Tesis HERI PURNAMA

BAB I

PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah

Agama pada prinsipnya berfungsi menuntun manusia untuk bisa menemukan esensi dirinya, baik sebagai hamba Tuhan atau sebagai makhluk sejarah, agar dalam satu masa kehidupannya yang hanya sebentar dan singkat ini, dia sanggup menempuh dan menerangi dua perjalanan. Pertama perjalanan al-Awwâl, adalah proses dimana manusia mengawali asal interaksinya dengan semesta dan alam sekitarnya, untuk menuju pada perjalanan kedua yaitu al-âkhiru, yaitu suatu bentuk perjalanan menuju mardhâtillah yang berangkat dari proses awal kehidupannya.

Agama adalah sebuah doktrin langit yang hanya diturunkan kepada manusia agar manusia bisa merespons, secara proporsional agama itu ke dalam akal fikirannya, sebab potensi tertinggi yang dimiliki oleh manusia adalah pada akalnya dan potensi ini tidak dimiliki oleh makhluk lain selain manusia. Oleh karena itu, Allah menginginkan manusia untuk kembali ke hadirat-Nya dengan akalnya pula yang kemudian disebut dengan agama, dengan segala bentuk aturan, rambu-rambu dan prilakunya yang khas. Agama inilah yang sejatinya menuntun manusia kepada sebuah perjalanan menuju al-âkhiru dengan meraih mardhâtillah.

Muhammad Zuhri, bukan hanya terampil dalam mengkomunikasikan ide-ide dan pemikiran khasnya yang berangkat dari sebuah perenungan dan kontemplasi yang mendalam, tapi juga beliau terampil dalam menggunakan beragam jenis contoh dan analogi serta kisah pengandaian untuk menyampaikan pesan spiritualnya yang sarat akan konteks kekinian. Beliau bukan saja mampu menampilkan wajah Islam yang sangat menyenangkan dalam setiap untaian-untaian hikmahnya, tapi juga kemampuan dalam mentransformasikan pada setiap pergerakan waktu dan zaman.

Dalam setiap kajian rutin yang penuh dengan nuansa-nuansa sufistik dan makna filosofis, beliau telah memperkenalkan sebuah prinsip-prinsip spiritualitas Islam yang jauh dari kekhawatiran akan stagnasi rutinitas ritual agama, begitu sangat variatif dan manarik, sehingga penulis hampir tidak pernah melewatkan waktu yang sangat berharga untuk mengikuti setiap kajian sufistiknya. Di tengah situasi beragama yang menjenuhkan, tidak menyelesaikan dan cenderung frustatif. Muhammad Zuhri, memperkenalkan tentang wujud beragama sebagai symbol keimanan dengan melayani makhluk Tuhan tanpa henti dengan sebaik-baiknya, sebuah keharusan bagi manusia untuk memerankan peran Tuhan di muka bumi, sehingga wajah Tuhan akan selalu terlihat dalam setiap peristiwa-peristiwa sosial, politik dan budaya tanpa sedikitpun prasangka. Beliau seringkali menekankan agar setiap manusia menjaga kepekaannya dalam menangkap dan menanggapi setiap perintah Tuhan yang tak pernah berhenti diturunkan, lalu akan difahami ternyata Tuhan begitu sangat dekat.

Muhammad Zuhri, diakui atau tidak adalah sebuah referensi penting bagi setiap pemeluk agama khususnya para guru dan pembimbing yang haus akan nilai-nilai spiritual dan kebenaran, setidaknya hal ini akan memperluas pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang spiritualitas. Beliau mengajak untuk mendalami setiap makna ibadah tanpa jeda sesaatpun, menggarap hakekat diri tiada henti, menangkap wajah Allah dalam setiap langkah dan peristiwa lalu menemukan makna kehadiran di semesta yang gulita.

Sebagai seorang yang beriman, setiap manusia harus mempertanggungjawabkan keimanan itu secara rasional dan realistis, keberadaannya harus dapat dirasakan bukan hanya oleh sesama manusia tapi juga semesta, kedalaman ibadah ritual dalam beragama harus mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap amal lalu menemukan esensi agama pada perubahan individu dan sosial. Karena iman bukan hanya berada pada hati untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara parsial dan individual, tapi lebih dari itu, iman harus mengkristal pada kata-kata dan setiap amal perbuatan manusia dan secara langsung memiliki akses yang sempurna kepada semesta. Hal ini seperti yang pernah disinyalir dalam salah satu hadist shahih nabi Saw. ” Iman itu harus ditetapkan dalah hati, di ikrarkan dengan lisan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari ”. ( HR. Bukhori Muslim ).

Dalam konteks beragama pada realitas sosial saat ini, sering kali ditemukan fenomena yang sangat menghkhawatirkan dalam aktifitas keseharian  bersosialisasi, sebut saja secara sederhana isu terorisme yang diarahkan pada sebagian komunitas Islam dengan atas nama Tuhan dan agama, peristiwa pengrusakan dan teror terhadap salah satu ajaran agama yang dianggap sesat seperti aliran Ahmadiyah Qodiyan pun terjadi atas nama Tuhan dan agama, tawuran antar pelajar yang terkadang mengorbankan harta dan jiwa pun sering mengatasnamakan kebenaran dan agama, al hasil  setiap pergeseran moral dan akhlak di justufikasi sebagai perintah Tuhan dalam agama. Belum lagi kita dihadapkan oleh perbedaan sikap beberapa ormas yang mengatas namakan ormas agama dalam menentukan event-event penting ritual agama, seperti penentuan bulan ramadhan dan ’idul fitri, ini pun mengatasnamakan Tuhan dan agama. Menurut hemat penulis, situasi di atas adalah sebuah fenomena ummat Islam yang belum mengerti tentang prinsip-prinsip spiritualitas Islam, fungsinya sebagai Hamba Tuhan dan makhluk sejarah yang  bertugas mengukir peradaban dengan tinta emas.

Dalam perspektif filosofi dan sufistik Muhammad Zuhri, keterlibatan seseorang kepada masyarakat sosial dan semesta haruslah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, integreted dan komprehensif, kehadiran ummat Islam dalam aksi-aksi sosial idealnya adalah sebagai makhluk universal, tidak menimbulkan gejolak dan reaksi yang berlebihan apa lagi anarkisme atau fanatisme. ( Muhammad Zuhri, 2007 : 53 ).  Lantunan-lantunan hikmah dan qosidah cinta yang ditawarkannya telah memberikan air kesejukan ditengah dahaga yang menyesakkan dada, ibadah ritual yang mendalam kepada Tuhan ditransformasikannya lewat pengabdian kepada sesama dan semesta setiap saat, karena kesadaran diri akan seorang hamba Tuhan, akan menyadarkan manusia untuk melihat orang lain pun sebagai hamba Tuhan yang sedang mengabdi kepadaNya. Dengan demikian akan ada satu kesepahaman yang menganggapnya sebagai saudara yang harus di jaga dan diindungi.

Pada dasarnya dalam perspektif filosofi Islam, ummat Islam tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dihadapan Tuhan, akan tetapi juga bertanggungjawab terhadap realitas sosial di luar dirinya, yaitu semesta. Antara manusia dan semesta adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan peran dan keberadaannya, singkatnya tak ada peran manusia tanpa semesta dan tak jelas peran semesta tanpa subyek manusia didalamnya. Dalam sebuah puisi singkat Muhamad Zuhri sempat mengungkap tentang keduannya, ( Muhammad Zuhri, 2005 : 2 )

Bermilyar tahun

Semesta dalam keadaan tak sadar akan dirinya

Dan ketika ia sadar akan dirinya

Manusialah wujudnya.

Dalam kontek yang sama dalam salah satu kesempatan Hasan Langgulung ( 1986 : 5 ) sempat menyebutkan bahwa ” Tuhan memberi manusia itu beberapa potensi atau kebolehan sesuai dengan sifat-sifat Tuhan yang termaktub dalam al Qur’an yaitu ” Asmaul Husna ”. Dengan demikian setiap manusia memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjadi wakil Tuhan dan memainkan peran Tuhan di muka bumi, kerana potensinya telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya seperti yang di inginkan Tuhan tidaklah mudah, hal ini akan sangat bergantung pada kesungguh-sungguhan dan kepekaan manusia terhadap setiap isyarat dan ayat-ayat Tuhan yang diberikan kepadanya.

Peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat pada akhir-akhir ini sangatlah memprihatinkan. Karena kecenderungan merosotnya moral bangsa hampir terasa di semua strata kehidupan masyarakat. Akibatnya muncul krisis moral yang kemudian dikuti dengan menyuburnya pola hidup masyarakat yang konsumtif, materialistis, hedonis dan lain sebagainya. Hal-hal inilah yang menyebabkan tersingkirnya rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial.

Melihat situasi diatas, Untuk sekedar memperkaya referensi serta mendukung seni berpikirnya Muhammad Zuhri tentang spiritualitas Islam, setidaknya pada pertengahan tahun 2000 dunia psikologi dikejutkan dengan adanya penemuan baru yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall tentang kecerdasan manusia yang berhubungan dengan spiritual. Yang dikenal dengan sebutan Spiritual Quation. Kecerdasan Spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dalam kehidupan.

Danah Zohar dan Ian Marsal mengikut sertakan aspek konteks nilai sebagai suatu bagian dari proses berpikir atau kecerdasan dalam hidup yang bermakna, untuk ini mereka mempergunakan istilah kecerdasan spiritual yang disebutkannya sebagai puncak kecerdasan (the ultimate intellegence). Kecerdasan spiritual yang memberi kemampuan pada manusia untuk memecahkan masalah dalam konteks nilai penuh makna. Kecerdasan spiritual memberi kemampuan menemukan langkah yang lebih bermakna dan bernilai diantara langkah-langkah yang lain. Dengan demikian kecerdasan spiritual  merupakan landasan yang sangat penting sehingga kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dapat berfungsi secara efektif. Kecerdasan spiritual lebih merupakan suatu konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai kualitas kehidupan spiritualnya. Dengan kecerdasan ini pulalah yang akan membuat manusia mampu menangkap setiap pesan moral yang disampaikan oleh Tuhan dalam setiap saat dan peristiwa.

Kehidupan spiritual meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari makna hidup (the meaning of life) dan mengidamkan hidup bermakna. (Abdul Mujib, 2002 : 325).

Danah Zohar menyebutkan tanda-tanda seseorang yang memiliki kapasitas kecerdasan spiritual yang berkembang sebagai berikut : kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif), tingkat kesadaran diri yang tinggi, kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit, kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. kualitas hidup yang dilhami oleh visi dan nilai-nilai, mempunyai kecenderungan untuk melihat sesuatu secara holistik, keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” dan “Bagaimana?” untuk mencari jawaban yang mendasar, dan menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai “bidang mandiri”  field independent.

Perlu diingat pula bahwa manusia pun adalah makhluk sosial yang hidup saling berdampingan dan membutuhkan bantuan orang lain. Tempat dimana manusia saling melakukan aktivitas sosial adalah lingkungan. Didalam lingkungannya, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri agar dapat melangsungkan kehidupannya bersama orang lain. Orang yang tidak dapat menyesuaikan diri di lingkungannya akan mengalami kesulitan hidup dan tidak memiliki arti dalam hidupnya.

  1. Untuk mencapai manusia dengan kapasitas spiritual yang handal tidaklah semudah  membalikkan telapak tangan, karena harus tertanam rasa keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan. Keimanan itu terwujud dalam unsur ke Tuhanan             ( Rabbaniyah ). Penjelmaan unsur-unsur ke Tuhanan itu terwujud didalam diri manusia dalam bentuk sifat-sifat kemalaikatannya, namun jika saja unsur-unsur kemalaikatan itu terabaikan, maka manusia akan lebih dekat pada unsur nafsu yang berafiliasi dengan syetan atau iblis.

Kedekatan manusia dengan unsur syetan, akan membuat manusia jauh dari Tuhannya, dan secara otomatis akan membuatnya memiliki pribadi dan akhlak yang buruk. Iman Al Ghazali seperti yang di kutip oleh Hasan Langgulung, sempat mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :

  1. Manusia itu terletak antara hewan yang rendah dan malaikat, sebab ia memiliki sifat-sifat asal dari keduannya, semakin banyak orang mengabaikan sifat dari kemalaikatannya, maka semakin dekat dia dengan pangkat hewan yang rendah dan syetan. Tentang ini ada ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskannya. Semakin banyak ia mengembangkannya maka ia akan semakin menyerupai malaikat, sedangkan untuk menyerupai malaikat, akan menjadikannya dekat dengan Tuhan dan itulah sebenarnya tujuan utama dari moral spiritual ;
  2. Prinsip-prinsip baik dan buruk adalah potensi-potensi yang wujud pada struktur dan konstitusi manusia. Tiada seorangpun dapat bebas dari dosa walaupun ia seorang wali. Bebas dari dosa hanya mungkin berlaku pada malaikat sebab mereka tidak memiliki nafsu dan amarah.

Pemaknaan proses hidup sebagaimana yang diungkapkan Al Ghazali di atas, dapat diwujudkan dengan ditopang oleh kebulatan iman. Dengan kebulatan iman manusia akan dapat mengokohkan kehidupan batin, dapat mengembangkan perasaan moral, susila dan akhlak, dapat membangun mental dan spiritual yang stabil, dapat menyuburkan rasa keadilan dan perasaan. ( Zainudin, 1991 : 101 ).

Spiritualitas dan kecerdasan spiritual adalah dua hal yang sinergis, karena hanya bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual lah yang mampu menangkap dan merealisasikan prinsip-prinsip spiritualitas agama untuk diarahkan pada satu pembinaan pribadi-pribadi yang mulia. Menempatkan potensi kecerdasan spiritual untuk merealisasikan prinsip-prinsip spiritual dalam beragama dan bersosialisasi adalah sangat mutlak untuk tercapainya tujuan yang diharapkan secara komprehensif dan integral. Berdasarkan beberapa latar belakang masalah diataslah yang membuat penulis tertarik untuk meneliti permasalahan yang berkenaan dengan spiritualisme Islam dengan menampilkan dua tokoh spiritual yang pernah ada, yaitu Muhammad Zuhri dengan ciri khas pemikiran spiritualnya, kemudian penulis akan mencoba untuk melihat relevansi pemikirannya dengan pemikiran Imam Al Ghazali yang berhubungan dengan pembinaan Al Akhlak al Karimah.

Imam Al Ghazali adalah tokoh Spiritual Islam kontemporer yang hidup pada abad 11/12 M, sedangkan Muhammad Zuhri adalah salah seorang tokoh Spiritual Islam dengan konteks kekinian yang masih hidup sampai sekarang sehingga akan sedikit memudahkan bagi penulis untuk mengobservasi dan mewawancarainya.

Pengakuan masyarakat Islam terhadap Imam al Ghazali secara eksplisit harus diakui sangatlah istimewa, beliau telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan khazanah ilmu-ilmu keislaman dengan karya-karya monementalnya, terutama tentang spiritual dan pembinaan akhlak, yang hingga sekarang masih sering dikaji secara turun temurun dilembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam, namun demikian ada sebersit pertanyaan yang mendasar, apakah jasa besar Imam Al Ghazali abad ke 12 itu masih relevan dengan situasi dan realitas sosial sekarang dimana perkembangan hidup dan kehidupan baik sosial, budaya dan agama yang berbeda bahkan cenderung semakin kompleks.

  1. Dalam salah satu keterangan singkatnya beliau mengatakan kajian ulang tentang pemikiran Imam Al Ghazali sebenarnya sudah mulai bermunculan, namun jarang sekali yang bersifat kritis lantaran pisau analisis yang tumpul ditambah lagi dengan relevansi pemikiran dengan realitas sosial yang berbeda. (  1995 : 129 ). Oleh sebab itulah dalam tulisan tesis kali ini, penulis akan mengkaji pemikiran Imam Al Ghazali dibandingkan dengan pemikiran seorang tokoh spiritual lain yaitu Muhammad Zuhri.

Dalam konteks kajian kali ini penulis mencoba untuk mengkaji pemikiran kedua tokoh Spiritual Islam itu melalui kajian untuk menjelaskan dan membandingkan pemikiran kedua tokoh tersebut, khususnya tentang spiritualitas Islam dan Al Akhlak Al Karimah yang berkaitan dengan kontek kekinian, kemudian penulis akan melihat adakah relevansinya konsep spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dan konsep Al Akhlak Al Karimah Imam Al Ghazali, sejauh mana relevansi pemikiran keduannya dengan sistem pendidikan Islam di Indonesia.

B.        Identifikasi Masalah

Berdasarkan pemikiran diatas penulis mencoba untuk mengidentifikasi masalah yang berkenaan dengan persoalan tersebut.

  1. Konsep spiritualitas Islam dalam pandangan Muhammad Zuhri yang nampak lebih berorientasi pada tatanan horizontal ketimbang vertikal dalam bentuk pengabdian kepada sesama.
  2. Konsep Al Akhlak al Karimah dalam pandangan Imam al Ghazali dengan metode tazkiatun nafsi dan pembiasaan untuk berprilaku baik.
  3. Riwayat hidup dan perjalanan spiritual Muhammad Zuhri
  4. Riwayat hidup dan perjalanan spiritual Imam Al Ghazali
    1. Relevansi konsep spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dan pemikiran Imam Al Ghazali tentang  Al Akhlak Al Karimah dengan  sistem pendidikan Islam di Indonesia. Dengan demikian akan dapat dilihat konsep keduannya yang memiliki kelebihan dan kekurangan jika dikaitkan dengan sistem pendidikan Islam di Indonesia.

B.        Rumusan Masalah

Beradasarkan   identifikasi masalah diatas, dapat dirumuskan beberapa pertannyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah konsep spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dan konsep Al Akhlak Al Karimah yang dikembangkan oleh Imam Al Ghazali ?
  2. Dimanakah letak perbedaan dan persamaan pemikiran kedua tokoh tersebut, tentang konsep Spiritualitas Islam dan konsep Al Akhlak Al Karimah.
  3. Mana yang lebih relevan konsep spiritualitas Islam yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri dan konsep al Akhlak al Karimah Imam Al Ghazali dengan realitas sistem pendidikan Islam di Indonesia pada masa sekarang ?

C.        Tujuan Penelitian

Tujuan adalah sesuatu yang sangat diharapkan untuk dapat direalisasikan dan dirasakan baik secara langsung ataupun tidak langsung, tentu saja dengan beberapa   langkah   dan   strategi  yang dilakukan. Untuk itu tujuan penulis dalam

penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memperoleh gambaran yang komprehenship mengenai pemikiran-pemikiran Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali tentang prinsip-prinsip Spiritualitas Islam dan proses pembinaan Akhlakul karimah. Secara rinci dapat disebutkan dalam tulisan tesis ini.

Menggambarkan  ( Muhammad Zuhri, 2007 : 53 ).

  1. Menggambarkan pemikiran  Muhammad Zuhri tentang spiritualitas Islam dan konsep Al Akhlak Al Karimah Imam Al Ghazali
  2. Menjelaskan perbedaan dan persamaan pemikiran Imam Al Ghazali tentang Al Akhlak Al Karimah dengan konsep Spiritualitas Islam Imam Al Ghazali.
  3. Menjelaskan relevansi pemikiran yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri tentang spiritual Islam dengan pemikiran Imam Al Ghazali tentang pembinaan al Akhlak al Karimah dikaitkan dengan sistem pendidikan Islam di Indonesia.

D.        Manfaat Penelitian

1.         Manfaat Teoritis

  1. Secara konseptual hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pengembangan prinsip-prinsip Bimbingan dan konseling yang didasarkan pada pemikiran Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali tentang sebuah formulasi nilai-nilai dan prinsip spiritualisme Islam dalam upaya mengembangkan pribadi-pribadi yang mulia. Di samping itu, hasil penelitian inipun diharapkan dapat merumuskan   sebuah   formula  konsep spritualitas Islam

dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia yang searah dengan Al Qur’an dan Al Hadist dengan satu pemahaman yang fariatif dan menarik dari kombinasi pemikiran dua tokoh Islam yaitu Muhammad Zuhri dan Imam al Ghazali, hal ini diharapkan dapat dijadikan satu landasan oprasional bagi para guru terutama para pembimbing dan Konseling dalam melaksanakan pembinaan anak didik sebagai bagian dari komunitas manusia agar menjadi manusia yang memiliki pribadi, akhlak dan mental yang mulia. Berkwalitas ilmu, iman dan amal.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini sangat diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berarti kearah pemahaman akan esensi dari nilai-nilai ke Islaman dan semangat beragama yang sangat mengedepankan pengabdian kepada sesama tanpa jeda, sebagai symbol dari peribadatan kepada Tuhan, disamping itu pula diharapkan hasil penelitian ini akan ikut membantu bagi pengembangan proses Bimbingan dan Konseling  di setiap institusi pendidikan yang secara langsung berkaitan dengan proses pembinaan bagi pribadi yang mulia.

Sebagai bahan renungan secara rinci, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi khalayak dan berbagai pihak yang berminat dan berkesesuaian, yaitu :

  1. Sebagai sebuah bahan pemikiran dan bahan renungan bagi para guru dan para pembimbing yang berperan untuk selalu memberikan bimbingan dan layanan kepada ummat manusia khususnya anak didiknya, sehingga setiap program yang diberikannya akan sampai pada esensi kemanusiaanya, yaitu mewujudkan manusia-manusia mulia yang beriman dan bertaqwa serta mengkristal dalam setiap aksi-aksi sosialnya ditengah-tengah masyarakatnya, berdasarkan prinsip-prinsip spiritualitas Islam.
  2. Memberikan umpan balik  ( Feed back ) serta Brain Storming ( Curah pendapat ) bagi para guru/dosen pembimbing dalam merumuskan skala prioritas program bimbingan dan pendidikan yang dilaksanakan dalam upaya membantu peserta didik dalam mewujudkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia dengan semangat spiritualitas Islam dalam perspektif Muhammad Zuhri dan Imam al Ghazali.
  3. Memberikan satu pemahaman dan konsep yang faktual, variatif dan solutif tentang prinsip-prinsip spiritualitas Islam yang menjadi dasar bagi setiap langkah individu terutama para guru dan pembimbing, dalam mengambangkan formula yang tepat mengenai langkah-langkah bimbingan yang komprehensip dan integral serta terfokus pada pencapaian pribadi-pribadi yang mulia, dalam perspektif Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali.

F.         Kerangka Pemikiran

Secara spesifik kerangka berpikir yang penulis lakukan dalam penulisan tesis ini adalah tentang pemikiran Muhammad Zuhri dan Imam al Ghazali yang berangkat dari cara pandang dan hasil perenungan serta pengkajian sepanjang zaman yang telah dilakukan dan dikristalkan oleh keduannya, didalam merealisasikan dan mewujudkan sebuah cita-cita mulia Islam sebagai hikmah dan rahmatan lil alamiin. Oleh karena itu yang dimaksud dengan pemikiran Muhammad Zuhri dalam penelitian ini adalah Pandangan beliau tentang prinsip-prinsip spiritualitas Islam yang memiliki formula paripurna dan komprehensip, relevansinya dengan pemikiran Imam al Ghazali tentang pembinaan al Akhlak al Karimah. Hal ini akan sangat berhubungan dengan peran dan strategi para guru dan pembimbing dalam menunjukkan keteladanan, pembiasaan, nasehat dan perhatian kepada anak didiknya.

Studi tokoh dalam penelitian ini adalah, penulis mencoba untuk menelaah dan mengkaji tentang konsep dan pemikiran yang dikembangkan oleh Muhammad Zuhri, sebagai seorang tokoh spiritual Islam yang mungkin namanya tidak mendunia seperti Imam Al Ghazali, kemudian pemikiran Muhamad Zuhri ini penulis coba melihat relevansinya dengan pemikiran Imam Al Ghazali tentang pembinaan al Akhlak al Karimah. Hal ini dilakukan dengan satu anggapan bahwa konsep dan pemikiran yang berhasil dikembangkan oleh Muhammad Zuhri merupakan sebuah konsep spiritual yang selalu bersentuhan langsung dengan prilaku dan akhlak sesama manusia dalam bersosialisasi di tengah-tengah lingkungan kehidupannya. Dia mengorientasikan spiritualitas Islam dengan dominasi pada tatanan horizontal bukan pada tatanan vertikal, sehingga penulis melihat perlu dibuat relevansinnya dengan pemikiran Imam Al Ghazali tentang pembinaan al akhlak al Karimah.

Al akhlak al Karimah yang dimaksud dalam penelitian ini sebagai syimbol dari pribadi-pribadi adalah merupakan perspektif sufistik dan filosofis Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali dalam memandang sikap dan prilaku manusia yang sejatinya memiliki kecenderungan kepada nilai-nilai kebenaran dan kemuliaan, jika kecenderungan ini tidak dipelihara dan dioptimalkan maka ada kemungkinan bagi manusia itu untuk jauh dari kemanfaatannya bagi manusia lain, jauh dari kebenaran dan kemuliaan bahkan jauh dari pandangan Tuhan yang damai dan menyejukkan. Manusia di lihat sebagai sosok wakil Tuhan di muka bumi yang memerankan menegerial Tuhan dan di tuntut untuk selalu peka terhadap setiap perintah-Nya yang akan datang setiap saat. Tuhan sudah memandatkan perannya kepada manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dimuliakan untuk memfungsikan dirinya bagi kemaslahatan manusia yang lain, singkatnya Tuhan telah menurunkan orang kaya untuk yang miskin, menurunkan orang yang benar untuk meluruskan orang yang tersesat, menurunkan orang kuat atau penguasa untuk menolong yang lemah, menurunkan orang yang cerdas dan pintar untuk  memberikan dan mengajarkan ilmunya untuk mereka yang bodoh. Maka dengan demikian manusia itu telah memerankan peran Tuhan yang di amanatkan kepadanya. Inilah yang menjadi dasar dari pengertian akhlak dan pribadi yang mulia.

Hubungan Spiritualitas dengan Pembinaan Al Akhlak al Karimah adalah dimana proses pembinaan akhlak dan pribadi-pribadi yang mulia harus didasari oleh pemahaman yang komprehensip dan integral tentang spiritualitas Islam, semangat keberagamaan dan pengabdian sepanjang zaman didalam memanusiakan manusia, dalam pandangan  Ahmad Tafsir ( 2007 ) disebut “ Sense Of Esensition Human Being “ ( Orientasi pendidikan dan pembinaan adalah memanusiakan manusia sebagai esensi dari kemanusiaan ). Dari sini diharapkan disamping pemahaman yang lengkap terhadap spiritualitas Islam, dapat juga terbina insan-insan mulia yang menyentuh esensi kemanusiaanya sebagai hamba Tuhan yang universal.

G.        Metode Penelitian

Penelitian ini penulis mencoba menggunakan metode penelitian Deskriptif, yaitu suatu bentuk metode penelitian yang berusaha menggambarkan obyek atau subyek yang diteliti secara realistis dan apa adanya, dengan tujuan agar tergambar secara sistematis fakta dan karakteristik obyek yang sedang diteliti secara tepat dan akurat. Metode ini digunakan dengan satu alas an bahwa metode ini akan sangat membantu penulis dalam mendapatkan variasi permasaslahan yang berkaitan dengan pendidikan dan tingkah laku manusia disamping metode ini bentuk sederhana dan mudah di fahami dengan tanpa memerlukan tekhnik analisis statistic yang kompleks. ( Sukardi, 2005 : 163 )

  1. Disamping itu penulis juga menggunakan metode studi pustaka. Adapun alasan yang paling mendasar digunakannya metode ini adalah memudahkan penulis untuk melakukan penelitian dan penelaahan yang mendalam dan mendasar di dalam mengungkap setiap konsep yang telah di lahirkan oleh ke dua tokoh spiritual yang akan dikaji dalam penellitian ini, yaitu Muhammad Zuhri dan Imam Al Ghazali. Secara sistematis alasan digunakannya metode ini adalah, (1) Penelitian ini adalah mencoba untuk menelaah konsep-konsep yang berkenaan dengan hasil pemikiran, perenungan dan kajian para pemikir Islam yang tertuang didalam kitab atau buku-buku yang telah diterbitkan dan menjadi konsumsi public, ( 2 ) Metode Studi Pustaka ini juga adalah mencoba memahami konsep-konsep dari buah pemikiran para tokoh terutama tokoh yang sedang dikaji melalui interpretasi, baik yang didapat melalui tulisan, wawancara atau observasi terhadap tokoh yang sedang dikaji, ( 3 ) Metode Study pustaka juga merupakan metode penelitian yang menempatkan konsep teks-teks sebagai sentralnya. Teks-teks yang ada di perlakukan sebagai sesuatu yang mandiri , dilepaskan dari pengarangnya, waktu penciptaannya, dan konteks kebudayaan pengarang maupun kebudayaan yang berkembang dalam ruang dan waktu saat teks itu dilahirkan, ketika akan menelaah teks secara mendalam maka akan diketahui makna apa yang akan disampaikan itu baik berupa ajaran, pesan, pengalaman atau peristiwa yang bisa diambil oleh seorang peneliti sehingga mendapat membuat satu kesimpulan.          ( Sukardi, 2003 : 39  ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s