“Humanitãt”

Humanitãt”

Sebuah Refleksi Pemikiran

 

Oleh :

Heri Purnama

Persoalan kemanusiaan         yang paling urgensi dewasa ini setidaknya adalah keberanian untuk mengungkapkan nilai – nilai identitas dan karakter kemanusiaan, seolah nilai ini terbungkam oleh sebarek aturan yang mengikat dan menuntut untuk ditaati, tatanan social yang kemudian menggiring komunitas manusia pada muara stagnasi dan degradasi moral yang akut. Diakui atau tidak kita sering terjebak pada persoalan boleh atau tidak, benar atau salah, halal atau haram, seolah tidak ada sedikitpun peluang untuk manusia melakukan eksplorasi dan melihat kemungkinan lainya yang lebih manusiawi

Potensi terbesar yang dimiliki oleh manusia adalah akal pikiran , ini adalah kekuatan terbesar untuk mengantarkan manusia pada identitas dan karakter kemanusiaanya. Akal pikiran ini harus berada pada proporsi yang benar untuk menemukan hakikat kebenaran, yaitu kebebasan tanpa hambatan yang menghalanginya untuk melanglangbuana, menembus kemungkinan kehidupan yang multidimensional. Hakikat kebenaran sangat membuka dirinya untuk ditembus oleh manusia, akan tetapi karena hakekat kebenaran memiliki lapisansesuai dengan eksistensinya, maka manusia tidak boleh berhenti disatu kebenaran, melainkan dia harus terus bekerja keras untuk menemukan kebenaran kedua, ketiga, keempat hampai habis energinya.

Masalah utama dalam system pendidikan kita hari inipun adalah tidak meletakan manusia sebagai sesosok pemikir dan penemu – penemu baru, yang mampu mengekplorasi akal pikiranya untuk menemukan lahan kehidupan yang proposional. System pendidikan kita terlanjur meletakan warga didiknya sebagai pekerja – pekerja dan populasi orang yang sibuk mencari pekerjaan yang hanya tersisa sedikit sekali. Al-hasil satu pekerjaan diperebutkan oleh ribuan bahkan jutaan manusia, hal yang menyayangkan adalah mereka produk dari sebuah lembaga pendidikan

Lantas pertanyaanya adalah, apakah lembaga pendidikan kita mampu melahirkan para mujtahid, mujadid dan pemikir-pemikir handal, jawabanya tentu sangat bisa. Bukankah beberapa abad yang lalu baik di era klasik dan abad pertengahan dimana filsafat ilmu masih minim, mereka telah mampu melahirkan para mujtahid dan pemikir handal dengan kelas global. Jika kita jujur meninjau system pendidikan mereka adalah dengan menekankan pada system dialog dan diskusi, bahkan kadang meningkat jadi sebuah perdebatan yang panjang. Tidak hanya menekankan pada system hapalan dan penerapan aturan yang ketat dan sangat mengikat sehingga membunuh karakter berfikir dan dialog.

Dalam sejarah kita melihat perdebatan yang panjang antara Washil bin Atha dengan gurunya Hasal Al Basri ternyata telah berhasil melahirkan madzhab Mu’tazilah, begitu juga perdebatan antara Imam Al Asy’ary dengan gurunya Al Jubai di pesantren Basrah juga telah berhasil melahirkan  Ahlu Sunah Wal Jama’ah dan masih banyak mazhab lainya yang dihasilkan dalam sebuah dialog dan perdebatan.

Maka kini kelompok diskusi “Humanitãt” mencoba menempatkan diri di garda terdepan untuk menemukan makna identitas dan karakter kemanusiaan dalam wacana, dialog dan diskusi yang secara bebas mengeksplorasi pikiran bagi sebuah nilai dan hakikat kebenaran. Maka selamat datang di “Humanitãt”

Semoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s