Benang Merah Filsafat vs Agama

DASAR PEMIKIRAN
Manusia terlahir seperti berada dalam zona yang tidak nyaman penuh dengan persoalan hidup yang serba membutuhkan pertolongan dari yang berada diluar batas kemampuan manusia dalam mengatasai persoalan perjalanan hidupnya. Manusia mencari pengharapannya yang lebih tinggi yang dianggap mampu memecahkan persoalan hidupnya untuk dijadikan kepercayaanya sebagai penopang perjalannan hidupnya. Kepercayaan kepada sesuatu yang berada diluar batas kemampuan manusia itu menjadi sesuatu yang alamiah yang dirasakan perlu oleh manusia sebagai landasan terpenting manusia dalam bergerak, berjuang dalam mempertahankan kehidupanya. Akan tetapi yang menjadi persoalanya siapa yang harus kita percayai dan bagaimana manusia untuk bisa mempercayainya. Dan Kepercayaan ini pun tidak hanya sebatas percaya terhadap sesuatu itu akan tetapi perlu dengan keyakinan yang kuat sehingga diperlukan adanya keyakinan yang benar dan kebenaran yang yakin. Dalam proses pencarian keyakinan serta kebenaran itu memiliki cara kerja dan tehniknya tersendiri, keyakinan selalu bertumpu pada hati sementara kebenaran bertumpu pada akal. Akal ini cara kerjanya atau aktivitasnya adalah berpikir sebagai identitas aslinya sehingga dari aktifitas berfikirnya inilah manusia berfilsafat berbeda dengan hati kalau hati itu titik tolaknya dari rasa yang mana rasa itu timbul dari suara asli hati nurani yang bersih yang dikatakan ari ginanjar itu sebagai suara Tuhan, dalam konteks ini adalah (Wahyu) dan sebagai wujudnya dari wahyu itu adalah agama dan sebagai aktifitasnya adalah pengalaman. Jadi kedua landasan antara filsafat dan agama ini mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang, filsafat cenderung kepada akalnya dan agama cenderung kepada wahyu. Filsafat membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur apakah sesuatu itu logis atau tidak, sementara agama menilai sesuatu tidak selalu melihat kebenaran dari sisi logis atau tidaknya karena agama itu terkadang tidak selalu memperhatikan aspek logikanya. Dari perbedaan tersebut menimbulkan konflik antara orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang agamis, Sehingga ini perlu untuk dikaji oleh kita bagaimana ditarik benang merahnya antara filsafat dan agama.

PERMASALAHAN :
Dari perbedaan titik tolak landasan filsafat dan agama ini memunculkan reaksi para filosof dan agamis mendikotomikan antara filsafat dan agama. Sehingga ada yang beranggapan bahwa :
1. Agama itu dipandang lebih tinggi derajatnya dari filsafat karena agama itu sandaranya wahyu dimana ini sebagai titik tolak kebenaran absolute berbeda dengan filsafat yang penilaianya hanya melalui akal dan ini bisa benar dan bisa salah artinya kebenaranya bersifat relative. Sehingga anggapan yang pertama ini memandang agama sebagai keyakinanya sebuah kebenaran
2. Filsafat dipandang memiliki peranan jauh lebih penting dibandingkan dengan agama dalam proses penilaianya terhadap sesuatu karena sifatnya objektif universal berbeda dengan agama terkadang tanpa disadari bahwa agama pada satu sisi dalam penilaianya memang ditandai dengan unsure unsure yang bersifatnya memihak kepada keyakinanya sendiri dan tanpa ada sifat memihak itu, agama terasa kurang maknanya. Sehingga pandangan yang kedua ini beranggapan bahwa filsafat sebagai kebenaran sebuah keyakinan.
3. Kemunculan filsafat itu melalui produksi manusia sehingga kebenaran yang dihasilkannyapun tidak perlu diyakini karena sifatnyapun dari relatifitas manusia. Berbeda dengan agama dalam hal ini agama wahyu yang memang kemunculanya langsung dari sang pencipta manusia. Sehingga walaupun kita terkadang tidak tau kebenaranya yang terpenting kita bisa meyakininya. Jadi pandangan yang ketiga ini beranggapan bahwa keyakinan tak harus benar begitupun sebaliknya benarnyapun tak harus kita yakini.
4. Agama adalah bagian dari filsafat dan filsafat adalah bagian dari agama. Titik tolak penilaian agama adalah bagian terpenting sebagai pendorong untuk berfilsafat begitupun sebaliknya filsafat sebagai penunjang keyakinan untuk beragama. Jadi pandangan yang ke empat ini beranggapan bahwa kebenaran akan keyakinannya dan keyakinan akan kebenaranya.

PEMBAHASAN
OBJEK FILSAFAT AGAMA
Pada dasarnya agama selalu berinteraksi dengan kehidupan sehari hari jadi bukanlah sesuatu yang asing yang terlepas dari kehidupan kita dan kita selalu menilai segala sesuatu dalam kehidupan kita itu salah satunya melalui agama. Maka dari itu objek telaahan agama sangatlah luas yang menyangkut dengan keidupan manusia, Alam semesta dan Tuhanya. Sama halnya dengan filsafat karena segala suatu yang mungkin dapat kita fikirkan bisa menjadi objek filsafat bila selalu mempertanyakan, dipikirkan secara mendalam radikal guna mencapai penilaian yang benar sehingga objek filsafatpun sangalah luas. Secara garis besar objek telaahan agama dan filsafat sangatlah luas mencakup segala aspek kehidupan. Menurut endang saiful ansyari (1981) objek material filsafat itu diantaranya hakikat Tuhan (Transenden), hakikat manuisa dan hakikat alam semesta (Imanen). Dari ketiga objek ini bisa bercabang misalnya dari alam semesta kosmologi melahirkan ilmu fisika, astronomi, geologi, kimia, biologi dll. Dari objek manusia melahirkan ilmu antropologi, sosiologi, logika, etika, bahasa dll. Dari objek tuhan melahirkan ilmu Metafisika, teologi, ilmu kalam dll. Tetapi secara sistematika filsafat terdapat bidang bidang kajian objeknya antara lain adalah bagaimana kita bisa mengetahui segala sesuatu (EPISTEMOLOGI) keadaan yang ada atau mungkina ada (ONTOLOGI) agar kita bisa memahami nilai dari apa yang kita pahami (AXIOLOGIS)
bagaimana kita bisa mengetahui segala sesuatu ?
Pertama, Pada dasarnya pengetahuan yang diperoleh manusia itu hasil dari pengingatan kembali yang telah diperoleh sebelumnya oleh ruh, jiwa atau dalam bahasa plato itu Alam Idea. Proses pengingatan kembali ini dilakukan oleh manusia dengan meginderai realitas materi sebagai wujud dari refleksi realitas alam ide yang sudah ada sebelumnya. Dalam kitab suci Islam pun diterangkan bahwa sebelum lahirnya ke alam materi atau dunia, manusia sudah memiliki pengetahuan tentang siapa dirinya dan siapa Tuhanya dan itu menandakan bahwa manusia sudah memiliki kemampuan pengetahuan bahkan menurut plato manusia tidak pernah tidak mengetahui terhadap segala sesuatu akan tetapi ketika terlahir ke alam materi hanya saja jiwa manusia memiliki keterbatasan mengalami kelupaan terhadap beberapa pengetahuan akibat ketidaksempurnaanya materi. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa manusia dapat mengetahui segala sesuatu. Jadi melalui potensi pengetahuan yang sudah tercatat sebelumnya manusia dapat mengingat kembali seandainya saja kita dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir kita dan tidak melupakan catatan dari hasil pengetahuan kita sebelumnya maka dikemudian hari kita bisa membuka lembaran itu berpikir mengingat kembali arah jalan kita untuk bisa menentukan jalan yang terbaik. Jadi menurut pendapat doktrin ini bahwa Sebuah pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran, ketikan pengetahuan tersebut dapat diproses kembali berdasarkan objek realitas dengan menggali kembali nilai fitrahwi pengetahuan yang dimiliki manusia.
Kedua, cerita tarzan manusia yang hidup dihutan dari sejak bayi, ketika sudah menginjak dewasa tarzan mempertanyakan keberadaan siapakah ibunya karena selama masa kecilnya berada dalam pangkuan hewan maka tarzan menyangka bahwa ibunya adalah hewan itu. Tetapi karena tarzan selalu memperhatikan dan berulang kali observasi melihat hewan saat melahirkan yang keluar itu bukan seperti tarzan, akhirnya Tarzan pun berasumsi bahwa aku bukanlah anak hewan. Begitupun anda yang tidak menyangka bahwa anda itu adalah anaknya dari seorang ibu karena anda pada saat dilahirkan tidak bisa menyaksikan bagaimana caranya seorang ibu melahirkan anda coba bayangkan saja kalau anda sadar pada saat anda dilahirkan apa yang terjadi… tetapi kenapa anda bisa mengetahui bahwa anda dilahirkan oleh seorang ibu bukan bapak. Karena secara terus menerus anda memperhatikan dan berulang kali melakukan observasi melihat kejadian para ibu- ibu melahirkan seorang anak bukan dari kakek… .menurut John locke bahwa segala sesuatu dapat diketahui melalui jika sesuatu itu dapat terindra. Jadi sebagai pengetahuannya melalui indra sebagai alatnya. Maka sesuatu yang bersifat non materi seperti surga dan neraka malaikat dan Tuhan itu bukanlah pengetahuan tetapi hanya manusia sajalah yang mengadakan keberadaanya sehingga bukan Tuhan yang menciptakan manusia tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Jadi menurut teori ini Sebuah pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran, ketikan pengetahuan tersebut dapat inderawi oleh manusia
Ketiga, Berbeda dengan empiris bahwa pengenalan terhadap pengetahuan itu sejatinya dari rasio sedangkan pengetahuan melalui indra merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur seperti halnya tongkat yang lurus masuk kedalam air maka akan terlihal melengkung. Jika empiris mendapatkan pengetahuan melalui alam materi sebagai objek empirisnya sedangkan rasional mengajarkan pengetahuanya melalui proses berpikir dengal alatnya adalah kaidah kaidah berpikir logis atau logika.
Menurut teori rasionalis ada 2 sumber bagi konsepsi pengetahuan, yaitu :
• Penginderaan (sensasi), misalnya kita mengkonsepsikan tentang panas, cahaya, rasa dan suara karena penginderaan kita terhadap semua itu.
• Fitrah, dalam arti bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari penginderaan, tetapi ia sudah ada dalam bentuk fitrah (menurut Rene Descartes dan plato itulah yang disebut ide)
Indera menurut teori ini, adalah sumber pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan sederhana, tetapi ia bukan satu-satunya sumber dari pengetahuan melainkan juga ada fitrah yang mendorong munculnya sekumpulan konsepsi dalam akal (alam ide). Alasan yang mengharuskan kaum rasionalis menganut teori tersebut adalah dalam menjelaskan konsepsi-konsepsi manusia karena mereka tidak mendapatkan alasan munculnya sejumlah gagasan dan konsepsi dari indera karena ia bukan konsepsi inderawi maka ia harus digali secara esensial dengan pendekatan fitrahi. Jadi Doktrin ini Sebuah pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran, ketikan pengetahuan tersebut dapat diterima oleh akal melalui proses fitrahwi manusia.
Keempat, Jika kita bukan rasionalis, bukan berarti kita empiris. Begitupun sebaliknya, jika kita bukan empiris, bukan berarti kita rasionalis. Hadir pendapat yang merupakan penengah antara keduanya dari Muhammad Baqr as-Sadr yang menyatakan bahwa pengetahuan dibagi atas 2 tahap. Tahap pertama adalah pengetahuan yang didapat melalui indera. Sementara tahap kedua adalah pengetahuan yang didapat melalui proses abstraksi akal atas apa yang diperoleh indera. Itulah mengapa Aristoteles mengatakan kehilangan satu indera, maka hilang pula segala pengetahuan yang dapat diperoleh dari indera tersebut. Teori ini secara umum, adalah teori para filosof muslim. Ia terangkum dalam pembagian konsepsi-konsepsi mental menjadi 2 bagian, yaitu konsepsi primer dan konsepsi sekunder. Konsep ini adalah dasar konseptual bagi akal manusia. Ini lahir dari proses inderawi secara langsung terhadap kandungannya. Misalnya kita mengkonsepsikan panas, karena kita mempersepsikannya dengan indera peraba atau kita mengkonsepsikan warna karena kita mempersepsikannya dengan indera penglihatan dan lain sebagainya. Persepsi indera terhadap itu semua adalah sebab pengkonsepsiannya dan sebab adanya ide tentangnya di alam akal manusia. Dari ide-ide itu, terbentuklah kaidah pertama (primer) bagi konsepsi. Dan berdasarkan kaidah itu, akal memunculkan konsepsi-konsepsi sekunder (turunan). Jadi menurut doktrin ini bahwa Sebuah pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran, ketikan adanya korelasi objek nilai pengetahuan (realitas) melalui proses inderawi dan pengetahuan fitrahwi manusia.
Dari keempat cara itu pada dasarnya ada realitas interaksi antara subjek dan objek yang ingin diketahui dengan cara berpartisipasi aktif antara subjek yang ingin mengetahui dan objek sebagai yang ingin diketahui dalam hal ini subjek sebagai individu (manusia) yang memiliki kemampuan bepikirnya dengan objek sebagai sesuatu yang ingin diketahuinya yang melibatkan unsure represntasi tetap dan tak terlukiskan serta unsure penafsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran, unsure konsep disebut unsure formal sedangkan unsure tetap disebut unsure material atau isi (Maurice Mandelbaum)

Bagaimana Penilaiannya ?
Sebelum meneruskan tulisan ini sejenak tertahan menyempatkan terlebuih dahulu untuk mendengarkan lagu cita-citata “sakitnya tuh disini (sambil menunjuk ke dada)” yang muncul di layar tv karena memang lagu ini sedang populer katanya menurut versi Ibu Tiani Pasca sarjana PE uniku. “sakitnya tuh disini (sambil menunjuk ke dada)” itu menunjukan kondisi yang berhubungan dengan perasaan yang memang tidak memiliki bentuk tidak berwujud atau non materi tetapi keberadaan rasa sakitya itu bisa dirasakan. Begitupun dengan gembiranya setelah bernyanyi bersama pa pupu, tinggi rendah panjang pendeknya suara nada dan itu tidak memiliki bentuk yang tidak bisa kita ketahui wujudnya secara material akan tetapi ini bisa diketahui melalui gambaran alam akal.
Lain halnya ketika pa samsi saat belajar dikelas tertidur pulas bermimpi bertemu dengan seorang bidadari yang sedang mandi di kali mengambil selendangnya yang tertinggal lalu bidadarinya pergi menunggang kuda terbang sambil pa samsi berteriak ini selendangnya… eh ternyata samping bu Ilah yang dipengangnya… (saat terbangun). dalam cerita mimpinya itu seperti terlihat ada bentuk namun tidak memiliki materi ternyata hanyalah sebuah khayalan mimpi belaka ini berada ini terlihat dalam gambaran alam Mitsal atau Khayal. Sedangkan keberadaan samping bu ilah yang di pegang pa samsi itu adalah bukti nyata berwujud, berbentuk dan tersusun dari materi sama halnya ketika melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput dihalaman kita sendiri.. jadi keberadaan samping bu ilah dan rumput tetangga itu terlihat berada dalam gambaran alam materi.
Jadi perasaan rasa sakit gembira tinggi rendah panjang pendek itu dikeluarkan dalam persepsi akal, sedangkan keberadaan bidadari yang turun dari langit, malaikat, jin, hantu itu melalui persepsi khayal dan keberadaan adanya samping, rumput tetangga itu melalui persespsi indrawi. Ketiga alam itu dikeluarkan melalui pendapatnya ibnu Arabi yaitu alam akal, alam khayal, dan alam materi.
Dari ketiga alam itu dengan persepsinya memunculkan konsepsi akal, khayal dan material. Dari konsepsi atau ide yang ada dalam akal akan melahirkan ilmu. Konsep berasal dari bahasa latin yang artinya tangkapan sedangkan ide berasal dari bahasa yunani yaitu eidos berarti gambaran. Jadi segala sesuatu yang telah tergambar atau terkonsepsi dalam akal disebut sebagai ilmu. Ilmu kemudian terbagi atas 2; yaitu ilmu yang belum teryakini (terhukumi benar-salahnya) yang masih sebatas konsep dan ilmu yang telah teryakini. Konsepsi atau ilmu yang masih sebatas konsep ini adalah ilmu yang belum terhukumi atau belum dapat diyakini benar-salahnya. Konsepsi kemudian terbagi lagi atas;
1) Konsepsi Tunggal seperti meja, hitam , Tuhan, ghaib dan lainnya. Konsepsi tunggal terbagi lagi atas
a) konsepsi tunggal konkrit yaitu konsepsi tunggal yang dapat diinderai seperti meja, hitam. Sementara konsepsi yang lainnya adalah
b) konsepsi tunggal abstrak yang tidak dapat diinderai seperti Tuhan, ghaib.
2) Konsepsi Majemuk, adalah gabungan antara konsepsi-konsepsi tunggal. Misalnya; meja-hitam, Tuhan-ghaib dan lainnya. Konsepsi majemuk juga terbagi atas
a) konsepsi majemuk konkrit dan
b) konsepsi majemuk abstrak.
Konsepsi adalah gagasan-gagasan yang belum dapat dihukumi benar-salahnya seperti gagasan tentang meja, hitam, Tuhan, Ghaib, meja-hitam, Tuhan-ghaib. Sementara keyakinan (assent) adalah gagasan-gagasan yang telah dihukumi benar-salahnya dan mustahil mengalami keterbalikan . Jadi, keyakinan adalah penilaian kita atas benar-salahnya sesuatu. Yang mengaku yakin tapi tidak mengetahui apa yang ia yakini disebut fasik. Itu karena ia meyakini sesuatu yang masih berupa konsep. Keyakinan dapat hadir jika kita mengetahui sesuatu yang kita yakini tersebut. Yakin akan salah atau benarnya sesuatu. Lalu, bagaimana membuktikan bahwa keyakinan yang satu benar sementara keyakinan yang lain salah. Kembalikan pada landasan penilaian kita terhadap segala sesuatu itu. Ada beberapa landasan berpikir dalam menilai kebenaran terhadap segala sesuatu itu diantaranya :
pertama, Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005). Pengalaman merupakan landasan penilaian manusia terhadap segala sesuatu. Tidak mungkin bisa menilai apabila belum ada pengalaman terhadap segala sesuatu walaupun sesuatu itu sangatlah jelas. Jadi untuk mencapai kebenaran yang universal itu asal pengetahuannya dari pengalaman partikular yaitu experimen dan observasi

Besi dipanaskan akan memuai
A                           B
Almunium dipanaskan akan memuai
A                           B
Tembaga dipanaskan akan memuai
A                           B
Alumunium, besi, tembaga adalah logam
A                                                          C
jadi semua logam dipanaskan akan memuai
C                                          =                  B

Ada 3 macam penalaran Induktif :
1. Generalisasi Merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada.
Dibagi menjadi 2 :
1) Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif
Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh :
– Sensus Penduduk.
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, baja memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.
2) Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif
Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Contoh :
Setelah kita menyelidiki sebagian mahasiswa pascasarjana PE uniku bahwa mereka adalah senang BBM-an untuk berkomunikasi, kemudian kita simpulkan bahwa mahasiswa pascasarjana uniku adalah mahasiswa yang suka main BBm-an.
2. Analogi Merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Pada analogi biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.
Tujuan dari analogi :
• Meramalkan kesamaan.
• Mengelompokkan klasifikasi.
• Menyingkapkan kekeliruan.
Contoh :
Manusia adalah Ciptaan Tuhan
Manusia diberikan tugas Sebagai Pemimpin
Pa Mukson adalah Ciptaan Tuhan
Jadi Pa Mukson Diberikan tugas sebagai pemimpin
3. Kausal Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab-akibat.
Terdiri dari 3 pola, yaitu :
a) Sebab ke akibat = Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kesimpulan sebagai efek.
Contoh : Karena terjatuh di tangga, Bu ririn harus beristirahat selama 6 bulan.
b) Akibat ke sebab = Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kejadian yang dianggap penyebabnya.
Contoh : Tangannya pa ahmad bergetar karena terinjak kakinya bu Rosinah .
c) Akibat ke akibat = Dari satu akibat ke akibat lainnya tanpa menyebutkan penyebabnya.
Contoh : Ibu devi sehabis kuliah pulang kerumah diantar ojek melihat tanahnya sudah becek, sehingga ibu devi beranggapan jemuran di rumah basah.
Dari hasil landasan berfikir induktif munculah pertanyaan kira-kira adakah awal dan akhir dari alam materi ?, bila ada siapakah yang menciptakannya? , pertanyaan ini bagi metode induksi absurd. Mengapa ?, karena ketika ia tercipta kita tidak, Sebab bagi metode ini alam materi bagaikan buku tua yang kehilangan bab awal dan akhir. Sebab bagi metode ini berkenaan dengan awal akhir alam materi tidak ada pengalaman manusia tentangnya.

Jadi konsekuensi logisnya adalah
• Menolak seluruh gagasan abstrak/metafisis sebagai pengetahuan objektif.
• Menolak seluruh asumsi akan adanya realitas abstrak/metafisis.
• Dengan demikian doktrin menolak realitas Teologi.
• Dengan demikian menolak agama & nilai-nilainya.
• Pendeknya semua realitas Abstrak/metafisis/ teologi adalah suatu ketahayyulan.
Munurut hukum empiris ini menyatakan bahwa observasi dan eksperimen atau pengalaman itu merupakan landasan penilaian atas segala sesuatu. Tetapi Jika dihadapkan dengan sesuatu yang bersifat niscaya sehingga tidak memerlukan pengalaman observasi atau eksperimen lagi seperti panasnya api dinginya es maka, jika jawabanya tidak memerlukan observasi atau eksperimen lagi maka hukum ini dianggap gugur dan bila dilakukan observasi atau eksperimen pun sudah niscaya kebenaranya sehingga ini pun dibenarkan tanpa pengalaman. Kemudian menurut hukum ini kita tidak dapat menilai sesuatu (proposisi) tanpa pengalaman kebenaran proposisi ini tidak dapat membedakan secara tegas mana proposisi mungkin & Mustahil. Sebab bagi Empirikal kedua proposisi itu sama yakni tak ada pengalaman.
Kedua, Deduktif berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Jenis-jenis Silogisme.
Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh :
Semua manusia pasti akan mati.
Pa Darma adalah manusia.
Pa darma pasti akan mati.

Hukum-hukum silohisme kategorial
a. Apabila dalam suatu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga.
b. Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga.
c. Dari sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
d. Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya.
e. Paling tidak salah satu dari perm penengah harus tertebar(mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah.
f. Term-prediket dalam kesimpulan harus konsisten dengan term prediket yang ada pada premisnya. Bila tidak menjadi salah.
g. Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda menjadi lain.
h. Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term subyek, term prediket dam term middle.
Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecedent atau term konsekuen premis mayornya
Contoh :
Jika tidak ada air, manusia akan kelaparan.
Makanan tidak ada.
Jadi, Manusia akan Kelaparan.
Ada 4 macam silogisme hipotetik :
1. Silogisme hipotetik yang premis mayornya mengakui antecedent.
2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui antecedent.
3. Silogisme hipotetik yang premis Mayornya mengingkari antecedent.
4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Hukum-hukum silogisme hipotetik:
1. Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
2. Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana.(tidak sah=salah).
3. Bila B terlaksana, maka A terlaksana.(tidak sah=salah).
4. Bila B tidak terlaksana, maka A tidak terlaksana
Silogisme Alternatif atau disjungtif adalah Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain. Silogisme disyungtif ada dua macam, yaitu silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas.
a. Silogisme Disyungtif Arti Sempit, Silogisme disyungtif yang mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh :
 Bu dede Berada di pasar atau di mall
 Bu dede ada di pasar
 jadi bu dede tidak ada di mall
b. Silogisme Disyungtif Arti Luas, Silogisme disyungtif yang mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Contoh :
 Pa yana di Kampus atau di Kos
 Ternyata Pa yana tidak di Kampus
 Jadi pa yana di Kos
Hukum-hukum silogisme Disyungtif:
a. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
b. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya sebagai berikut:
 Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar).
 Bila premis minor mengingkari salah satu alternatif, konklusinya tidak sah(salah)

Dilema adalah argumentasi, bentuknya merupakan campuran antara silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif. Hal ini terjadi karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disyungtif. Konklusinya, berupa proposisi disyungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat. Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan. Dalam debat, dilema dipergunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan.
Contoh:
jika pa syarif jujur istrinya akan membencinya.
Jika pa syarif tidak jujur bu ririn akan membencinya. Sedangkan pa syarif harus bersikap jujur atau tidak jujur. Berbuat jujur ataupun tidak jujur pa syarif akan tetap dibenci
Cara mengatasi dilema
1. Dengan meneliti kausalitas premis mayor.
2. Dengan meneliti alternatif yang dikemukakan.
3. Dengan kontra dilema.
4. Dengan memilih alternatif yang paling ringan
Dari cara berpikir deduktif ini sebagai landasan penilaianya maka jika dihadapkan dengan proposisi seperi ini :
 Tuhan ada karena ada alam semesta sebagai ciptaanya.
 Jika alam semesta sebagai ciptaanya tidak ada
 maka Tuhan tidak ada
bagaimana anda menilainya dari proposi diatas ?, jelas ini akan memberikan kerancuan kebenaranya karena secara kaidah formal logika memang sudah memenuhi syarat tetapi keliru secara material karena premis mayor tidak bersifat universal jadi Cara deduktif Ini tidak dapat membuktikan fakta secara nyata karena meniadakan pengalaman secara empiris.
Ketiga, skriptualis ini merupakan landasan berpikir yang bertumpu pada teks teks kitab suci yang dianggap sebagai wahyu yang ada secara internal agama dalam proses penilaianya terhadap segala sesuatu. Menurut mzhab ini menolak kebenaran yang berumber dari akliyah dan empirical sebagai landasan penilaianya sebab antara akal dan indra itu bersifat relative. Alasanya karena kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan tidak bersifat objektif atau Dzati, maka itu akal tidak dapat memahaminya dengan sempurna. Akal dapat memahaminya ketika telah datang teks tentang hakikat sesuatu itu. Sementara indra meperlihatkan pada kita tentang fenomena inderawi yang seringkali kontradiktif. Seperti Nasi padangnya bu dede terasa manis ketika sehat dan pahit ketika sakit. Tongkat pa vidi terlihat bengkok pada saat sebagian dalam air dan lurus ketika diangkat. Namun pertanyaanya apakah landasan penilaian yang bersumber dari kitab suci ini menjadi landasan penilaian yang mutlak ?. walaupun memang bahwa kitab suci itu memiliki kebenaran sebagai wahyu atau ciptaan tuhan tetapi keberadaanya bagian dari wujud eksternal manusia sehingga penerimaan terhadap kitab suci pun saling bertentangan karena memiliki versinya masing masing misalnya agama A memiliki kitab A dan agama bB memiliki kitab B itu tidak bisa kita samakan antara kitab A dan kitab B begitupun kitab B ke kitab A sebagai landasan penilaianya berbeda dengan akal sebagai wujud internal asli manusia. Sebagai catatan saja bahwa Kita tidak menolak hal-hal yang disumbangkan empirikal dan teks-teks suci. Tetapi yang kita tolak adalah bila empirikal dan teks menjadi landasan penilaian pokok manusia dalam segala hal. Adapun penting dan perlunya sumbangsih Empirikal dan teks adalah pada kebutuhan akal manusia akan premis-premis minor dalam sistem deduksi/silogismenya.
Keempat, Metafisika. menurut Spinoza (1632-1677) Metafisika modern biasanya dikatakan dimulai oleh Descartes (1596-1650). Metodenya untuk sampai kepada kepastian sempurna lewat deduksi metematis, sah untuk diterima. Akan tetapi, halnya tidak sesederhana itu. Metafisika mempunyai jalur yang panjang sejak yunani, melintasi abad pertengahan, barulah kepada Descartes. Oleh karena itu, kita tidak usah heran menemukan bahwa konsep sentral dalam metafisika Descartes adalah substansi dan definisi, yang sesungguhnya sudah ada pada Aristoteles. Sebagaimana Aristoteles, ia pun berpendapat bahwa sesuatu untuk ada tidak memerlukan yang lain (bila adanya karena yang lain, berarti substansinya kurang meyakinkan). Leibniz (1646-1716) sama memusatkan perhatianya pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab, sementara substansi pada Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Penuntun prinsip filsafat Leibniz ialah “prinsip akal yang mencukupi”, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyain alasan”. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat Leibniz. Sementara Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, Leibniz berpendapat bahwa substansi itu banyak. Ia menyebut substansi-substansi itu monad. Setiap monad berbeda satu dengan yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah pencipta monad-monad itu.
Dalam doktrin metafisika ini menyatakan Prinsip keNiscayaan dan rasional (Sudah Pasti dan Masuk Akal ) merupakan Landasan penilaian manusia terhadap segala sesuatu. Prinsip ini dikatakan Niscaya Lagi Rasional lantaran Ia merupakan watak dasar segala realitas. Prinsip ini dikatakan Niscaya Lagi Rasional lantaran Ia merupakan watak Wujud itu sendiri. Maka secara implementasi diwujudkan dalam aspek teoritis dapat digunakan manusia pada saat sudah memenuhi kecukupan pada akal ( Balig atau waras ) sementara dari aspek praktisnya dapat digunakan oleh semua binatang dan manusia misalnya binatang bisa membedakan antara api dan air, bayi bisa membedakan lapar dan kenyang. Menurut doktrin ini penilaian terhadap segala sesuatu itu ada yang berdasarkan tanpa proses berpikir dan ada yang harus melalui proses berpikir seperti misalnya penilaian kita bahwa segi tiga itu tidak sama dengan segi empat itu benar. Atau segitiga itu sama dengan segitiga itu salah. Dalam proposisi ini tidak didasarkan pada proses berfikir berbeda dengan sudut segi tiga itu adalah 180’ atau atom dapat dibuat menjadi bom ini harus melalui proses berpikir dulu maka konsekuensi logis hukum metafisika ini adalah
1. Prinsip Non Kontradiksi Sesuatu tidak sama dengan bukan sesuatu itu. (S≠ -S)
2. Prinsip keselarasan Sesuatu itu hanya sama dengan dirinya sendiri. (S=S)
3. Prinsip Keabadian Sesuatu tidak mungkin menjadi bukan dirinya. (S≠>-S)
4. Prinsip Kausalitas Setiap akibat butuh sebab untuk eksis. (A S)
Sebagai contoh saja penilaian terhadap sesuatu

Benang merah Filsafat dan agama
St Anselm seorang teolog berkebangsaan italia yang tersohor setelah merumuskan argument ontology tentang eksistensi Tuhan, menulis dalam risalah filsafatnya yang berjudul “proslogion” mengungkapkan pernyataannya “Saya beriman supaya bisa megetahui”. Jika kita balikan pernyataan itu maka jika saya tidak beriman maka saya tidak mengetahui dan jika saya mengetahui maka saya beriman. Pernyataan itu menandakan bahwa tidak bisa kita pungkiri keimanan agama adalah sebagai pemicu yang kuat untuk melakukan penelitian dan pengkajian yang mendalam terhadap doctrinal agama sebagai sumber inspirasinya berbagai ilmu dan pengetahuan. Jadi sinergitas akal ini menjadi bagian terpenting dalam mengklarifikasi keyakinan dan keimanan sebagai subtansi dari pada agama. Keyakinan dan keimanan agama sebagai puncaknya adalah terhadap eksistensi tuhan sementara untuk mengetahui ekistensi tuhan hanya dapat dibuktikan secara logis dengan menggunakan kaidah kaidah akal fikiran dalam hal ini filsafat dan bukan dengan perantara ajaran agama itu sendiri. Walaupun agama dan akal sebagai wujud dari ciptaan Tuhan tapi karena wujud akal sendiri secara internal ada pada semua manusia sementara keberadaan ajaran agama yang bersifat eksternal itu tidak dapat diterima oleh semua manusia.
Dengan demikian melalui lintasan akalah yang menjadi argumentative dan dalil atas eksistesinya Tuhan bukan agama. Kalau belum ada keyakinan yang benar lantas apa arti dari sebuah agama untuk mempercayai eksistensi Tuhan semenatara untuk mencapai keyakinan yang benar memerlukan landasan penilaian yang benar pula dan itu ada dalam kaidah berfikir ( filsafat ) kalau tidak menggunakan landasan berpikir yang benar bisa saja diasumsikan bahwa yang benar itu adalah salah dan yang salahpun bisa saja benar..
Tidak dipungkiri memang kelaziman agama itu memulainya dari keyakinan, sedangkan filsafat awalnya dari mempertanyakan sesuatu. Mahmud subhi mengatakan bahwa agama mulai dari keyakinan yang kemudian mencari argumentative untuk memeperkuat keyakinannya itu sedangkan filsafat berawal dari mencari argumentasi dan bukti yang kuat dan kemudian timbulah keyakinan. Agama selalu berhubungan dengan hati sementara filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang. Seorang agamawan itu biasanya selalu mempertahankan agamanya habis habisan karena sudah mengikatkan dirinya kepada agamanya sementara seorang filosof bersifat lunak dan sanggup meninggalkan pendirianya jika ternyata pendapatnya keliru. Maka seorang agamawan jika ingin meneliti agamanya harus menyadari posisinya pada waktu meneliti agama untuk menghindari banyaknya unsure subjektif yang muncul dalam pemikiran agamawan. Sementara seorang filosofpun harus menyadari bahwa sebagai pemicu kajianya adalah pencarian yang didorong oleh agama. Jadi antara filsafat dan agama adalah sebagai jalan kebijaksanaan dan hikmah menuju keselamatan, filsafat sebagai pengetahuanya dan agama sebagai pengabdianya.

Daftar Pustaka :

https://ayahsafira.wordpress.com/2013/07/02/logika-sederhana-untuk-membuktikan-ke-esa-an-tuhan/

http://www.ibrahimamini.com/id/node/2105

http://maulana-ikbar.blogspot.com/2012/05/makalah-filsafat-rasionalisme.html

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/21/filsafat-plato/

http://filsafat.kompasiana.com/2011/08/09/perjalanan-filsafatku-sumber-pokok-pengetahuan-386661.html

http://filsafat.kompasiana.com/2014/05/11/relevansi-keyakinan-iman-dan-pengetahuan-ilmu-652416.html

https://www.academia.edu/1887409/Relasi_Agama_dan_Filsafat_Menurut_Ibnu_Rusyd

http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/articles/Philosophy_and_gratitude_library/relasi_agama_filsafat/001.html

http://www.slideshare.net/BudiawanDwiSaputraDanial/1-epistemologi-selesai

http://www.pbhmi.or.id/media.php?module=home

e-books ; filsafat Ibnu Sina

One thought on “Benang Merah Filsafat vs Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s