, Keduanya berupaya untuk menciptakan kehidupan ummat manusia dan semesta yang lebih baik dan bahagia, sehingga seimbang dengan kehidupan akheratnya. Keduanya berorientasi pada satu tujuan yaitu membina manusia agar dapat menjalankan fungsinya bagi dirinya sendiri, orang lain, semesta dan Tuhannya.

C. Kelebihan dan Kekurangan Pemikiran Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali.

1.         Kelebihan dan kekurangan Pemikiran Muhammad Zuhri

a.         Kelebihan pemikiran Muhammad Zuhri

Sebagai seorang tokoh spiritualitas Islam pada dekade tarakhir, Muhamad Zuhri diakui atau tidak telah berhasil memberikan warna tersendiri bagi khazanah ilmu-ilmu keislaman dalam membangun peradaban Islam. Pemikiran Spiritualitas Islam yang telah berhasil dikembangkan Muhammad Zuhri adalah referensi penting untuk menemukan esensi kemanusiaan seseorang ditengah kehidupan pribadinya bersosialisasi serta penghambaannya didepan Tuhan. Bahkan menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia. Kelebihan yang dimiliki oleh beliau dalam meranah dunia spiritualitas Islam dalam pengamatan penulis adalah sebagai berikut :

Pertama, Muhammad Zuhri tidak berangkat dari satu aliran atau komunitas tasawuf manapun dan tidak pernah bermaksud mendirikan satu aliran tasawuf apapun, beliau bahkan mampu mengkombinasikan pemikiran sufistik tradisional dan modern pada gerak spiritualitasnya dalam bentuk amal sholeh.   

Kedua, Muhamad Zuhri mengorientasikan pemikiran dan gerak spiral spiritualitasnya pada tatanan horizontal, yaitu esensi pengabdian kepada Allah Swt adalah dengan melayani makhluk Tuhan tanpa jenuh dan pamrih sedikitpun.

Ketiga, sebahagian besar pemikiran spiritualitas Islam Muhammad Zuhri berangkat dari sebuah perenungan dan kontemplasi beliau yang dalam serta pengalaman keagamaan pribadi yang selalu mengantarkannya pada satu sikap spiritualitas yang sistematis dan mengakar.

Keempat, Muhammad Zuhri menunjukkan sikap hidup yang sederhana dan bersahaja, tinggal disebuah desa kecil yang jauh dari keramaian dan hirup pikuk dunia, beliau tidak pernah mau dipanggil kiai, guru atau wali sekalipun. Sikap hidup seperti inilah yang menunjukkan salah satu kelebihan yang dimiliki oleh seorang Muhamad Zuhri.

Kelima, dalam sejarah pemikirannya, Muhammad Zuhri telah berhasil mengakomodir pemikiran beliau dalam bentuk sebuah karya yang berhasil beliau bukukan, diantaranya adalah Qosidah Cinta, Langit – Langit Desa ‘ Kumpulan hikmah dari sekarjalak ‘, Mencari Nama Tuhan Yang Keseratus, kemudian Hidup Lebih Bermakna. Karya-karya beliau telah berhasil menunjukkan ke publik tentang salah satu kelebihan yang dimiliki seorang Muhammad Zuhri. Bahkan dengan karya-karya dan refleksi sosial beliau dalam realitas sosial, telah membuat seorang Petter Riddel, berkomentar khusus kepada Zuhri dan komunitasnya yang telah berhasil menggabungkan sufi modern dan tradisional, kepentingannya lebih komunitarian ketimbang personal, semua amal ibadah manusia kepada Tuhan mengejawantah dalam amal sholeh pada sesama.

b. Kelemahan Pemikiran Muhammad Zuhri

Kelebihan yang nampak dari pemikiran Muhamad Zuhri dalam pandangan penulis, tidak menutup sisi kelemahan dan kekurangan juga yang dimiliki oleh seorang Muhammad Zuhri, diantara beberapa kekurangan yang dimiliki oleh beliau dalam pandangan penulis adalah :

Pertama, Muhamad Zuhri dalam setiap tulisan dan komunikasinya menggunakan bahasa yang terkadang membutuhkan waktu untuk merenunginya lebih dalam karena bahasa yang beliau gunakan sangat filosofis dengan makna sufistik yang cukup dalam sehingga terkadang cukup sulit untuk dicerna dan difahami secara baik, begitu juga akan sangat sulit untuk bisa difahami oleh komunitas yang memiliki daya intelektual awam. Sehingga hal ini membuat hanya komunitas tertentu yang memiliki kemampuan intelektual lebih lah yang cenderung bisa memahami dan mereduksi pemikiran beliau.

Kedua, Muhammad Zuhri bukanlah seorang akademisi yang tinggal dan berkembang karakter berpikirnya dalam dunia akademik, akan tetapi beliau lebih banyak berkomunikasi dengan alam semesta dan realitas sosial masyarakat yang beliau menganggapnya sebagai wujud Tuhan di muka bumi, kemudian beliau juga melihat mereka dengan wujud Tuhan dalam dirinya,  pengalaman keagamaan pribadi serta perenunganlah yang telah menjadikan beliau seorang tokoh spiritualitas Islam yang sangat kreatif dengan karya-karya terbaiknya. Ini jugalah yang membuat beliau tidak begitu banyak dikenal oleh kaum akademisi yang bergelut dibidang keilmuan terutama spiritualitas Islam.

2.         Kelebihan dan Kelemahan Pemikiran Imam Al Ghazali

a.         Kelebihan Pemikiran Imam Al Ghazali

Pemaparan pemikiran yang telah berhasil dikembangkan oleh Imam Al Ghazali seperti yang telah penulis uraikan diatas adalah menunjukkan keseriusan dan kesungguh-sungguhan seorang Al Ghazali dalam mengeksplorasi doktrin Islam ke dalam kehidupan nyata di masyarakat dan agama. Beliau telah mengorbankan sebagian besar hidupnya untuk memperdalam dan mengamalkan doktrin Islam secara baik bahkan ekstrim. Diantara beberapa kelebihan beliau itu antara lain hádala :

Pertama.  Imam Al Ghazali memiliki kemampuan berpikir dan kecerdasan luar biasa bahkan diatas rata-rata orang cerdas, sehingga tidak heran dalam waktu yang Sangat relatif singkat beliau telah banyak menguasai berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, seperti bálagoh, Fiqh, tasawuf, Tauhid, Filsafat serta beberapa ilmu eksact lainnya. Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh beliau inilah yang membuat Sultan di kerajaan Nidham Al Mulk memberikan kepercayaan yang besar bagi Al Ghazali, bahkan hampir semua kebijakan dan keputusan kerajaan dikeluarkan setelah mendapat pertimbangan dan persetujuan Al Ghazali.   Ini merupakan salah satu dari kelebihan yang dimiliki oleh Al Ghazali.

Kedua, Imam Al Ghazali dalam sejarah perjalanan pemikirannya telah berhasil mengembalikan alam pikiran ummat Islam ketika itu dari pengaruh filsafat Yunani yang direduksi oleh para filosof muslim, agar pemikiran ummat Islam ketika itu tidak terlalu liar bahkan bisa membuat mereka mengingkari keyakinan dan akidahnya kepada Allah Swt.

Ketiga, Kelebihan lainya yang penulis lihat dalam diri Imam Al Ghazali adalah kemampuan dan keberaniannya dalam membaca fenomena yang terjadi di Masyarakat dan kemudian memberikan solusi dan jalan keluar dari problematika masyarakat yang terjadi, seperti ketika beliau melihat begitu rusaknya moral dan akhlak ummat Islam ketika itu, dimana mereka sibuk dengan kenikmatan duniawi dan ketidakpedulian mereka terhadap hal-hal yang berhubungan dengan ukhrowi. Materi duniawi mereka tercukupi dengan baik, tapi moral, akhalak dan spiritual mereka sangat kering dan mengkhawatirkan, maka Al Ghazali hampir menghabiskan sebagian hidupnya untuk mengkampanyekan pribadi, moral, spiritual dan akhlak yang mulia, agar manusia memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akherat.

Keempat, Dalam mengeksplorasi pemikirannya beliau telah berhasil mengembangkannya dalam bentuk karya tulis yang sangat populer dikalangan ummat Islam bahkan sampai sekarang, hal ini terlihat dari berbagai lembaga-lembaga pendidikan tradisional yang selalu mengkaji kitab-kitab dan pemikiran beliau sepanjang zaman. Bahkan pemikiran Al Ghazali ini telah banyak di reduksi oleh para pemikir Islam yang sangat tertarik dengan pemikiran beliau, untuk kemudian diinterpretasi dan dikembangkan relevansinya dengan kehidupan sosial yang lebih nyata di masyarakat. Salah satu kitab yang telah berhasil membuat beliau begitu sangat populer adalah Ihyâ Ulumuddiin, kitab inilah yang kemudian membuat beliau memiliki gelar ” Hujjatul Islam ” . Ini adalah salah satu kelebihan luar biasa yang dimiliki oleh Al Ghazali, mungkin akan banyak kelebihan yang dimiliki oleh beliau yang belum sempat ditulis.

b.         Kelemahan Pemikiran Imam Al Ghazali.

Diantara beberapa pemikiran Al Ghazali yang menunjukkan sisi kelebihan yang dimiliki oleh beliau, penulis juga melihat ada beberapa kelemahan yang dimiliki Imam Al Ghazali dalam mengeksplorasi pemikiran dan menerapkan ajaran Islam, tanpa penulis bermaksud untuk mendiskreditkan atau menunjukkan kelemahan yang dimiliki seorang Hujjatul Islam sebagai kebanggaan ummat Islam di dunia. Diantara kelemahan itu antara lalin adalah :

Pertama, Penolakan beliau secara tegas terhadap filsafat yang saat itu telah berhasil dikembangkan oleh seorang filsuf Islam terkenal yaitu, Ibn Shina tentang konsep metafisikanya, penolakan ini beliau tunjukkan dengan sebuah karya dalam kitab Tahafutt Al Falasifah (Kekacauan – kekacauan filsafat). Dengan sikap dan karya beliau inilah yang kemudian menyebabkan dunia ilmu pengetahuan Islam mengalami masa kegelapan hampir selama seratus tahun, pengaruh Al Ghazali yang luar biasa dikalangan ummat Islam membuat sikap dan pemikirannya diikuti oleh khalayak Islam. Sampai kemudian Ibn Rusyd, menetralisirnya kembali dengan karyanya Tahafut at Tahafut ( Kekacauan dalam kekacauan ). Inilah salah satu kelemahan yang dimiliki oleh Al Ghazali ketika itu dalam hemat penulis.

Kedua, Penerapan ajaran dan doktrin tasawuf yang dilakukan oleh Al Ghazali secara ekstrim, beliau dalam sejarah hidupnya menerapkan ajaran tasawuf itu dengan meninggalkan keramaian dan menyendiri disebuah menara masjid untuk membersihkan dirinya dengan metode Tazkiatun Nafsi. Selama tiga bulan beliau menyendiri dan menjauhi masyarakatnya yang sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran beliau, adalah salah satu kelemahan yang dalam hemat penulis adalah kelemahan Al Ghazali dalam mengekplorasi pemikiran tasawufnya yang notabene memiliki hubungan erat dengan dunia akhlak.

Ketiga, Kelemahan lain yang penulis lihat sebagai bagian yang melekat dalam diri Al Ghazali sampai wafatnya adalah, ambisinya untuk mendapatkan sebuah kebenaran mutlaq yang tak terbantah lagi nilai kebenarannya oleh siapapun, dan kebenaran mutlaq itu datang langsung dari Tuhan yang dibisikkannya dalam bentuk ilham ke dalam hati dan jiwa manusia. Sikap ekstrim seperti ini pulalah yang telah menghantarkan beliau pada sebuah krisis spiritualitas yang panjang, bahkan sampai terlihat dalam perubahan fisik beliau dalam konsistensi berpikirnya. Walaupun kemudian beliau menyadari atas petunuk Allah swt, untuk kembali lagi pada kehidupannya yang normal. Akan tetapi prinsip berpikirnya yang selalu mendambakan kebenaran mutlaq yang langsung datang dari Tuhan tidak pernah memudar dalam dirinya.

Keempat, Pengaruh Al Ghazali yang sangat besar terhadap sikap hidup dan pemikiran ummat Islam ketika itu, membuat seluruh sikap dan pola pikir Al Ghazali berpengaruh kuat terhadap perkembangan peradaban dan budaya ummat Islam, yang kemudian skeptisisme dan krisis spiritual yang dialami oleh Al Ghazali terlihat secara jelas olah ummat Islam yang kemudian tidak sedikit yang menirunya, hal inipun penulis lihat sebagai salah satu kelemahan yang dimiliki oleh Al Ghazali.

C. Relevasi Pemikiran Imam Al Ghazali Dengan Pemikiran Muhammad Zuhri Terhadap Sistem Pendidikan Islam.

Konsep spiritualitas Muhammad Zuhri, seperti yang telah diungkap di atas adalah sebuah pemikiran yang sangat kreatif dan mendalam dari seorang sederhana dan bersahaja seperti Muhammad Zuhri. Pemikirannya yang menarik dan variatif tentang spiritualitas Islam telah berhasil menempatkannya sejajar dengan para tokoh spiritualitas Islam yang pernah ada. Beliau telah mendharmabhaktikan sebagian besar hidupnya untuk mengangkat kembali spirit Islam yang hampir saja tercerabut dari esensi dan makna kebenaran Islam yang sesungguhnya. Eksplorasinya terhadap esensi ajaran Islam telah memberikan warna tersendiri bagi ummat Islam yang kebetulan membaca karyanya atau mengikuti kajian-kajian rutinya.

Pemikiran-pemikiran Muhammad Zuhri yang brilian tentang spiritualitas Islam, sangat beraviliasi pada komunitarian ketimbang personal, lebih bersifat global ketimbang individual. Beliau menekankan bahwa spirit Islam bukanlah terletak pada rutinitas ritual semata tanpa arti dan makna, bukan tapa atau semedi seperti para budha atau para rahib yang setiap malam bersedih merenungi dosa dan alpanya di depan Tuhan. Spiritualitas bagi Muhammad Zuhri adalah aplikasi dari syareat Islam dan kemudian aktual ditengah-tengah masyarakatnya yang mengejawantah dalam bentuk amal sholeh.

Menurut beliau kehidupan manusia adalah seperti kilatan sinar yang menorehkan cahaya diantara dua samudra kegelapan kehidupan manusia, yaitu masa gelap sebelum manusia lahir dan masa gelap setelah manusia mati. Ini berarti kehidupan manusia itu sangat cepat dan kilat, namun manusia harus mampu meneranginya – walau sekejap – dengan amal shalehnya.  Amal sholeh itu hanya akan bisa dilakukan dan diterapkan oleh manusia jika dia memahami esensi ajaran Islam yang sesungguhnya, di mana ruhnya adalah ikhlas, karena kendaraan amal sholeh seseorang untuk sampai kehadirat Allah adalah ikhlas.

Dalam kesempatan lain, Muhammad Zuhri mengungkapkan tentang spiritualitas Islam yang berhubungan dengan nama-nama Allah, setiap orang berkepentingan terhadap nama Allah yang indah dan mulia yang disebut ” Asmaul Husna ” yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Akan tetapi lebih dari itu, manusia juga dituntut untuk dapat mengetahui nama Allah yang ke seratus, yaitu nama yang bersifat aplikatif ketimbang informatif. Memerankan peran Tuhan dalam medan menejerial Tuhan, itulah yang beliau sebut sebagai nama Allah yang keseratus atau ismul ’azm ( nama Yang Agung ). Seperti yang pernah didapat oleh Nabi Muhammad Saw dan empat sahabatnya. Setiap isi alam semesta dan seluruh ummat manusia adalah menjadi tanggung jawab Allah sepenuhnya, akan tetapi dengan kehadiran hamba-hamba Nya, maka Allah mewakilkan peran Nya kepada setiap hamba Nya, untuk menunjukkan jalan bagi yang tersesat, memberikan ilmu bagi yang bodoh dan memberi makan bagi yang lapar. Jika peran itu telah dilakukan oleh manusia dengan ikhlas, maka dia telah menemukan nama Allah yang keseratus.

Dalam meretas perjalanan spiritual seseorang selanjutnya, Muhammad Zuhri memahami tentang syareat Islam yang telah tersusun dengan rapih dan sistematis yang biasa disebut dengan rukun Islam, tapi beliau menyebutnya dengan istilah Metodologi Proses. Agar manusia dapat menjamah medan oprasi Tuhan di semesta. Di mana syahadah, sholat, puasa, zakat dan ibadah haji adalah sebuah sarana menjangkau mardhotillah. Tingkatan spiritualitas tertinggi bagi manusia adalah ketika kelima ibadah ritual itu dapat difahami dan diterapkan dalam kehidupan manusia bersosialisasi, hidupnya bukan lagi untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh ummat manusia bahkan alam semesta, dia telah membebaskan dirinya dan juga membebaskan orang lain. Dengan metodologi proses, manusia telah mampu menyatukan Tuhan yang Tak Terbatas dengan manusia yang serba terbatas dengan syahadah, kemudian menemukan dirinya sebagai makhluk ruhani dengan sholat, menemukan dirinya sebagai mahluk sosial dengan zakat, menemukan dirinya sebagai makhluk qudrati dengan puasa lalu menemukan dirinya sebagai makhluk cosmos dengan haji, ini adalah puncak tertinggi spiritualitas seorang muslim, dimana dia kembali dari perjalanan haji dengan predikat haji mabrur. Dia harus mampu mengubah prilakunya yang destruktif menjadi konstruktif, dari yang tidak peduli terhadap sesama menjadi sangat peduli, kehadiranya mengatas namakan seluruh ummat manusia, dan ummat manusia ada dalam dirinya sendiri. Dengan demikian wujud spiritualitas tertinggi bagi seorang muslim adalah pribadi dan akhlak mulia seperti juga yang telah dikembangkan dan diajarkan oleh Imam Al Ghazali.

Sekilas pemikiran Muhammad Zuhri tentang spiritualitas Islam diatas, dengan kesempurnaan ajaran dan syareat Islam idealnya mampu membentuk ummat manusia dengan pribadi dan akhlak yang mulia. Maka penulis melihat bahwa pemikiran beliau memiliki relevansi yang sangat kuat terhadap pemikiran Imam Al Ghazali tentang konsep Al Akhlak Al Karimah, yang selalu beliau syiarkan dalam hampir sebahagian besar hidupnya, dengan pendekatan filosofis dan tasawuf. Beliau dengan gencar mengimbau seluruh ummat Islam untuk kembali kepada Al Qur’an dan Al Hadist sebagai dasar hukum Islam yang sebenarnya untuk panduan serta kebahagian hidup didunia dan akherat.

Wahana pembentukan Al akhlak al karimah, adalah lapangan ilmu terpenting bagi Imam Al Ghazali dalam merefleksikan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan banyak berkaitan dengan prilaku manusia, jika ummat manusia memiliki prilaku yang mulia maka akan aman dan damailah alam semesta tapi jika prilaku manusia buruk dan tidak terpuji maka akan rusaklah kehidupan manusia dan sangat dekat dengan kehancuran alam semesta. Maka hampir disetiap kitab-kitab yang dikarang oleh beliau selalu berhubungan erat dengan pelajaran akhlak dan pembentukan budi pekerti yang mulia. Muhammad Zuhri menyebutnya keutuhan ummat manusia akan terjaga, jika setiap manusia memiliki akhlak dan pribadi yang mulia.

Seperti yang telah diungkap dalam bab sebelumnya, bahwa hakekat akhlak bagi Al Ghazali adalah mencakup dua syarat, yaitu perbuatan itu harus konstan yang dilakukan secara kontinu dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan yang baik, kemudian perbuatan yang konstant itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran yang mendalam, yakni bukan karena adanya tekanan-tekanan atau paksaan dari fihak lain atau pengaruh dan bujukan indah lainnya. Menurut Al Ghazali akhlak yang mulia adalah yang sesuai dengan akal pikiran dan syareat ajaran Islam, jika prilaku itu tidak sesuai dengan pertimbangan akal dan syareat Islam maka tentu itu adalah akhlak buruk, sesat dan menyesatkan ummat manusia.

Akhlak mulia yang diajarkan Al Ghazali adalah berkenaan dengan upaya manusia untuk membahagiakan dirinya dan membahagiakan orang lain selama hidup di dunia dan akherat. Maka menurut beliau seorang yang berakhlak mulia adalah yang hatinya bersih dan suci dari selain Allah Swt. Hati yang dipenuhi dengan ma’rifah kepada Allah. Kedua hal inilah yang menurut Al Ghazali sebagai standar prilaku baik dan mulia, atas dasar ini pulalah Allah memuji Nabi Muhammad Saw dengan firman Nya ” …. Dan sesungguhnya bengkau berada di atas budi pekerti yang luhur ” ( QS. Al Kalam : 4 ), selain itu Allah juga berfirman ” ….. Kepada-Nya ucapan-ucapan baik dan amal shaleh itu naik ” ( QS. Al Fathir : 10 ).

Dalam perspektif Al Ghazali berkata baik adalah ma’rifah dan berbuat baik adalah merupakan kesucian hati yang tertinggi sesuai kadar tauhid dan ma’rifahnya. Al Rif’ah ( ketinggian ) adalah hadirnya hati dan keterpengaruhannya oleh tauhid serta ma’rifah yang dimilikinya, sehingga dapat menumbuhkan rasa tunduk, tenang dan haibah yaitu kehebatan yang terpadu dengan rasa takut dalam kondisi syahadah, maka ketika itulah seorang hamba akan merasakan dekat dengan Allah Swt. Dalam pandangan Muhammad Zuhri kondisi ma’rifah adalah tingkatan tertinggi spiritualitas seorang muslim dengan peran barunya yang mewakili seluruh ummat manusia, ketika selesai melaksanakan ibadah haji. Kata-katanya adalah mulia, prilakunya adalah perubahan, kehadiran dirinya adalah pembebasan. Ini adalah kemuliaan akhlak yang selalu dicita-citakan oleh Imam Al Ghazali juga oleh Muhammad Zuhri.

Dengan demikian penulis melihat ada relevansi yang sangat kuat dari konsep Spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri, yang berujung pada satu muara pembentukan pribadi dan akhlak yang mulia dengan melaksanakan syareat dalam rukun Islam, seperti juga konsep Al Akhlak Al Karimah yang dikembangkan oleh Imam Al Ghazali, yaitu prilaku baik yang dilakukan secara kontinu dan berulang sehingga menjadi kebiasaan dengan bimbingan syareat Islam dan akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Kedua pemikiran dari tokoh spiritual Islam yang pernah ada tersebut penulis juga coba untuk melihat relevansinya dan kontribusi positip dari Al Gahazali dan Muhammad Zuhri terhadap sistem pendidikan Islam di Indonesia. Seperti dimaklum bahwa pendidikan Islam di Indonesia adalah sistem pendidikan tertua dibandingkan dengan sistem pendidikan umum, yang dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami banyak perubahan dari aturan undang-undang dan peraturan pemerintah. Sedangkan sistem pendidikan Islam merupakan bagian dari sub sistem pendidikan di Indonesia.

  1. Diakui atau tidak sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami proses perjalan panjang sejarah dengan grafikasi naik turun. Menurut Ahmad Tafsir          ( 2003 ) pendidikan nasional menganut sistem tambal sulam, yaitu membuat skala prioritas berbeda, jika anak didik dianggap tidak terampil, maka kurikulum pendidikan diarahkan pada kompetensi skill, tapi kemudian pemahaman agama dan akhlak tidak terperhatikan. Melihat kondisi tersebut kemudian kurikulum diubah lagi dengan menekankan pada palajaran agama dan akhlak tapi kemudian siswa tidak memiliki ketrampilan, begitu seterusnya.

Hal ini ditambah lagi dengan fenomena kaum pelajar yang sangat meprihatinkan, adanya tawuran masal yang hampir memenuhi berita dan media di Indonesia, pelajar yang terlibat kekeran, narkoba, bahkan pergaulan bebas. Bahakan menurut penelitan Depdiknas RI, hampir 63,5 % siswa pelajar SLTP seluruh indonesia telah melakukan hubungan bebas layaknya suami istri. ( PR, Desember 2008 ). Semua ini adalah potret merah sistem pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu penulis melihat Konsep Spiritualitas Islam Muhammad Zuhri dan Konsep pendidikan al Akhlak Al Karimah Imam Al Ghazali sangat relevan dan memiliki kontribusi yang sangat besar untuk diterapkan dalam  sistem pendidikan Islam di Indonesia. Dimana pembentukan akhlak seorang anak didik harus dilakukan secara rutin, sistematis dan terlembaga. Karena tidak semua orang tua sanggup untuk memberikan perhatian dan pendidikan bagi anak-anaknya, maka lembaga pendidikanlah yang harus mengambil peran itu untuk dapat membimbing dan mengarahkan anak didik pada prilaku dan akhlak yang mulia. Hal ini dilakukan dengan bimbingan syaraet dan ajaran Islam yang agung dan tinggi, juga dengan menggunakan pertimbangan akal pikiran sebagai anugrah terbesar pemberian Tuhan.

Bimbingan syareat dan ajaran Islam inilah yang akan memberikan benteng terhadap anak didik untuk menjadi seperti yang diharapkan oleh agama. Inilah yang dimaksud oleh Muhammad Zuhri sebagai dasar dari spiritualitas Islam. Syareat Islam yang telah tersusun rapih dalam rukun Islam, beliau menyebutnya dengan istilah metodologi proses.

Mengingat tujuan pendidikan adalah mengarahkan dan membimbing hal yang paling sensitif dari peserta didik kearah yang lebih baik, maka menurut hemat penulis, formulasi pendidikan yang memiliki nilai dan makna sangat dibutuhkan untuk bisa memberikan solusi positif untuk pembentukan manusia yang berilmu, bermental dan akhlak mulia.

Melihat fenomena yang sangat mengakhawatirkan dari para anak didik di Indonesia, maka menurut hemat penulis, sistem pendidikan Islam di Indonesia harus kembali lagi kepada dasar ajaran Islam yang sebenarnya, yang prinsip-prinsip dasarnya telah berhasil dirintis oleh Imam Al Ghazali dengan konsep Al Akhlak Al Karimahnya dan medan oprasi dari syareat Islam yang telah berhasil dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dengan konsep spiritualitas Islam. Maka semakin tinggi pangamalan spiritualitas Islam seseorang maka akan semakin membuatnya memiliki prilaku dan akhlak mulia. Inilah idealnya sistem pendidikan Islam di Indonesia, untuk menghasilkan manusia berakhlak karimah dan kemudian menyandang gelar “ Insan Kamil “.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s